Mengasihi Sesama Tanpa Pamrih

Nababan Berdoa

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. Imamat 19 : 18

Ketika membaca firman Tuhan ini, apa yang terlintas di dalam benak Anda? Di jaman sekarang ternyata masih banyak manusia yang merasa bahwa hanya dirinya dan kelompoknya saja yang berhak hidup dimuka bumi ini. Mereka beranggapan bahwa orang lain yang tidak setara dengan dirinya dianggap lawan dan bukan kawan. Banyak juga manusia yang melakukan kebaikan terhadap sesamanya hanya karena mengharapkan balasan dalam bentuk uang atau hadiah.

Mengasihi sesama dengan alasan pamrih tidak berkenan bagi Tuhan. Dalam Galatia 6 : 2 – 5 dituliskan “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.”

Dalam pelaksanaannya di lapangan, masih banyak manusia yang berlaku tidak adil terhadap sesamanya dan memegang prinsip kesukuan, agama dan golongan> Seperti di pemerintahan, perkantoran atau di dunia kerja lainnya yang seharusnya berlaku independen tapi ternodai oleh oknum yang masih memegang prinsip dan cara-cara lama.

Bagaimana kita mau mengasihi Tuhan dengan segenap hati kalau sesama manusia di muka bumi ini tidak kita kasihi. Manusia yang ada disekitar kita kita musuhi dan kita kotak-kotakkan keberadaannya. Firman Tuhan yang ditulis dalam Perjanjian Lama, tepatnya di Ulangan 6 : 5 menuliskan “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Dituliskan kembali dalam Perjanjian Baru, di Markus 12 : 30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Hukum taurat yang kita jalankan dalam hidup ini sama seperti rambu lalu-lintas di perempatan jalan. Hukum taurat juga ibarat rambu lalu lintas dilarang berhenti. Tanda ini biasa dipasang diperempatan jalan. Tentu saja dasar dari pemasangan tanda ini adalah KASIH, yaitu agar lalu lintas lancar sehingga orang lain tidak terganggu oleh orang yang berhenti diperempatan jalan.

Orang tidak berhenti di perempatan tersebut, lebih banyak bukan karena kasih tetapi karena takut ada polisi. Dan kita lihat begitu banyak pelanggaran yang terjadi akibat motivasi kepentingan pribadi. Orang yang tidak berhenti di perempatan akan selamat dengan pengertian tidak kena tilang atau kena maki-maki orang di belakangnya.

Apakah itu berarti dia selamat karena melakukan hukum taurat ? Dalam hal di lokasi perempatan itu memang YA. Masalahnya akan lain untuk lokasi yang lain. Misalkan pada jalan yang sempit dimana tidak ada rambu larangan berhenti. Apakah kita akan berhenti di tempat tersebut sehingga memacetkan lalu lintas. Secara hukum taurat kita tidak salah karena memang tidak ada larangan berhenti. Akan selamatkah kita bila kita berhenti disitu? Beranikah kita melawan orang-orang yang di belakang kita dengan mengatakan “Lihat bung, tidak ada larangan berhenti, saya tidak melanggar peraturan lalu lintas.” Dia selamat tidak ditilang polisi, tapi dia tidak akan selamat menghadapi amukan masa.

Kadang-kadang ada keangkuhan yang kita tonjolkan saat kita memiliki kuasa atau wewenang untuk melakukan sesuatu hal. Bahkan, kuasa atau wewenang yang diberikan kita salah gunakan untuk kepentingan diri kita sendiri tanpa pernah berpikir bahwa tindakan yang kita lakukan sangat bertolak belakang dengan aturan yang ada.

Peringatan Tuhan dalam Keluaran 22 kiranya dapat menjadi bahan perenungan bagi kita :

Ayat 21 “Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Ayat 22-24 “Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.”

Ayat 25 “Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.”

Ayat 26- 27 “Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, 27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya-pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.”

Mengasihi sesama manusia tanpa memandang latar belakang adalah perintah Tuhan kepada setiap kita yang percaya kepada-Nya. Jangan pernah memiliki orientasi yang salah tentang bagaimana mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri kita sendiri. Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 5 : 2 kiranya dapat menjadi pedoman dan penguat kita dalam menjalankan perintah Tuhan agar saling mengasihi. “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s