Aek Sipitu Dai… Sumber Air dengan Tujuh Rasa Berbeda

’’BAGAIMANA rasanya?’’ tanya Pasogit Limbong kepada Jawa Pos (grup New Tapanuli). Setangkup air dari pancuran baru saja berpindah dari tangan ke mulut. Rasanya tak seperti air mineral pada umumnya. Terasa agak asam.

’’Rasanya memang bisa beda di lidah masing-masing orang,’’ kata Pasogit lagi.

Lanjutkan membaca “Aek Sipitu Dai… Sumber Air dengan Tujuh Rasa Berbeda”

Iklan

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional

Oleh: Hasan Sitorus.

Penulis Dosen Tetap di Universitas HKBP Nommensen dan Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan.

Kebangkitan nasional yang pertama sekali digagas oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo melalui organisasi Budi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 bertujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesa­daran bangsa untuk memajukan diri dibawah cengkeraman penjajah sekaligus menjadi perjuangan politik untuk Indonesia merdeka.

Sangat luar biasa, perjuangan organisasi sosial Budi Oetomo itu ternyata mam­­­­pu menggelorakan dan membangkitkan semangat persatuan bangsa Indonesia untuk melawan penjajah hingga mencapi titik klimaksnya pada tanggal 17 Agutus 1945, dimana bangsa Indonesia merdeka.

Setelah kita merdeka 72 tahun, apakah perjuangan Budi Oetomo itu masih me­lekat kuat sebagai jati diri bangsa kita sekarang ini ? Dengan kata lain, apakah kita masih benar-benar menjunjung tinggi nasionalisme, persatuan dan kesatuan untuk bangkit menjadi bangsa yang kuat, sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila ? Lanjutkan membaca “Memaknai Hari Kebangkitan Nasional”

Negara Taiwan Paling Diminati Mahasiswa Asal Sumatera Utara Untuk Studi Lanjut

Taiwan
Persatuan Pelajar Sumatera Utara – Taiwan

Penulis : Flemming Panggabean
Sumatera Utara merupakan suatu wilayah provinsi di Pulau Sumatera yang memiliki banyak sekali potensi sumber daya manusia yang cemerlang. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran dunia pendidikan dan keseriusan dari warga Sumatera Utara untuk mau terus belajar dan belajar. Bila dicermati dari segi minat terhadap pendidikan, warga Sumatera Utara sudah sangat dikenal dengan keseriusannya memberi perhatian khusus kepada anak-anaknya agar bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Lanjutkan membaca “Negara Taiwan Paling Diminati Mahasiswa Asal Sumatera Utara Untuk Studi Lanjut”

Rumah Pengasingan Sisingamangaraja Itu Runtuh Termakan Usia

Ternyata, di Kota Tarutung, ibukota Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), ada rumah pengasingan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. Bagaimana kondisinya kini?
Oleh : Alfredo Sihombing-Tarutung

RumahSetiap peringatan Hari Pahlawan 10 November, tentu teringat akan semboyan terkenal mantan Presiden RI Soekarno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau disingkat “Jasmerah”.

Dari Tanah Batak, ada salah satu nama pahlawan besar, yaitu Sisingamangaraja XII. Di Tarutung, ada bukti sejarah perjalanan perjuangannya, yaitu sebuah rumah eks pengasingan yang terletak di Jalan Raja Poltak, Kelurahan Hutatoruan V, Tarutung, tepatnya di depan Gereja HKBP Pearaja Tarutung.

“Bah, diingot hamu dope ate. (Wah, masih kalian ingatnya ya),” jawab Rubina Tambunan saat disambangi awak New Tapanuli (grup metrosiantar.com) di areal rumah bersejarah itu, kemarin. Lanjutkan membaca “Rumah Pengasingan Sisingamangaraja Itu Runtuh Termakan Usia”

Buku Baru Terbit

Judul : ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula (2015)

