Sejarah Partangiangan Nababan

SEJARAH AWAL
PARTANGIANGAN BORSAK MANGATASI NABABAN DOHOT BORUNA
KAMIS, 13 OKTOBER 1955
DI SIBORONGBORONG

Kartu Anggota Pengurus Partangiangan 13 Oktober 1955

Pada suatu hari pekan (onan) di Siborongborong (Onan Parsingguran), yang diselenggarakan tiap hari Selasa, pada awal bulan Maret 1955, beberapa orang penatua keluarga Nababan kebetulan bertemu di tempat berjualan (TOKO) Bapak St Theophulus Nababan (pedagang keperluan pertanian: pupuk, benih dan sebagainya) yang bergelar nama panggilan SIJABU-JABU, bersama-sama Mantri Petrus Nababan (mantri di Rumah Sakit Butar dan Toko Obat Campuran Siborongborong), Kampung Salmon Nababan (kepala kampung Lumbantongatonga) dan yang lainnya. Mereka membicarakan berbagai hal dari pertanian, usaha-usaha, kekeluargaan dan kemajuan pada masa kemerdekaan ini. Mereka menelusuri kemajuan yang dicapai keturunan Nababan pada waktu lalu, serta mencoba merenungkan masa depan keturunan Nababan pada waktu yang akan datang. Mereka merasa sedih melihat penghidupan keluarga Nababan di BONA PASOGIT, yang dengan bermandi keringat bekerja tetapi selalu berada dalam taraf hidup yang rendah (miskin).Mereka membandingkan dengan keluarga keturunan TOGA SIHOMBING lainnya, hahadoli Silaban, hahadoli Lumbantoruan dan anggidoli Hutasoit, demikian juga terhadap keturunan/keluarga-keluarga marga lain di Humbang, terutama sekitar Siborong-borong. Semua mereka bertanya-tanya dalam hati, mengapa keadaan keluarga keturunan BORSAK MANGATASI ketinggalan dari keturunan marga-marga lain?. Apakah usaha-usaha yang harus dilaksanakan, agar KETURUNAN BORSAK MANGATASI dapat mengikuti haha-anggina dan marga-marga lain?. Mereka merenungkan dan melihat:

1. HAMAJUON :
a. MARGA SILABAN: Arsitek F.Silaban
b. MARGA LUMBANTORUAN: drh. F. Sihombing, Ds.T.S.Sihombing, Bupati Julianus Sihombing
c. MARGA HUTASOAIT: Ephorus Pdt. Dr.Justin Sihombing Hutasoit, Sekretaris Jenderal Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Marxinius Hutasoit
d. MARGA NABABAN belum mempunyai keturunan yang berpendidikan seperti yang telah dicapai haha-anggi tersebut di atas. Yang diketahui seorang Pendeta, Pdt Markadim Nababan, perawat/bidan, Nahum Nababan, Petrus Nababan, Nursia br Nababan, beberapa orang lulusan Sekolah Guru (Kweekschool Solo), yaitu Gr. Jonathan.L. Nababan dan Gr Partabas W.J.Nababan: Schoolopziener/ Penilik Sekolah Toga Mulia Sihombing, beberapa orang lulusan Guru A yaitu Gr Partabas W.J. Nababan, Gr Abidan Nababan dan Gr Asta Nababan. Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta, yaitu Soritua A.E. Nababan dan Soaduon Nababan sekolah pendeta di P.Siantar, Ninggor Jati Nababan, seorang lagi mahasiswa di PTPG di Bandung, Willem Nababan; beberapa orang pelajar SMA dan setingkat SMA.
2. HAGABEON: Dalam jumlah jiwa keturunaan Nababan  jauh  berbeda dari jumlah jiwa keturunanan Lumbantoruan dan marga lain.
3. HASADAON : Amat menyedihkan, karena sukar diperoleh kesatuan pikiran dan kesepakatan di kalangan keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna. di zaman sekarang sering terjadi perselisihan di kalangan keluarga Nababan sesamanya, dapat kita lihat dalam Pemilihan Kepala Desa/pemilihan legislatif/pilkada selalu beda pendapat  bahkan sampai di meja hijau/pengadilan.

