Istilah Waktu Dalam Bahasa Batak

Oleh : Bungaran Simanjuntak

Sejak zaman dahulu orang batak sudah mengetahui perjalanan bulan dan bintang setiap harinya. Parhalaan Batak adalah cerminan pane nabolon hukum alam terhadap setiap manusia.

Apa yang akan terjadi besok, kelak menjadi apa anak yang baru lahirkan , bagaimana nasib seseorang, barang hilang serta langkah yang baik bagi orang Batak sudah merupakan kebiasaan pada zaman dahulu kala demikian halnya dalam mengadakan pesta ritual segalanya lebih dahulu membuka buku parhalaan (Buku Perbintangan).
Kembali kepada Mithologi Siboru Deakparujar bahwa saudara kembar dari debata Sorisohaliapan adalah Tuan Dihurmijati yang disebut juga Panenabolon. Panenabolon dalam buku ini disebut Hukum Alam, dengan tanda yaitu cahaya ufuk yang mulai nampak pada hari senja dan malam hari. Panenabolon menurut mithologi berdiam diri tiga-tiga bulan pada satu desa, setelah itu berpindah ke desa yang lain. Menurut pengetahuan modern, bahwa perpindahan itu adalah gambaran peredaran matahari, tiga bulan dari khatulistiwa ke utara, kemudian tiga bulan dari Utara ke khatulistiwa dan kemudian dari khatulistiwa tiga bulan ke selatan dan seterusnya tiga bulan juga kembali ke khatulistiwa. Lanjutkan membaca “Istilah Waktu Dalam Bahasa Batak”

Efek Letusan Toba Tak Seburuk Dugaan

Danau Toba adalah kaldera yang terbentuk akibat letusan raksasa 74.000 tahun lalu.

Letusan raksasa Gunung Toba yang terjadi 74.000 tahun lalu memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Perdebatan terutama berkisar tentang efek dari letusan gunung tersebut.

Studi terdahulu tentang Gunung Toba menyebutkan bahwa letusan 74.000 tahun yang lalu itu menyebabkan penggelapan langit dan menurunkan suhu bumi sebesar 10 derajat celsius selama setengah dekade. Antropolog pun mengatakan, letusan tersebut juga mempengaruhi proses evolusi manusia, menyebabkan fenomena yang disebut genetic bottleneck, suatu kondisi ketika populasi spesies tertentu terbunuh atau terhambat dalam bereproduksi. Lanjutkan membaca “Efek Letusan Toba Tak Seburuk Dugaan”

Objek Wisata Legenda Air Mata Putri Cantik boru Tinambunan

Jadi Milik Bersama Humbahas dan Pakpak Bharat

Objek wisata bersejarah legenda air mata boru Tinambunan di Delleng Simponen, tepatnya perbatasan Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) dan Kecamatan Sitali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, disepakati menjadi milik bersama kedua kabupaten bertetangga tersebut. Penetapan seiring dengan dilakukannya pendirian pilar tapal batas kedua kabupaten pada tanggal 18 Oktober lalu.
Kisah ini dinyatakan nyata. Apalagi bagi para keturunan marga Tinambunan yang ada di sekitaran Kecamatan Pakkat, Parlilitan dan Kabupaten Pakpak Bharat. Mengapa Demikian? Sebab, hingga kini, terdapat bagian peninggalan dari kisah percintaan yang berujung tragis ini. Lanjutkan membaca “Objek Wisata Legenda Air Mata Putri Cantik boru Tinambunan”

