Persahabatan dan Sikap Peduli

TANGGAL 25 Juni diperingati sebagai Hari Persahabatan Sedunia. Kita berharap, momen ini bisa merangsang semua pihak mengembangkan persahabatan dan kepedulian yang tinggi. Juga, saling gotong royong membantu sesama mengentaskan mereka yang masih tertinggal.

Sejumlah kalangan mengakui, belakangan ini bangsa Indonesia kehilangan ciri ketimurannya yang penuh persahabatan. Hanya lantaran masalah yang amat sepele, kita saling bertengkar dan tega saling membunuh. Kondisi bangsa dan negara kita belakangan ini bahkan tampak ‘tiada hari tanpa konflik’.

Agaknya tak salah, itulah cerminan masyarakat Indonesia dewasa ini. Yaitu masyarakat yang sangat sensitif, mudah tersinggung, pemarah, perusak, saling menikam, bahkan saling membunuh.

Untuk melindungi diri, keluarga kaya atau mereka yang merasa terancam keselamatannya, melengkapi rumahnya dengan pagar tinggi-tinggi atau cara-cara lain yang menjamin keamanannya. Upaya-upaya tersebut memang dapat mengurangi rasa takut untuk sementara waktu.

Tapi, jika mau memperoleh jaminan yang lebih lestari, kiranya keluarga-keluarga itu, bahkan bangsa ini, harus kian peduli terhadap sesama dan bersama-sama membangun persahabatan dan berbagi kebahagiaan dengan langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat. Kegiatan membangun ‘pagar persahabatan’ dan ‘sikap peduli’ adalah suatu keharusan dinamika kehidupan yang perlu dipelihara dengan kasih sayang.

Persahabatan dan kepedulian itu tak dapat menjadi sikap dasar saja. Namun harus diikuti dengan langkah-langkah nyata yang segera bisa dirasakan masyarakat luas. Langkah-langkah nyata yang intinya memperkuat fungsi keluarga seperti keagamaan, cinta tanah air, budaya, keserasian antarkeluarga, reproduksi sehat, pendidikan, ekonomi dan lingkungan yang penuh damai dan sejahtera harus digerakkan dengan gotong royong.

Program-program seperti bantuan program IDT pada tahun 1993-1997, atau program Takesra Kukesra, atau penyaluran subsidi BBM untuk keluarga miskin, harus diteruskan dan dilakukan dengan penuh kepekaan dan sungguh-sungguh. Semua pihak harus bisa membantu, tak mengganggu, bahkan harus merasa wajib menjamin agar bantuan itu sampai kepada yang berhak dengan lancar dan baik.

Karena adanya krisis keuangan tahun 1997, dan berlanjut menjadi krisis multidimensi berkepanjangan, bisa diperkirakan bahwa jumlah penduduk miskin belum turun, atau mungkin malah naik lagi. Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik kembali merilis kondisi kemiskinan di Indonesia, termasuk jumlah penduduk yang miskin. Angka terbaru menyebutkan bahwa sebanyak 17,2 persen atau 37,4 juta jiwa rakyat kita hidup di bawah garis kemiskinan.

Sekali lagi, puluhan juta rakyat itu bukan sekadar miskin, namun hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang hidup di near line of poverty (sedikit di atas angka tersebut) jumlahnya lebih banyak. Sehingga bila dihitung secara kasar, penduduk miskin dan di bawah kemiskinan tidak kurang dari 70 juta jiwa.

Jika penduduk miskin tak bertambah, tentu ada tambahan penduduk miskin yang mungkin bukan berasal dari keluarga yang sebelumnya tak miskin. Bisa saja semula mereka pekerja-pekerja yang kehilangan pekerjaannya karena industri atau usaha di mana mereka bekerja terpaksa tutup karena terbelit hutang, atau karena usaha-usaha dimana mereka bekerja mempergunakan banyak sekali bahan baku yang berasal dari luar negeri. Atau bisa saja keluarga yang rawan itu tergoncang berbagai kesukaran ekonomi yang belum juga berakhir.

Karena itu, usaha-usaha keluarga yang sekarang berjalan baik, atau masih bisa berjalan, harus kita berikan dorongan dan bantuan untuk tetap berjalan baik. Mereka yang peduli terhadap keluarga miskin, seperti para pengusaha peduli, yayasan dan LSM, atau lembaga swasta yang peduli lainnya, harus diberikan kesempatan, dukungan dan ruang gerak kondusif. Para pengusaha, besar atau kecil, harus bisa memperhatikan tidak hanya karyawannya tapi juga penduduk sekitar usahanya. Usaha itu harus sekaligus ikut membangun persahabatan dengan masyarakat dan penduduk sekitarnya karena berbagai alasan.

Pertama, agar penduduk sekitarnya tidak saja harus bergelut dengan limbah, asap yang mengotori udara yang semula bersih, atau limbah-limbah manusia seperti sikap dan tingkah laku masyarakat yang saling curiga dan membenci. Kita harus bisa mencegah sikap penuh kebencian, biarpun sikap itu mungkin saja tak disengaja. Masyarakat dan keluarga sekeliling harus diajak dialog untuk saling membantu meningkatkan manfaat dari tiap usaha yang masih bisa dilakukan bersama.

Kedua, keluarga sekitar harus diajak untuk menjadi pendukung dengan penuh kebanggaan atas usaha-usaha keluarga yang masih bisa berjalan agar semua pihak beranggapan bahwa keberadaan usaha itu menjadi bagian dari budaya masyarakat sekitarnya. Masyarakat sekitar harus diajak menjadi pendukung marketing yang tangguh, pembela fanatik, serta menjadi pagar pengaman luar biasa. Pagar persahabatan itu akan lebih kokoh dibandingkan pagar tembok setinggi apapun.

Kelompok atau keluarga-keluarga yang menyatu dalam persahabatan itu harus dikembangkan menjadi keluarga sejahtera dan berhasil. Keluarga yang sukses itu, ditambah dengan kelompok-kelompok baru, akan saling melakukan pem­binaan yang amat intensif sehingga kegiatan usaha dan lingkungan sekitarnya bisa tumbuh menjadi suatu komunitas yang hidup, dinamis dan penuh kedamaian.

Jika semua masyarakat membangun tembok dalam wujud persahabatan dan kepedulian yang dinamis itu, kita akan kembali lagi menjadi bangsa beradab, penuh persahabatan dan kedamaian. Semoga!. ***

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s