4. HASANGAPON : Masih sedikit yang bekerja di Pemetintahan dan belum ada marga Nababan yang menduduki jabatan sampai tahun 1955.

5. HAMORAON : Keluarga Nababan jauh terbelakang dibandingkan dengan haha-anggi dan keturunan marga-marga lain. Tidak ada seorang pun yang dapat/layak disebut PENGUSAHA atau PEDAGANG. Pada umumnya keluarga Nababan termasuk dalam kategori miskin.
Pembicaraan mereka ini amat berkesan dalam hati masing-masing, sehingga masing-masing membicarakannya kepada isteri dan keluarga-keluarga Nababan yang berjumpa dengan mereka, baik di kampung maupun di warung kopi atau dalam perjalanan atau pesta adat bahkan juga di gedung Gereja, sebelum atau sesudah kebaktian Minggu atau sermon-sermon. Semua mereka saling bertanya, apakah yang menyebabkan keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna demikian ketinggalan dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain?.
Sebagian orang-orang tua itu menelusuri riwayat hidup nenek moyang, karena mereka menyadari bahwa Tuhan Allah mungkin membalaskan perbuatan dan kelakuan jelek nenek moyang kepada keturunannya seperti tertulis dalam Keluaran 20:5,: ‘SEBAB AKU, TUHAN, ALLAHMU, ADALAH ALLAH YANG CEMBURU, YANG MEMBALASKAN KESALAHAN BAPA KEPADA ANAK-ANAKNYA, KEPADA KETURUNAN YANG KETIGA DAN KEEMPAT DARI ORANG-ORNAG YANG MEMBECI AKU”. Orang-orang tua mengaku bahwa tidak ada seorangpun yang suci/kudus di hadapan ALLAH, dan tiap orang adalah berdosa. Orang-orang tua beberapa kali bertemu di Toko SIJABU-JABU di Siborong-borong dan selalu bertanya-tanya: Apakah yang sebaiknya dilakukan, agar keturunan Nababan mendapat berkat dari Tuhan Allah, sehingga dapat menyusul kemauan-kemajuan keturunan marga-marga lain?. Mereka juga menyadari bahwa nenek moyang Nababan termasuk orang yang belakang menerima INJIL ( BERITA KESUKAAN) dibandingkan dengan nenek moyang haha-anggi lainnya, dan tidak ada Huria yang dinamai Huria Sabungan (kedudukan Pendeta Resosrt) di kampung/tanah Nababan. Hal ini pun turut merisaukan hati mereka. Mereka menduga bahwa keadaan keturunan Nababan yang menyedihkan ini adalah juga akibat dari sikap nenek moyang yang tidak segera menerima INJIL dan memberikan tempat untuk GEREJA TUHAN. Dalam beberapa kali pertemuan yang mereka adakan, diundang beberapa orang tua lain dari keluarga/keturunan Nababan, yang dipandang dapat memberi pandangan/pendapat/pikiran dalam mengatasi/memecahkan masalah yang mencekam dalam hati dan pikiran mereka, antara lain Gr.Partabas, W.J.Nababan, yang ketika itu sebagai guru di SMP/SGB HKBP Seminarium Sipoholon Tarutung.
Memperhatikan hal-hal di atas, orang-orang tua itu berunding dan sepakat, bahwa seluruh keturunan Nababan perlu segera mengadakan PARTANGIANGAN:\ Untuk :

