Memaknai Kematian Yesus

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring:Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Matius 23 : 46)

Nababan Berdoa

Memperingati hari kematian Yesus Kristus yang dalam kalender tahun ini berada di akhir bulan Maret, menjadi salah satu refleksi bagi kita dalam memaknai kematian Yesus dan kaitannya dengan kehidupan kekristenan kita di dunia ini. Kematian Yesus mengisahkan penderitaan dan pengorbanan, harus menjadi refleksi khusus bagi umat Kristiani.

Peringatan hari kematian ini mengingatkan kita dan kita diajak kembali untuk hidup dalam ajaran Tuhan seperti kejujuran, hidup sederhana, dan peduli kepada sesama. Yang harus dimaknai umat Kristen saat merayakan hari kematian-Nya, yaitu Yesus telah menjadi korban suatu peristiwa kekerasan, tapi pengorbanannya itulah yang justru menguntungkan umat manusia.

Oleh karena itu, manusia harus menghayatinya, via dolorosa, dengan tidak menciptakan penderitaan baru bagi sesamanya. Apalagi, saat ini masyarakat menanggung beban yang cukup berat. Yang harus diingat adalah manusia harus peka terhadap penderitaan orang lain dan saling bertolong-tolongan demi untuk menciptakan kebersamaan dan kedamaian di antara sesama.

Dalam Perjanjian Lama yang memberitahukan tentang kematian Kristus sudah disampaikan dalam Mazmur 22 dan Yesaya 53. Seperti yang ditulis dalam Yesaya 53 : 3 – 5 “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

Penderitaan-Nya bukan disebabkan oleh dosa-Nya sendiri, karena “ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (Yesaya 53:9b). Yesaya memberikan catatan yang teliti mengenai seluk beluk penderitaan dan kematian Kristus lengkap dengan sebab-musabab theologis bagi kematian-Nya la mati karena dosa-dosa manusia, untuk memuaskan tuntutan Allah. Bahkan pemeriksaan sepintas lalu terhadap catatan Perjanjian Baru menunjukkan bahwa semua seluk beluk nubuatan ini sudah digenapi.

Tatkala berada di kayu salib, Kristus sendiri mengutip dari Mazmur 22, dan ini menujukan perhatian kita kepada nubuatan-nubuatan yang ada dalam mazmur tersebut. Mesias akan ditinggalkan oleh Allah (Mazmur 22:2), dihina dan diejek (Mazmur 22:7-9), menanggung penderitaan yang tak terkatakan (Mazmur 12:15-17), segala tulang-Nya terlepas dari sendinya (Mazmur 22:15), Ia menderita kehausan (Mazmur 22:16), tangan dan kakinya ditusuk suatu petunjuk tentang penyaliban (Mazmur 22:17), pakaian-Nya dibagi-bagi dan jubah-Nya diundi (Mazmur 22:10), Ia harus mati (Mazmur 22:16). Mazmur ini secara teratur memberikan gambaran jelas tentang penderitaan Kristus di kayu salib, yang digenapi setiap bagian sampai sekecil-kecilnya dalam peristiwa penyaliban yang dicatat oleh keempat Injil.

Pengorbanan

Banyak ayat-ayat lain yang bertebaran dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada kematian Kristus dan melengkapi gambaran nubuat ini. Ia akan dikhianati oleh sahabat-Nya (Mazmur 41:10), difitnah (Mazmur 35:11) dan diludahi (Yesaya 50:6), tulang-tulang-Nya tidak akan dipatahkan (Mazmur 34:21).

Walaupun pada akhirnya banyak juga ayat dalam Perjanjian Lama yang memberitahukan lebih dahulu tentang kebangkitan Kristus, tetapi hanya sedikit yang ditulis khusus. Di antaranya yang penting ialah Mazmur 16:10, “Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.”

Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya adalah dua peristiwa yang paling penting dalam sejarah manusia. Mengapa demikian? Karena kematian Yesus, umat manusia memiliki kesempatan untuk keselamatan kekal. Ini yang penting kita maknai dalam menjalani hidup di muka bumi ini. Dalam kenyataannya, masih banyak anak Tuhan yang menjadi Kristen Napas atau mau mendekatkan diri dengan Tuhan pada saat perayaan Natal dan Paskah.

Dalam Perjanjian Baru ada dituliskan tentang penyaliban Kristus. Beberapa poin penting dalam drama penyaliban Kristus ini adalah :

Yesus ditangkap di Taman Getsemani (Mrk. 14:43-52). Yesus mengalami enam pencobaan tiga oleh para pemimpin Yahudi dan tiga oleh orang Roma (Yoh. 18:12-14; Mrk. 14:53-65; Mrk. 15:1a; Mrk. 15:1b-5; Luk. 23:6-12; Mrk. 15:6-15). Yesus bertahan dalam peristiwa pemukulan yang menyakitkan, dicambuk, dan diejek (Mrk. 15:16-20). Pilatus mencoba berkompromi dengan para pemimpin agama dengan menyuruh Yesus dipukuli, tetapi tindakan ini tidak memuaskan mereka. Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan (Mrk. 15:6-15).

Yesus diejek oleh tentara ketika mereka memakaikan-Nya jubah ungu dan mahkota duri (Yoh. 19:1-3). Yesus disalibkan di Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak (Mrk. 15:22). Langit berubah menjadi gelap selama tiga jam (Mrk. 15:33). Yesus berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan, setelah itu, Dia mati (Luk. 23:46).

Setelah penyaliban Yesus Kristus, Yusuf dari Arimatea meminta izin kepada Pilatus untuk membawa tubuh Yesus sehingga ia membawa linen halus, membungkus tubuh Yesus, meletakkan Yesus di dalam kubur, dan menggulingkan sebuah batu besar di pintu masuk kuburan itu. Yesus berada di dalam kubur selama tiga hari.

Apakah penyaliban Yesus Kristus harus dilakukan untuk Anda? Allah, yang tahu bagaimana Anda dibuat, tahu bahwa Anda tidak bisa menjalani kehidupan tanpa dosa, hal yang diperlukan untuk masuk ke dalam surga. Jadi, Ia memutuskan untuk menawarkan diri-Nya untuk berada di tempat Anda. Dia melakukan itu dengan menjadi seorang manusia dalam diri Yesus Kristus, Anak-Nya sendiri. Yesus hidup tanpa dosa di bumi.

Allah telah mengatakan hukuman atas dosa adalah maut. Karena kita semua telah berdosa (Roma 3:23; 6:23), kita membutuhkan seseorang yang tidak berdosa untuk mati bagi kita. Yesus, yang tidak berdosa, mati menggantikan kita dan menjadi anugerah bagi dunia. Dia mati untuk Anda! Roma 5:10 berkata, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”

Pengorbanan membawa maksud “merelakan diri untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan”. Dalam rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa sejak kejatuhan Adam maka satu hal yang sebenarnya tidak terpikir oleh manusia ialah karya Allah dalam mengaruniakan Anak Tunggal-Nya Yesus Kristus menjadi manusia untuk menggenapi rencana agung-Nya, yaitu keselamatan. Dan oleh darah-Nya yang tercurah dan oleh kematian-Nya kita diselamatkan.

Tinggal bagaimana kita memaknai dan merenungkan firman Tuhan tentang kematian Yesus demi menebus dosa kita. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, lakukan firman-Nya dengan setulus hatimu, niscaya hatimu akan merasa tenang dan teduh. Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s