Memaknai Hari Kebangkitan Nasional

Oleh: Hasan Sitorus.

Penulis Dosen Tetap di Universitas HKBP Nommensen dan Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan.

Kebangkitan nasional yang pertama sekali digagas oleh Dr. Wahidin Sudiro Husodo melalui organisasi Budi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 bertujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesa­daran bangsa untuk memajukan diri dibawah cengkeraman penjajah sekaligus menjadi perjuangan politik untuk Indonesia merdeka.

Sangat luar biasa, perjuangan organisasi sosial Budi Oetomo itu ternyata mam­­­­pu menggelorakan dan membangkitkan semangat persatuan bangsa Indonesia untuk melawan penjajah hingga mencapi titik klimaksnya pada tanggal 17 Agutus 1945, dimana bangsa Indonesia merdeka.

Setelah kita merdeka 72 tahun, apakah perjuangan Budi Oetomo itu masih me­lekat kuat sebagai jati diri bangsa kita sekarang ini ? Dengan kata lain, apakah kita masih benar-benar menjunjung tinggi nasionalisme, persatuan dan kesatuan untuk bangkit menjadi bangsa yang kuat, sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila ?

Oleh sebab itu, peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) kali ini harus kita maknai sebagai kebangkitan kita dari kebodohan, kemiskinan dan bangkit untuk bersatu dari ancaman perpecahan anak bangsa. Kita harus menyadari, tanpa persatuan yang kuat maka bangsa kita akan rapuh dan mudah menga­lami goncangan politik dan ekonomi yang menyebabkan kita tidak akan mampu bersaing dengan negara lain, dan bahkan kita bisa terjajah oleh sistem ekonomi global.

Bangkit dari Kemiskinan

Di tengah persaingan ekonomi regional dan global yang semakin ketat, negara kita masih dihadapkan para persoalan kemiskinan rakyat yang jumlahnya masih relatif besar. Berdasarkan data BPS (2016), jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan mencapai 27,76 juta orang, dengan pe­nyebaran di perkotaan sebanyak 10, 48 juta orang dan di pedesaan sebanyak 17,28 juta orang. Jumlah penduduk miskin ini mencapai 10,86 % dari seluruh penduduk Indonesia, dan seperempat dari penduduk miskin ini atau sekitar 7 juta orang adalah kelompok masyarakat nelayan.

Melihat angka ini berarti masih cukup berat tantangan yang akan kita hadapi di masa mendatang dalam upaya untuk menurunkan angka kemiskinan ini baik melalui penyediaan lapangan kerja, pemerataan pembangunan yang selama ini lebih dominan berpusat di Pulau Jawa (Java Centris), maupun eksplorasi sum­berdaya alam di berbagai daerah dengan menekankan prinsip keadilan.

Dengan adanya prinsip keadilan dalam pemanfaatan sumberdaya alam di se­luruh penjuru tanah air sudah barang tentu akan memperkokoh Negara Kesa­tuan Republik Indonesia (NKRI), dan sekaligus mengangkat harkat dan marta­bat masyarakat yang ada di daerah tertinggal menjadi selevel dengan masya­rakat di daerah-daerah yang sudah duluan tersentuh pembangunan.

Kita harus bangkit dari kemiskinan dengan akselerasi pembangunan desa dan daerah tertinggal serta kantong-kantong kemiskinan di perkotaan, sehinggga masyarakat ekonomi lemah dapat menikmati dampak kegiatan pembangunan. Dengan perkataan lain, pembangunan yang dilaksanakan haruslah mencipta­kan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat yang sekaligus dapat meminimali­sir terjadinya kecemburuan sosial atau benih-benih intoleransi di kemudian hari.

Secara sosiologis, kelompok masyarakat miskin sangat rentan dipengaruhi oleh ajaran-ajaran atau paham yang bertentangan dengan pilar kebangsaan kita. Oleh sebab itu, pemerintah harus menerapkan langkah strategis untuk menekan angka kemiskinan itu, sehingga angka kemiskinan secara nasional dapat menurun secara signifikan setiap tahunnya. Kita sangat mengharapkan agar program Reforma Agraria yang digagas Presiden Joko Widodo dapat segera terealisasi untuk menekan angka kemiskinan terutama bagi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian di tanah air.