  1. Memohon kepada TUHAN ALLAH melalui TUHAN YESUS KRISTUS, agar segala dosa nenek moyang NABABAN jangan dibalas/diperhitungkan kepada keturunan Nababan; dan agar segala dosa, keturunan Nababan diampuni TUHAN ALLAH dalam penebusan dan penyelamatan TUHAN YESUS KRISTUS.
  2. Memohon kepada TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG, agar memberkati keturunan Nababan selalu berada dalam keadaan sehat dan bertambah-tambah jumlahnya, yang muda lekas besar dan diberi usia yang panjang kepda semua.
  3. Memohon kepada TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG, agar menganugrahkan kepada keturunan Nababan pikiran dan hati yang baik, supaya selalu sehati sepikir dalam segala usaha yang baik (sesuai dengan kehendak Tuhan), menghindari perselisihan, membina dan memelihara kasih sayang sesama keturunan Nababan dan terhadap sesama bangsa Indonesia dan sesama manusia.
  4. Memohon kepada TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG, agar menganugrahkan kepada keturunan Nababan kepandaian, kearifan dan Hikmat dari TUHAN ALLAH, dan kemajuan dalam iman, pengetahuan, pekerjaan, usaha dan jabatan.
  5. Memohon kepada TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG, agar menganugrahkan kepada keturunan Nababan pekerjaan dan penghasilan yang baik dan berlimpah; dan agar semua keturunan Nababan berusaha memakai anugrah TUHAN yang diterimanya sesuai dengan kehendak TUHAN ALLAH, menjadi puji dan kemuliaan bagi TUHAN dalam YESUS KRISTUS.

Mereka sepakat menyebarkan pikiran, keinginan dan maksud itu kepada keluarga-keluarga Borsak Mangatasi dalam setiap kesempatan dan tempat. Tiap orang marga Nababan yang mendengar pemikiran maksud ini, menyambut dengan hati yang gembira dan penuh pengharapan. Rupanya setiap keturunan Borsak Mangatasi/Nababan, selalu diliputi pikiran yang sama dalam merenungkan ketinggalan keturunan Nababan. Sambutan baik berdatangan dari segala penjuru dan semua menginginkan agar PARTANGIANGAN itu segara diadakan. Orang-orang tua membentuk Panitia yang diketuai oleh St. Theophulus Nababan, gelar SIJABUJABU, dan setelah mempertimbangkan secara matang diputuskan bahwa:
PARTANGIANGAN MANGIDO PASU-PASU POMPARAN NI BORSAK MANGATASI NABABAN dohot BORUNA
DIADAKAN PADA HARI KAMIS, 13 OKTOBER 1955
BERTEMPAT DI ONAN SIBORONGBORONG
Panitia berdoa dan bekerja dengan sungguh-sungguh mencari dana dan mencari informasi tentang nama dan alamat keluarga-keluarga keturunan Borsak Mangatasi dohot Boruna di segala penjuru tanah air Indonesia. Panitia segera mengirimkan informasi/pemberitahuan dan undangan kepada keluarga-keluarga ke keturunan Nababan dohot Boruna, yang nama dan alamatnya sudah diketahui Panitia.
TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG memberkati segala usaha Panitia, sehingga pada hari Kamis, tanggal 13 Oktober 1955, PARTANGIANGAN itu dapat diselenggarakan dengan baik, tertib, nyaman, penuh damai dan kemesraan serta kasih sayang: jauh berbeda dari suasana upacara pesta pada waktu-waktu sebelumnya. Banyak sekali keluarga keturunan Borsak Mangatasi daohot Boruna datang dan mengikuti upacara PARTANGIANGAN itu dengan khidmat dan dengan sepenuh hati. Semua peserta menunjukkan wajah yang ceria dan gembira dan penuh pengharapan akan kemurahan hati TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG melimpahkan berkat dan kasih sayangNYA atas seluruh keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna pada waktu-waktu yang akan datang.
Semua peserta PARTANGIANGAN seia sekata menetapkan bahwa pada tiap tanggal 13 Oktober semua keluarga keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna mengadakan PARTANGIANGAN BERSAMA di kota-kota/ kampung-kampung berdoa kepada TUHAN YANG MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG melalaui YESUS KRISTUS, BERSYUKUR, dan memohon kemurahan TUHAN melimpahkan berkat dan anugrahNYA atas seluruh keluarga/orang keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna termasuk Bere) pada waktu-waktu yang akan datang. Ketetapan dan anjuran ini disampaikan kepada semua keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna secara estafet, sehingga semua mengetahui dan mengadakan PARTANGIANGAN BERSAMA. Dianjurkan juga kepada tiap orang/keluarga mengadakan sendiri atau dalam keluarga sendiri, jika dia/keluarganya bertempat tinggal jauh dari keluaraga keturunan Borsak Mangatasi Nababan dohot Boruna yang lain.

