Lihatlah Foto Kita Itu, Monika…! Baru 2 Minggu Kita Berfoto…

Perlu Dibentuk Penjaga Pantai !

Siantar – Suasana sedih penuh isak tangis keluarga dan warga menyambut kedatangan jenazah Monika Hutajulu (7,5) di kediaman mereka di Jalan Bawal, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Siantar Timur, Minggu (16/7) tadi malam.

Hisar Hutajulu (35) dan Boru Marbun istrinya, duduk lemas di samping jasad anaknya. Boru Marbun terus menangisi anaknya sambil membelai-belai rambutnya.

“Bangun lah anakku. Jangan lah kau pergi meninggalkan mamak. Lihatlah foto kita itu Monika, baru dua minggu kita berfoto bersama, janganlah kau tinggalkan aku anakku,” kata Boru Marbun terus menangis.

Suasana haru bertambah, setelah pria yang disebut Bapatua Monika pingsan setelah melihat jasad Monika.
Kabar meninggalnya anak yang tercatat sebagai murid kelas III SD GKPS 3 Jalan Merek Raya ini, sudah diketahui keluarga sebelum jenazah tiba. Bahkan pintu rumah rumah Hisar Hutajulu (33) dan Boru Marbun, orangtua Monika, sudah dibuka paksa untuk mempersiapkan kedatangan jenazah.

Informasinya, keluarga ini pergi ke Laguboti untuk keperluan ziarah. Usai ziarah mereka mandi-mandi di Pantai Lumban Binanga.

Halomoan Sinaga, salah satu keluarga yang ikut rombongan ziarah mengatakan, mereka berangkat ke Laguboti dari Siantar sekira Pukul 07.00 WIB.

Sekira Pukul 11.30 WIB, mereka menuju pantai. Monika dan adiknya Jesika ditemani oleh Bapatua-nya. Diduga keasyikan mandi, Monika dan adiknya tidak menyadari ombak yang deras disertai angin kencang. Monika dan adiknya terbawa arus ke tengah danau, bapatuanya berhasil menggapai baju Jesika, tetapi Monika terbawa ombak hingga menghilang.

Orangtuanya dan warga mencoba menyelamatkan Monika dengan berenang ke bagian tengah dimana korban menghilang, namun gagal

Perlu Dibentuk Penjaga Pantai

Sektor pariwisata di wilayah Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) belakangan ini mulai berkembang, khususnya wisata Danau Toba. Bersamaan dengan itu pula, terjadi beberapa pengalaman buruk wisatawan saat berkunjung. Hal ini perlu sikapi dan diserusi penanganannya, baik oleh pengelola objek wisata maupun pemerintah.

Kejadian buruk itu antara lain meninggalnya wisatawan di Pantai Lumban Bulbul. Kejadian yang sama terjadi kemarin di Pantai Lumban Binanga, dan beberapa kejadian yang sama sebelumnya. Tentunya tidak ada satupun yang menginginkan kejadian itu, baik pemerintah, pengelola wisata, terlebih pengunjung. Hal tersebut perlu disikapi serius.

“Dengan hadirnya Badan Otorita Danau Toba, kita sedang menyongsong pariwisata bertaraf internasional. Yang paling penting dalam hal ini adalah rasa nyaman dan aman para wisatawan. Hal ini harus diciptakan lebih dulu. Bagaimana meujudkan hal itu, tentunya harus melibatkan keseriusan banyak pihak. Baik pemerintah, pengelola wisata, masyarakat sekitar, termasuk pengunjung itu sendiri,” ujar St Sabaruddin Tambunan menanggapi atas berita-berita duka di Danau Toba, Senin (17/6/17).

Sabaruddin yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPRD Tobasa berpendapat bahwa objek-objek wisata di Tobasa masih harus banyak dibenahi, terlebih dalam hal kemananan wisata pantai. “Yang pertama itu kesiagaan penjagan pantai yang aktif. Kemudian, perlunya penempatan zona-zona serta peringatan dini kepada pengunjung terkait situasi alam di objek wisata tersebut,” katanya.

Dia menegaskan, perlu penjagaan pantai oleh pengelola objek wisata, bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat sekitar. Pemerintah bisa saja memfasilitasi berbagai hal, baik pembenahan objek wisata maupun pembinaan pengelola wisata. “Contohnya, perlu menempatkan penjaga pantai, itu tidak merepotkan. Bisa saja satu objek wisata dijadikan sebagai BUMDes. Dapat meningkatkan pendapatan, dan juga anggaran Dana Desa memungkinkan untuk digunakan,” katanya.

Hal yang sama diungkapkan Herben Sibarani, warga Tobasa. Pemerhati pendidikan itu berpendapat, perlu ketersediaan penjaga pantai dan penempatan rambu-rambu atau pemberitahuan di beberapa titik yang berhubungan dengan konsisi alam di pantai.

“Saya yakin, pemerintah tidak akan kewalahan untuk menyiapkan penjaga pantai. Contohnya memberikan pelatihan kepada masyarakat dan kemudian ditempatkan sebagai honor. Atau bisa saja menempatkan petugas yang ada saat ini untuk ditempatkan sebagai penjaga pantai, baik dari BPBD, atau dari instansi lainnya yang sudah paham. Sebab hal ini sangat penting,” katanya.

Kepada setiap pengunjung juga perlu diberitahukan situasi alam pantai. “Danau Toba tidak sama dengan wisata air lainnya. Dasar danau bisa saja berubah setiap hari. Yang mengetahui hal itu, tentunya pengelola wisata. Justru itu perlu ditempatkan batas-batas layak untuk berenang, informasi situasi alam. Hal ini jugalah yang nantinya menjadi tugas penjaga pantai,” tandasnya. (Ft/nt/ros/cr03/esa/ms/nt)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s