Negara Taiwan Paling Diminati Mahasiswa Asal Sumatera Utara Untuk Studi Lanjut

Taiwan
Persatuan Pelajar Sumatera Utara – Taiwan

Penulis : Flemming Panggabean
Sumatera Utara merupakan suatu wilayah provinsi di Pulau Sumatera yang memiliki banyak sekali potensi sumber daya manusia yang cemerlang. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran dunia pendidikan dan keseriusan dari warga Sumatera Utara untuk mau terus belajar dan belajar. Bila dicermati dari segi minat terhadap pendidikan, warga Sumatera Utara sudah sangat dikenal dengan keseriusannya memberi perhatian khusus kepada anak-anaknya agar bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Lanjutkan membaca “Negara Taiwan Paling Diminati Mahasiswa Asal Sumatera Utara Untuk Studi Lanjut”

Rumah Pengasingan Sisingamangaraja Itu Runtuh Termakan Usia

Ternyata, di Kota Tarutung, ibukota Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), ada rumah pengasingan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. Bagaimana kondisinya kini?
Oleh : Alfredo Sihombing-Tarutung

RumahSetiap peringatan Hari Pahlawan 10 November, tentu teringat akan semboyan terkenal mantan Presiden RI Soekarno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” atau disingkat “Jasmerah”.

Dari Tanah Batak, ada salah satu nama pahlawan besar, yaitu Sisingamangaraja XII. Di Tarutung, ada bukti sejarah perjalanan perjuangannya, yaitu sebuah rumah eks pengasingan yang terletak di Jalan Raja Poltak, Kelurahan Hutatoruan V, Tarutung, tepatnya di depan Gereja HKBP Pearaja Tarutung.

“Bah, diingot hamu dope ate. (Wah, masih kalian ingatnya ya),” jawab Rubina Tambunan saat disambangi awak New Tapanuli (grup metrosiantar.com) di areal rumah bersejarah itu, kemarin. Lanjutkan membaca “Rumah Pengasingan Sisingamangaraja Itu Runtuh Termakan Usia”

Buku Baru Terbit

Judul : ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula (2015)

Penulis: Edward Simanungkalit

Ringkasan Isi:

edwardSetelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu, maka migrasi mulai dari Afrika ke kawasan Sundaland sejak 70.000 tahun lalu. Mereka menyusuri pesisir selatan India hingga tiba di Sundaland, sedang sebagian lagi terus ke Papua dan Australia. Selama 50.000 tahun Sundaland didiami oleh banyak manusia, sehingga mengundang perhatian ilmuwan dunia masa kini. Kemudian, sejak 20.000 tahun lalu banyak terjadi letusan gunung, gempa, dan banjir yang menyebabkan penghuni Sundaland ini berhamburan ke Asia. Mencairnya es pada zaman es akhir membuat permukaan laut naik hingga Sundaland tenggelam memisahkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil lainnya dari Malaka. Lanjutkan membaca “Buku Baru Terbit”

PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA

Oleh: Edward Simanungkalit *

3Di dalam mitologi penciptaan menurut buku: “PUSTAHA BATAK: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak”, yang ditulis oleh W.M. Hutagalung (1926:1-32), diceritakan bahwa penghuni awal Sianjurmulamula merupakan keturunan dari penghuni langit ketujuh, Si Borudeak Parujar dan Raja Odapodap. Mereka turun dari langit ketujuh dan kawin di bumi dengan kampung awalnya ialah Sianjurmulamula. Setelah mereka memiliki keturunan Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia, para penghuni langit ketujuh suatu kali secara beramai-ramai turun melalui puncak Pusuk Buhit ke Sianjurmulamula. Setelah misi mereka selesai, maka di bawah pimpinan Mulajadi Nabolon berangkatlah mereka kembali naik ke langit ketujuh melalui Pusuk Buhit disertai Raja Odapodap dan si Borudeak Parujar. Sedang Debata Asiasi dan Raja Inggotpaung tinggal di Sianjurmulamula untuk mengurus Raja Ihatmanisia dan Boru Itammanisia. Singkat ceritanya, mereka pun memiliki keturunan di Sianjurmulamula, dan Sianjurmulamula menjadi pusat awal persebaran manusia, karena dari sanalah manusia menyebar seluruh penjuru bumi. Lanjutkan membaca “PUSUK BUHIT BUKAN GUNUNG LELUHUR ORANG TOBA”