Pomparan ni Borsak Mangatasi Nababan ima:
Asa Mangula di Bagasan ngolu na MAR TUHAN
Asa Unang be Adong namandok Adong NABABAN DOLOK dohot NABABAN TORUAN
Asa unang adong namangasahon GOGO, HUASO, SINADONGAN, LATE, TEAL ,ELAT nang HOSOM
Asa MARSIURUPAN jala MARSITOGU-TOGUAN
Asa Martutur hombar tu Taromboi.
Di Taon 1980 di Patupa Ulang Taon Partangiangan di Si Borong-borong, ima Jubeleum na 25 taonhon, jala di pesanhon asa MARHASEREPON, MARTORUK NI ROHA, BURJU MARTANGIANG jala MARROHA MAULIATE tu DEBATA NABASAI. Dibilangi do disi Torop ni Nababan, Boru, Bere namartitel nang na marsingkola na timbo, nungnga be torop nian, jala di Taon 1991 di patupa do PARRIAAN ni NABABAN, BORU, BERE, IBABERE di Jetun Silangit si Borong-borong ia Hasil ni
Parriaan i ima:
Asa Marojahan di Poda Partangiangan taon 1955 na salpu sude Rumang ni Parsadaan ni NABABAN
Patupa Program Jangka Pendek, menengah/panjang di sude Panggulmiton ni Parngoluan di Hamajuon ni Ulaon I Pangurus Harian, Pusat Daerah di sandok Portibion
Pahantushon Tarombo / Paradaton
Ditolopi do LOGO ni NABABAN songon on :
LOGO PARTANGIANGAN BORSAK MANGATASI

Hatorangan ni Logo i songononma :
1 Pohon Baringin : Sada do Nababan
1 Bintang : Mar Tuhan
10 Laras Sinar : Bulan 10 (Oktober)
13 Akar Tunjang : Ari 13 (Tanggal 13)
2 Akar : Dua Anak ni Borsak Mangatasi ima Sandar Nagodang dohot Tuan Sirumonggur.
55 Gulungan Daun : Taon 1955.
4 Buhu di Batang Beringin : Opat Hali Anak Sasada ima : SIANTAR JULU, SIANTAR JAE, TUAN SISOGO-SOGO dohot OMPU DOMI RAJA
Di ihot Segitiga : Dalihan Natolu

PARBUE NI PARTANGIANGAN 13 OKTOBER 1955

Tuhan Yang Maha Pengasih mendegarkan dan mengabulkan permintaan para Penatua/nenek kita yang berdoa dengan sujud meminta berkat untuk kita semua keturuan pomparan Borsak Mangatasi Nababan Boru/Bere telah kita terima sekarang dengan rendah hati.  Dapat kita dilihat di Laman Silsilah Nababan di situs

hhtps://nababan.wordpress.com

Catatan : Tulisan ini kami sampaikan dengan harapan agar setiap Pomparan Ni Borsak Mangatasi Nababan, boru dan bere selalu mengingat pesan dari Partangiangan 13 Oktober  yang kita laksanakan setiap tahun. Kami juga minta maaf apabila isi dari tulisan ini ada yang kurang berkenaan.