Lak-lak Tulisan Batak

Dikirim oleh : Darman P Nababan

Ini adalah sebagian kecil naskah (Pustaha Batak) yang disimpan di Museum Anthropology Logan (US) dan Museum Umberse di Bremen, Jerman. Naskah berusia ratusan tahun ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan, dan banyak yang sudah tidak terbaca lagi. Naskah ini ditulis …dalam aksara batak toba. Sebagian besar (90%) dari Pustaha ini sekarang berada di luar negeri ( Belanda, jerman, new zealand, US, dll). Sungguh miris memang, tapi patut disyukuri juga karena saya merasa mereka lebih bisa menjaga keutuhan Pustaha2 tersebut dan lebih dapat mengapresiasinya daripada bangsa Indonesia kita tercinta ini. Pustaha ini ditulis di kulit kayu yang disebut ” laklak”, mirip dengan kayu papyrus yang digunakan oleh orang Mesir 5000 tahun yang lalu. namun tidak semua pustaha Batak ditulis di laklak, ada juga yang ditulis di bambu dan di tulang hewan ( biasanya kerbau)

Roh Penghuni Pohon Marah

PAGARALAM – Sudah tiga hari seluruh penghuni Sekolah Menengah Pertama Negeri 02 Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, dilanda kepanikan. Semua berawal sejak Selasa (12/10/2010), ketika beberapa siswa di sekolah itu mengalami kesurupan secara bersamaan. Para guru mengira dengan memulangkan para siswa yang kesurupan, persoalan bisa segera selesai.

Nyatanya, kejadian serupa berulang pada Rabu (13/10/2010), bahkan keadaan jadi semakin gawat ketika Jumat (15/10/2010) jumlah siswa yang kesurupan bertambah. Siswa yang mengalami kesurupan menjalar ke mana-mana, tidak saja di lingkungan sekolah, tetapi sampai di angkutan umum. Lanjutkan membaca “Roh Penghuni Pohon Marah”

Peziarah asal Tapsel Terbanyak Kunjungi Situs Keramat di Barus

Barus – Selama bulan suci Ramadan 1431 H ini, situs-situs bersejarah yang dianggap keramat di Barus, banyak didatangi para peziarah, khususnya dari daerah Tabagsel. Para peziarah paling banyak dating dari Ponpes Mustofawijal Purba Baru Kabupaten Madina, Tapsel, Kota Padangsidimpuan, maupun dari daerah lainnya. Tujuan utama mereka adalah untuk berziarah dan melihat langsung keberadaan situs-situs yang ada di Barus ini.

Menurut para peziarah, Kecamatan Barus sebagai salah satu kota tua gerbang masuknya agama Islam ke nusantara, menyimpan banyak sejarah religius. Salah satunya adalah makam-makam tua para pembawa agama Islam ke Pantai Barat Sumatera Utara. Seperti Makam Syeh Rukunuddin di Bukit Mahligai di Desa Saek Dakka, dan Syeh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi, Desa Pananggahan, yang batu nisannya di berada di puncak bukit sekitar 1.200 meter dari permukaan laut. Untuk sampai ke puncak tersebut para peziarah harus menaiki sekitar 780 anak tangga. Kedua Syeh ini wafat pada tahun 440 dan 480 Hijriah. Angka itu diperoleh setelah menafsirkan tulisan pada nisannya. Lanjutkan membaca “Peziarah asal Tapsel Terbanyak Kunjungi Situs Keramat di Barus”

Situs Persinggahan Sisingamangaraja XII Tak Terawat

Doloksanggul – Sebuah situs buatan yang diyakini sebagai persinggahan Raja Sisingamangaraja XII di Dusun Dolok Nabolon, Desa Sipitu Huta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) kondisinya kini tidak terawat. Pasalnya, hampir di seluruh lokasi situs buatan ini, sudah dipenuhi rumput.

Amatan wartawan, Sabtu (14/8) di lokasi, tampak pagar dan bagian gua buatan situs ini, sudah dipenuhi rerumputan. Dalam situs ini, terdapat sebuah patung kuda dan gajah yang berada tepat di depan gua. Menurut salah seorang warga yang tinggal di dusun itu, Kamaluddin Lumban Gaol (56), kepada wartawan, Sabtu (14/8) mengatakan, beberapa tahun silam, situs tersebut dibangun dan diprakarsai oleh seseorang bermarga Simorangkir. Lanjutkan membaca “Situs Persinggahan Sisingamangaraja XII Tak Terawat”