MENGHANTAR IBUNDA KE GERBANG SORGA

Oleh: Edward Simanungkalit

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yohanes 5:24)
ke sorgaSuatu kali kedua orangtua penulis datang ke Jakarta pada bulan Juni 1995. Ketika pertama sekali bertemu dengan keduanya ada sesuatu yang berbeda pada wajah ibu yang terlihat agak lebih hitam. Itu membuat adik penulis menanyakannya kenapa sampai begitu. Dia menjawab tidak ada apa-apa sebabnya, karena biasa-biasa saja sehari-hari. Kami tertawa-tawa saja pada waktu itu. Kami biasa memanggil orangtua laki-laki dengan panggilan: “Bapak”, dan memanggil orangtua perempuan dengan panggilan: “Ibu”, karena kami pernah menetap di Sumatera Barat setelah pindah dari Kalimantan Timur, sehingga berpengaruh terhadap panggilan itu. Bapak kami bernama Wilman Simanungkalit (nomor 13) dan Ibu kami bernama Herna Saulina Nababan nomor 17 dari Lumbantongatonga, Butar.
Sesampainya di Jakarta, ibu mulai ada panas dan demam, sehingga adakalanya tidak dapat ikut jalan-jalan. Suatu kali penulis bawa bapak ke rumah paribannya, pariban dari bonaniari kami di Lumbanmotung, Butar. Ompung kami yang 6 generasi ke atas adalah kawin dengan boru Nababan yang dijadikan boru Nababan Saluhut di Lumbanmotung dan diberikan tanah untuk kampung buat ompung itu. Karena kami berada di tengah-tengah kampung Nababan, maka kami berulang-ulang kawin dengan boru Nababan terutama di sekitar kampung itu juga. Jadi, inanguda, pariban bapak itu, adalah keturunan dari bonaniari kami. Itu makanya, pariban bapak itu langsung mengundang bapak & ibu menghadiri pesta adat perkawinan borunya, karena ketepatan mereka akan berpesta adat perkawinan. Bapak & Ibu pun menghadiri pesta adat perkawinan itu dan mangulosi juga waktu itu. Lanjutkan membaca “MENGHANTAR IBUNDA KE GERBANG SORGA”

Sahala

Oleh : Edward Simanungkalit

Suatu kali di bulan April 2004, penulis mau berangkat dari Jakarta ke Medan dalam rangka membesuk orangtua yang sedang sakit. Setelah masuk boarding di bandara Soekarno-Hatta, pesawat yang akan penulis tumpangi ternyata didelay selama sejam. Kemudian ditambah lagi delay selama 35 menit, sehingga harus lama menunggu di dalam waiting room. Akhirnya, penulis mengajak ngobrol teman yang bangkunya sebaris di sebelah kanan. Setelah kami berkenalan, maka masuklah pembicaraan kami dari yang ringan hingga yang berat.

Edward Simanungkalit
Edward Simanungkalit

Terakhir, masuklah pembicaraan ke dalam topik Raja Singamangaraja XII dan Perang Toba (1878-1907) dan penulis kebanyakan merujuk pada buku “AHU SI SINGAMANGARAJA” yang ditulis oleh Prof. Dr. W.B. Sijabat.
Ceritapun terus berkesinambungan hingga akhirnya Raja Singamangaraja XII gugur bersama 3 orang anaknya dan pejuang-pejuang lainnya termasuk pejuang dari Aceh. Kami membahas betapa tragisnya situasi akhir itu, bukan sekedar gugurnya Raja Singamangaraja XII pada 17 Juni 1907, tetapi perjuangan mereka hingga sampai ke daerah Pakpak Klasen. Namun, tiba-tiba pria yang duduk di belakang penulis bersuara dengan berkata keras secara mendadak: “Sala do na nidokmi. Ipe marhusip Raja i tu pinggolhu, ndang songon i ninna. Sahala ni Raja Singamangaraja i do mandok ipe.” i.e.: “Salah yang kau katakan itu. Barusan roh Raja itu berbisik ke telingaku, tidak begitu, katanya. Roh Raja Singamangaraja itu yang mengatakannya barusan.” Oleh karena dia berbicara membentak dari belakang penulis tanpa disangka-saka, maka penulis kaget setengah mati, sehingga penulis harus menenangkan diri dulu sambil berdoa memohon pertolongan Tuhan. Lanjutkan membaca “Sahala”

PENDIDIKAN UNTUK KEMAJUAN EKONOMI

Oleh: Edward Simanungkalit *

Edward Simanungkalit
Edward Simanungkalit

Pendidikan merupakan penunjang utama dalam pencapaian kemajuan. Sejarah telah membuktikannya demikian ketika Eropah mencapai kemajuan seperti yang kita saksikan sekarang. Ketika negara-negara ini masih susah, mereka menetapkan anggaran untuk pendidikan berkisar 25% hingga 35% dari total anggaran negaranya. Berbeda dengan negara kita di masa lalu yang didengung-dengungkan sebagai era pembangunan, tapi pendidikan mendapat alokasi anggaran hanya 4% dari total anggaran negara (APBN). Malahan anggaran untuk pertahanan dan keamanan lebih besar dari anggaran untuk pendidikan, yaitu 5 % dari total anggaran pada masa orde baru. Hasil akhirnya adalah krisis yang belum terlihat tepiannya.

1. The Protestant Etics
Kemajuan Eropah dapat kita runut kembali ke belakang yang dimulai dari zaman reformasi. Reformasi bukanlah sekedar protes terhadap surat aflat. Akan tetapi, reformasi lebih jauh lagi kepada pembaharuan seluruh kehidupan yang didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab. Pengaruh reformasi bukan hanya di dalam gereja saja, tetapi juga mempengaruhi bidang-bidang ekonomi, pendidikan dan pengembangan iptek, politik, tata-negara, kebudayaan, dan lain-lain. Ketika reformator generasi kedua, Johanes Calvin, melontarkan dasar-dasar etika yang kemudian dianut kaum Calvinis sejak pertengahan abad ke-16, seperti: kerja keras, hemat, jujur, dan disiplin. Lanjutkan membaca “PENDIDIKAN UNTUK KEMAJUAN EKONOMI”