Bangkit dari Kebodohan

Tidak dapat dipungkiri, kualitas sumberdaya manusia adalah salah satu penentu kapasitas daya saing bangsa untuk mampu berkompetisi di era globalisasi deawasa ini. Menurut World Economic Forum (2014), posisi daya saing Indonesia berada di peringkat 38 dan jauh lebih rendah dibanding Singapura dengan peringkat 2 dan Malaysia dengan peringkat 24.

Peringkat daya saing ini tidak terlepas dari kualitas SDM kita dimana Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2014 menempati urutan 110 dari 188 negara di dunia, dan menurun menjadi urutan 113 pada tahun 2015, se­dangkan Singapura berada diurutan 18 dan Malaysia diurutan 64.

Demikian juga hasil survey OECD (2015) tentang Program for International Students Assessment (PISA) tahun 2015 melaporkan bahwa pelajar Indonesia memperoleh peringkat 62 untuk sains, peringkat 61 untuk membaca dan pe­ringkat 63 untuk matematika dari 69 negara yang diberikan test pengetahuan (knowledge) dan keahlian (skills). Sementara Singapura berada di peringkat 1, Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam masih jauh berada di atas Indonesia.

Data-data ini mengisyaratkan bahwa kualitas SDM kita masih relatif rendah dan dikhawatirkan tidak mampu bersaing di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pasar Asia Pasifik dan Perdagangan Dunia. Oleh sebab itu, pemerintah ber­sama seluruh masyarakat Indonesia harus bangkit untuk meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air dengan prinsip negara lain bisa, maka kita juga harus bisa.

Bila dicermati lebih dalam, mengapa alokasi 20 % APBN belum mampu mendongkrak kualitas SDM kita dewasa ini ? Apa penggunaan APBN itu tidak tepat sasaran sesuai program prioritas pendidikan nasional? Hal ini menjadi pertanyaan mendasar, karena banyak laporan kita dengar masih banyaknya sarana dan prasarana pendidikan yang rusak seperti gedung sekolah yang tidak layak pakai lagi, perlengkapan meja bangku sekolah yang sudah rusak, keterbatasan buku pelajaran, guru yang tidak memadai, dan lain-lain.

Bagaimana kita bangkit dengan kondisi demikian ? Sudah barang tentu pemerintah bersama DPR harus berkomitmen untuk meningkatkan anggaran untuk infrastruktur pendidikan, apakah itu diambil dari surplus penghapusan subsidi BBM atau pemasukan negara dari pengampunan pajak.

Disamping itu, pemerintah perlu mendorong pihak swasta untuk semakin berperanan memajukan pendidikan nasional dengan menekankan kualitas output lembaga pendidikan dan capaian pembelajaran (learning outcome). Dengan cara demikian, ada harapan kita akan bangkit dari kebodohan menjadi SDM yang berdaya saing di masa mendatang.

Bangkit untuk Bersatu

Di tengah kondisi sosial masyarakat kita sekarang ini dimana semakin memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang berbau Sara, kita dituntut untuk kembali merajut persatuan demi tegaknya Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Momentun Hari Kebangkitan Nasional kali ini hendaklah membangkitkan semangat kita untuk mengokohkan kembali persatuan dan kesatuan anak bangsa walaupun ada riak-riak kecil yang mengusiknya.

Masih adanya bara Sara pasca Pilkada yang lalu, haruslah kita padamkan secepat mungkin dengan mengedepankan keutuhan NKRI, dan mehilangkan rasa curiga mencurigai antara sesama anak bangsa. Terlebih-lebih masih adanya pro dan kontra atas vonis hukuman mantan Gubernur DKI Ahok, mari kita hormati keputusan hukum itu dan yakinlah bahwa masih ada proses hukum selanjutnya yang dapat diperjuangkannya.

Tidak ada yang menyalahkan kita memberikan simpati dan solidaritas dengan aksi 1000 lilin di seluruh penjuru tanah air, tetapi lebih dari itu mari kita bangkit untuk meninggalkan tensi emosional kita dan selalu berikrar bahwa Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati, yang tidak dapat dirongrong siapapun di bumi persada tercinta ini. Mari kita semua anak bangsa untuk merapatkan barisan dan bersatu padu dengan pemerintah memper­tahankan 4 pilar kebangsaan kita untuk kejayaan Indonesia. Semoga.***

 

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s