Imanmu Menyelamatkanmu

Nababan Berdoa

“Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!”. Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah (Lukas 18:42-43).

Dalam Injil Matius 17 : 20 dituliskan tentang iman dan percaya kita bisa mengubahkan sesuatu dan memiliki kekuatan diluar dari ke­mam­puan kita sebagai manusia. “Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung itu: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah dan takkan ada yang mustahil bagimu”.

Firman Tuhan mengajarkan kita tentang iman. Karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala se­suatu yang tidak kita lihat. Dan sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, maka kamu dapat memindahkan gunung. Betapa luar biasanya bukan sebuah iman tersebut. Biji sesawi bukanlah biji yang besar jika dibandingkan dengan biji-bijian yang lain. Namun jika kita memiliki iman sebesar biji sesawi yang kecil itu, Alkitab mencatat bahwa kita akan dapat memindahkan sebuah gunung.

Ketika Yesus mengadakan perja­lanan dan setibanya Dia di Yerikho, ada seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan. Pengemis itu tahu ada keramaian, namun karena ia buta, maka dia tidak dapat melihat apa yang terjadi. Setelah pengemis ini tahu bahwa Yesus yang datang, segeralah ia berteriak-teriak agar Yesus meli­hatnya. Kemudian Yesus bertanya apa yang diinginkan penge­mis buta terse­but, dan setelah menge­tahui keinginan pengemis itu Yesus berkata: “Meli­hatlah engkau, iman­mu telah me­nyelamatkan engkau!”. Dan kemudian pengemis itu dapat melihat.

Jikalau seorang pengemis saja yang hanya mendengar Yesus melalui kabar burung saja mempunyai iman yang begitu besar, sehingga oleh imannya dia dapat melihat kembali, bagaimana dengan kita yang telah mengaku sebagai anak Allah? Beri­man memang tidak mudah terlebih jika kita sedang mengalami sebuah cobaan, namun percayalah, Allah yang sama ketika Dia disalib, Allah itulah yang juga menyelamatkan kita.

Dalam menjalani hidup sehari-hari, sangat banyak tantangan dan godaan yang kita hadapi. Seorang hamba Tuhan pernah bercerita pan­jang lebar tentang pentingnya iman dan percaya kita. Beliau bercerita bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dikatakan berhasil apabila bisa mengendalikan 3 hal yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Kendali pertama adalah perasaan yang sangat erat kaitannya dengan keinginan dan nafsu. Kita cenderung mudah terhanyut dengan perasaan dan tergoda dengan berbagai hawa nafsu keinginan daging dan keinginan duniawi. Kalau dalam berkendara, perasaan adalah sama dengan pedal gas yang apabila dipacu dengan kencang dan dengan emosi yang tidak stabil bisa berakibat fatal, kecelakaan atau maut menyambut kita di depan. Apabila kita mampu mengendalikan perasaan, segala sesuatu akan berja­lan dengan lancar dan aman.

Mengendalikan Diri Sendiri

Mengendalikan perasaan bukan perkara mudah, banyak sekali anak Tuhan yang akhirnya terjerumus karena tidak berhasil dalam mengen­dalikan perasaannya. Hanya karena ingin menduduki jabatan penting, anak Tuhan rela meninggalkan Yesus Kristus dan beralih ke pilihan lain.

Filipi 4 : 10 – 11 menuliskan “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan pera­saan­mu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah kerena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”

Yang kedua adalah mampu me­ngen­dalikan otak yang sangat erat kaitannya dengan akal sehat dan akal busuk. Otak yang kita miliki bisa saja merancang segala sesuatu dengan baik, akan tetapi efek dari rancangan yang ada di dalam otak kita kalau dilaksanakan bisa berdampak buruk bagi diri kita sendiri dan orang lain. Di dalam mengendarai mobil, otak sama dengan kemudi yang meng­giring kita ke jalan yang benar dan sesuai dengan aturan yang ada. Kalau kemudi hidup kita benar-benar berada di rel yang ditentukan oleh Tuhan, pastilah pemikiran dan otak kita akan terhindar dari rancangan-rancangan jahat yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Seperti tertulis dalam Amsal 10 : 20 “Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya.” Kemudian, di dalam Matius 9 : 4 dituliskan “Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata ; “Mengapa kamu memikir­kan hal-hal yang jahat di dalam hatimu.”

Injil Efesus juga mengingatkan kita tentang bagaimana mengen­dalikan diri dan perasaan. Efesus 2 : 3 menuliskan ”Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka. Ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimur­kai, sama seperti mereka yang lain.”

Apa yang ada di dalam pikiran kita, akan mempengaruhi tindakan kita selanjutnya. Kalau sifat jahat telah menguasai pemikiran kita, maka apa pun yang nantinya akan kita lakukan pasti akan dilandasi dengan sikap jahat dan kurang senang. Akan tetapi, apabila di dalam pikiran kita ada keikhlasan atau ketulusan dalam melakukan apa pun pekerjaan yang dipercayakan kepada kita, maka hasilnya pasti akan diberkati oleh Tuhan. Seperti kata orang-orang pintar, jika kita berpikir positif maka hidup kita akan dipenuhi dengan sikap-sikap positif.

Kendali yang ketiga adalah iman. Kalau kita memiliki iman dan keper­cayaan yang setengah-setengah, jangan terlalu maju untuk menyam­paikan kebenaran firman Tuhan. Bisa jadi apa yang kita sampaikan akan menyimpang. Akan tetapi jika Iman dan percayamu benar-benar teguh, bersaksilah untuk kemuliaan nama Tuhan.

Kalau dalam berkendara, iman itu seperti rem. Apabila kendali gas (keinginan dan emosi) kita tidak bisa dibendung, iman percaya kita akan mengeremnya dengan benar. Apabila pemikiran dan otak kita selalu berpra­sangka negaif terhadap semua orang, maka iamn dan percaya kita akan mencoba untuk menetralisirnya menjadi positif.

Matius 9 : 22 menuliskan Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata : ”Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menye­lamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlan perempuan itu.

Kemudian, Efesus 1 : 15 – 16 menuliskan ”Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus. Aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengi­ngat kamu dalam doaku.”

Tiga kendali yang ada, perasaan, otak dan iman jika benar-benar bisa kita sinergikan dan kendalikan maka hidup kita akan lebih tenang. Teguh­kan iman dan percaya kita bahwa segala sesuatu yang kita butuhkan pasti Tuhan cukupkan, bahwa segala kerinduan kita untuk memiliki sesua­tu akan dijawab Tuhan tepat pada wak­tunya. Mengucap syukurlah se­tiap saat dan tetap setia di jalan Tuhan.

Iman percaya kita akan lebih menguatkan dan menyelamatkan kita dari hal-hal yang tidak berkenan dimata Tuhan. Berlaku jujur dan selalu bersyukur akan menjadikan kita lebih kuat dalam menjalani hari-hari yang diberikan Tuhan kepada kita. Amin. (Analisa)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s