Nikson : Perlu Program Puskesmas 24 Jam di Taput

Drs Nikson Nababan MSi

Tarutung – Menciptakan masyarakat Tapanuli Utara (Taput) yang Mandiri dan Berdikari harus diawali dengan terciptanya masyarakat yang sehat, melihat bahwa program di sektor kesehatan harus diawali dengan ibu yang sehat yang akan melahirkan generasi emas.

Demikian diungkapkan calon Bupati Taput Drs Nikson Nababan MSi, Kamis (7/6/18). Menurutnya, peranan ibu bagi sebuah rumah tangga sangat menentukan seperti apa generasi keluarga. Secara total seorang ibu akan memberikan segalanya untuk tumbuh kembang anak. Karakter dan pendidikan anak terbentuk dalam keluarga dan didominasi peranan ibu.

Berangkat dari pemahaman ini, kata Nikson, bahwa salah satu program ibu sehat adalah dibentuknya Rumah Tunggu Kelahiran (STK) di setiap Kecamatan sangat penting. Dimana secara rutin selama kehamilan si ibu bisa cek kesehatan secara gratis dan tiga hari sebelum melahirkan dan sesudah diberi kesempatan rawat inap di RTK.

Si ibu juga dapat didampingi suami dan keluarga dengan ketersediaan makanan bagi pasien dan keluarga. Program ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dimana RTK ini sebagai sarana untuk mendeteksi dan persiapan rujukan (pra hospital) apabila puskesmas tidak mampu menolong persalinan.

“Dengan kondisi kecamatan yang tersebar di seluruh Kabupaten Tapanuli Utara, masih banyak yang jauh dari jangkauan pelayanan rumah sakit. Saya melihat perlunya Program Puskesmas 24 jam sebagai upaya peningkatan awareness terhadap meningkatkanya angka kematian ibu dan bayi dan dapat mempersiapkan rujukan kesehatan yang komprehensif dan berjenjang,” ujarnya.
Selanjutnya, Nikson melihat masih banyaknya di pelosok-pelosok yang sulit dijangkau oleh paramedis, dimana banyak kebutuhan masyarakat akan kepedulian pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan. Program PSC 119 dengan kebijakan 1 Puskesmas 2 mobil ambulance merupakan inovasi terhadap pelayanan kesehatan secara mobile (puskesmas keliling) dimana dalam keadaan darurat dalam rentang 30 menit harus sampai di lokasi apabila mendapat panggilan dari call center 119 dan pelayanan ini semuanya gratis.

“Turun langsung dari desa ke desa, saya melihat masih banyak masyarakat kurang sehat secara mental dan psikologis, dipasung. Hati saya mengatakan ini bukan jalan keluar, tetapi upaya penyembuhan. Untuk itu, saya programkan Taput Bebas Pasung dengan membuat rumah singgah sebagai tempat untuk membina mental dan kemandirian penderita, sehingga dalam beberapa bulan mereka mampu mandiri di tengah masyarakat,” jelasnya.
Di samping itu, juga ada program Taput bebas BAB sembarangan dengan sanitasi dan ketersediaan WC bagi daerah yang sanitasinya belum optimal. Juga ada Program “Horas Ketuk Pintu Layani dengan Hati, yakni program mengurangi rujukan ke rumah sakit dengan kunjungan rutin tim kesehatan ke setiap rumah penduduk di wilayah kerjanya masing-masing.

“Saya juga upayakan program pemerataan tenaga kesehatan dengan meningkatkan insentif dari 100 hingga 150 persen dari gaji pokok dan memberikan insentif bagi Tenaga Kesehatan Sukarela (TKS) sebesar 500 ribu hingga Rp 600 ribu.Saya juga meningkatkan standart dan mutu layanan kesehatan melalui akreditasi Puskesmas,” bebernya.

Seorang ibu yang telah berupaya membesarkan dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi emas, yakni ibu lanjut usia (Lansia) sering terabaikan pemeriksaan kesehatannya karena kondisnya tidak memungkinkan menuju rumah sakit secara rutin.
“Saya pandang perlu pemeriksaaan kesehatan Lansia secara rutin dari rumah ke rumah atau ditempat mereka berkumpul,” tambahnya

Mereka juga diberikan makanan tambahan, dan kebugaran tubuh melalui olahraga ringan senam lansia bersama teman-temannya sesama lansia. Dengan program ini, saya dapat merasakan lansia akan semakin bahagia dan sehat.

“Bagi saya, pelayanan kesehatan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat sampai ke pelosok-pelosok. Untuk itu, saya juga harus memperlengkapi masyarakat kurang mampu dengan memberikan jaminan kesehatan secara gratis melalui Kartu BPJS Jamkesda, dimana hingga saat ini sudah mencapai 27.000 peserta. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Tapanuli Utara juga diupayakan dengan memperlengkapi Rumah Sakit Umum Daerah Tarutung dengan ketersediaan semua Dokter Spesialis (Minus Spesialis Radiologi dan Kulit),” ungkapnya.

Peningkatan kesejahteraan tenaga medis non PNS juga akan berpengaruh positif kepada pelayanan kesehatan kepada pasien. Untuk itu, pendapatan tenaga medis non PNS di Rumah Sakit ditingkatkan terus dan sekarang telah mencapai Rp 1,6 juta per bulan.

“Diawali dengan seorang ibu yang sehat, melahirkan generasi yang sehat, pendidikan anak dalam keluarga yang sehat akan menciptakan generasi emas yang akan mampu bersaing di ajang nasional maupun internasional. Awali aktivitasmu dengan mengingat bahwa “doa ibu sepanjang masa”, maka akan tercipta Masyarakat Tapanuli Utara yang semangat, sehat dan penuh kasih,” tuturnya. (as/osi/nt)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s