Penulis: Edward Simanungkalit

Ringkasan Isi:

edwardSetelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu, maka migrasi mulai dari Afrika ke kawasan Sundaland sejak 70.000 tahun lalu. Mereka menyusuri pesisir selatan India hingga tiba di Sundaland, sedang sebagian lagi terus ke Papua dan Australia. Selama 50.000 tahun Sundaland didiami oleh banyak manusia, sehingga mengundang perhatian ilmuwan dunia masa kini. Kemudian, sejak 20.000 tahun lalu banyak terjadi letusan gunung, gempa, dan banjir yang menyebabkan penghuni Sundaland ini berhamburan ke Asia. Mencairnya es pada zaman es akhir membuat permukaan laut naik hingga Sundaland tenggelam memisahkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil lainnya dari Malaka. Lanjutkan membaca “Buku Baru Terbit”

PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA

Oleh: Edward Simanungkalit *

3Di dalam mitologi penciptaan menurut buku: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak”, yang ditulis oleh W.M. Hutagalung (1926:1-32), diceritakan bahwa penghuni awal Sianjurmulamula merupakan keturunan dari penghuni langit ketujuh, Si Borudeak Parujar dan Raja Odapodap. Mereka turun dari langit ketujuh dan kawin di bumi dengan kampung awalnya ialah Sianjurmulamula. Setelah mereka memiliki keturunan Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia, para penghuni langit ketujuh suatu kali secara beramai-ramai turun melalui puncak Pusuk Buhit ke Sianjurmulamula. Setelah misi mereka selesai, maka di bawah pimpinan Mulajadi Nabolon berangkatlah mereka kembali naik ke langit ketujuh melalui Pusuk Buhit disertai Raja Odapodap dan si Borudeak Parujar. Sedang Debata Asiasi dan Raja Inggotpaung tinggal di Sianjurmulamula untuk mengurus Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia. Singkat ceritanya, mereka pun memiliki keturunan di Sianjurmulamula, dan Sianjurmulamula menjadi pusat awal persebaran manusia, karena dari sanalah manusia menyebar seluruh penjuru bumi. Lanjutkan membaca “PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA”

MENGHANTAR IBUNDA KE GERBANG SORGA

Oleh: Edward Simanungkalit

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24)
ke sorgaSuatu kali kedua orangtua penulis datang ke Jakarta pada bulan Juni 1995. Ketika pertama sekali bertemu dengan keduanya ada sesuatu yang berbeda pada wajah ibu yang terlihat agak lebih hitam. Itu membuat adik penulis menanyakannya kenapa sampai begitu. Dia menjawab tidak ada apa-apa sebabnya, karena biasa-biasa saja sehari-hari. Kami tertawa-tawa saja pada waktu itu. Kami biasa memanggil orangtua laki-laki dengan panggilan: “Bapak”, dan memanggil orangtua perempuan dengan panggilan: “Ibu”, karena kami pernah menetap di Sumatera Barat setelah pindah dari Kalimantan Timur, sehingga berpengaruh terhadap panggilan itu. Bapak kami bernama Wilman Simanungkalit (nomor 13) dan Ibu kami bernama Herna Saulina Nababan nomor 17 dari Lumbantongatonga, Butar.
Sesampainya di Jakarta, ibu mulai ada panas dan demam, sehingga adakalanya tidak dapat ikut jalan-jalan. Suatu kali penulis bawa bapak ke rumah paribannya, pariban dari bonaniari kami di Lumbanmotung, Butar. Ompung kami yang 6 generasi ke atas adalah kawin dengan boru Nababan yang dijadikan boru Nababan Saluhut di Lumbanmotung dan diberikan tanah untuk kampung buat ompung itu. Karena kami berada di tengah-tengah kampung Nababan, maka kami berulang-ulang kawin dengan boru Nababan terutama di sekitar kampung itu juga. Jadi, inanguda, pariban bapak itu, adalah keturunan dari bonaniari kami. Itu makanya, pariban bapak itu langsung mengundang bapak & ibu menghadiri pesta adat perkawinan borunya, karena ketepatan mereka akan berpesta adat perkawinan. Bapak & Ibu pun menghadiri pesta adat perkawinan itu dan mangulosi juga waktu itu. Lanjutkan membaca “MENGHANTAR IBUNDA KE GERBANG SORGA”