Kesombongan Mendahului Kehancuran

Oleh : Derman P Nababan SH, MH

Banyak masalah dalam hidup kita merupakan hasil dari kesombongan, tapi terlalu banyak orang yang gagal untuk menyadari hal ini. Mereka menjadi begitu sombong atas hal-hal baik yang telah diberikan Allah kepada mereka – pekerjaan, harta, keahlian, keluarga, kedudukan, anak-anak, pendidikan, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Uzia memulai kehidupannya dengan baik, diangkat sebagai raja pada usia yang masih sangat muda, yaitu 16 tahun. Meskipun masih muda, Uzia “melakukan apa yang benar di mata Tuhan …. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari Tuhan, Allah membuat segala usahanya berhasil” (2 Tawarikh 26:4,5).

Kemasyhuran Uzia tersebar luas dan kekuatan pasukannya bertambah besar. Ia memiliki 2.600 kepala prajurit dan 307.500 balatentara yang membantunya mengalahkan musuh.

Namun tragisnya, “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi sombong dan tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak”. Uzia tidak ingat lagi akan Dia yang telah menganugerahkan keberhasilan dan orang-orang yang telah memberikan bimbingan ilahi. Ia membakar kemenyan di bait Tuhan, karena itulah Allah menimpakan penyakit kusta kepadanya. Raja Uzia “sakit kusta sampai kepada hari matinya”.

Kesombongan sering bersembunyi dibalik alasan demi menegakkan kebenaran. Maka tidak sedikit orang yang bertindak main hakim sendiri “eigenrichting”, ketika dia menganggap orang lain melakukan pelanggaran hukum, etika, kebiasaan dan sopan santun. Mengapa ada seseorang pejabat, berpendidikan tinggi menjadi arogan, angkuh dan berusaha menunjukkan kekuasaannya kepada orang lemah, karena dalam dirinya ada akar kesombongan.

Mengapa seseorang sulit berdamai, sulit mengampuni, sulit menerima perbedaan, karena dia berpendapat bahwa kebenaran yang dia miliki adalah mutlak, tidak mengakui otoritas yang lebih tinggi, yaitu hukum yang berlaku bahkan abai terhadap kekuasaan Ilahi. Dia berpikir, ketika mau berdamai dan mengampuni orang lain harga dirinya runtuh. Sikap yang demikian bertolak belakang dengan nasihat Raja Salomo dalam Amsal 18:12 Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.

Agar dapat menyelesaikan hidup ini dengan baik, kita harus menghindari sikap “tinggi hati”. Raja Salomo secara serius telah memperingatkan hal ini “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. (Amsal 16:18)

Marilah kita senantiasa mencari Tuhan, menaati-Nya, dan bersyukur atas semua yang telah dilakukan-Nya. (Ramla Nababan)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s