Berbeda Pendapat itu Hal Biasa

Nababan Berdoa

“Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” – Maleakhi 3 : 18.

Dalam banyak hal, berbeda pendapat itu adalah hal biasa. DKI Jakarta baru saja memilih pemimpinnya untuk lima tahun ke depan. Sumatera Utara juga akan menentukan pemimpin barunya tahun depan. Berbeda pilihan juga adalah hal yang biasa. Kita tidak bisa memaksakan pilihan kita kepada orang lain. Siapa pun yang akhirnya menang dalam pemilihan kepala daerah, yang pilihannya tidak berhasil harus bisa menerima hasil yang nantinya akan diputuskan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Yang jadi perdebatan saat ini adalah banyak orang yang tidak menerima perbedaan pendapat. Ketika perbedaan pendapat tidak bisa kita terima, berarti ada yang salah di dalam diri kita. Yang pertama adalah kita terlalu egois dan memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Padahal, pendapat kita belum tentu bisa sesuai dengan orang lain yang ada di sekitar kita.

Gara-gara perbedaan pendapat banyak orang yang saling hujat, saling menjelekkan dan menyulut terjadinya permusuhan serta perpecahan. Perkem­bangan teknologi seperti sekarang semakin memudahkan orang untuk menuliskan kata-kata yang tidak dikehendaki Tuhan di dalam status media sosial. Sudah banyak kasus yang akhirnya menyeret oknum penghujat dan pembuat status yang melecehkan orang lain.

Sejak kecil, sejak kita masih balita dan akhirnya menginjak usia sekolah kita sudah ditanamkan untuk menerima sebuah perbedaan. Ketika orangtua kita dulu membelikan baju baru untuk kita pakai pada acara-acara besar keagamaan, pastilah baju yang kita gunakan dengan saudara, abang, kakak, adik atau dengan orangtua berbeda. Paling tidak berbeda ukuran dan modelnya kalau yang memakainya laki-laki atau perempuan.

Perbedaan pendapat juga sering terjadi ditengah-tengah keluarga, akan tetapi sejak kecil kita selalu diingatkan agar tidak membenci orang-orang yang pen­dapatnya berbeda dengan kita, apalagi sampai berbuat kejahatan dan membodohi orang lain. Mencaci orang lain, memaksakan kehendak, egois atau merendahkan sesama ciptaan Tuhan juga tidak diajarkan oleh orangtua kita. Karena hukum tabur tuai berlaku bagi kehidupan manusia seperti ada tertulis dalam Alkitab.

“Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”. – Maleakhi 1 : 6

Firman Tuhan ini mengingatkan kita agar saling menghargai dan menghormati. Ada banyak persepsi yang muncul di dalam pikiran kita ketika seseorang yang diberi kepercayaan lantas menyalahgunakan kepercayaan itu demi untuk keuntungan pribadi. Dari paparan ini dapat kita ambil hikmahnya bahwa sese­orang yang instan dalam memperoleh kekayaan, berarti caranya tidak benar dalam mendapatkan kekayaannya. Bisa jadi, jangka waktu kekayaannya juga instan, mungkin hanya tiga bulan, atau lima tahun.

Banyak orang saat ini bisa kaya mendadak karena korupsi, membodohi orang lain atau berbisnis gelap yang tidak dikehendaki Tuhan. Menjual benda-benda haram dan terlarang seperti narkoba. Anak Tuhan hari-hari belakangan ini harus waspada dengan serangan narkoba yang bisa mematikan karakter iman kita. Narkoba telah menyebar sampai ke desa-desa, penikmatnya tidak lagi hanya masyarakat yang kaya, semua lini saat ini sudah terpapar narkoba.

Firman Tuhan dalam Galatia 6 : 7 – 8 mengatakan “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”

Hukum tabur tuai seperti yang tertulis dalam firman Tuhan seringkali diabaikan oleh anak Tuhan. Ada banyak ayat di dalam Alkitab yang mengingatkan kita untuk selalu hidup benar di dalam Tuhan. Tak perlu terlalu berambisi untuk menjadi pemimpin kalau pada akhirnya kita hanya jadi pemimpi yang tak pernah bisa mewujudkan mimpi kita menjadi pemimpin. Hal ini sulit diwujudkan karena kita tidak pernah berpengharapan kepada Tuhan dan menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan.

Dalam waktu dekat, Sumatera Utara akan memasuki tahapan pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Beberapa calon sudah bermunculan tapi belum secara nyata mendeklarasikan diri sebagai calon. Masih wait and see dengan kondisi sekarang, apalagi sudah banyak kepala daerah yang ditangkap dan masuk ke dalam penjara karena terlibat korupsi.

Galatia 6 : 9 menuliskan “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Kalau kita melakukan kebaikan dengan setulus hati tanpa mengharapkan apa-apa, pada akhirnya akan menghasilkan kebaikan juga. Mazmur 126 : 5 menu­liskan “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Kemudian dalam 2 Korintus 9 : 6 dituliskan “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”

Dalam menjalani hidup sehari-hari, ada banyak persoalan yang sering membuat iman kita goyah. Kadang-kadang kita sudah bekerja begitu sungguh-sungguh tapi hasil yang kita peroleh masih sangat jauh dari yang kita harapkan. Perasaan putus asa kadang terasa sangat kuat menghampiri dan mencoba menarik kita untuk lebih mendahulukan kepentingan duniawi dan mulai melupakan pekerjaan Tuhan.

“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin. (Amsal 22 : 8 – 9)

Sekarang saatnya kita beralih ke jalan Tuhan dan mulai menabur kebaikan dan menjauhi segala bentuk kejahatan yang merugikan orang lain terlebih-lebih merugikan diri sendiri. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, dan buang jauh-jauh rasa curiga, cemburu atau ingin menang sendiri. Menabur kebaikan dan menolong orang lain yang membutuhkan akan mendatangkan kebaikan juga.

“Dengarlah firman TUHAN, hai kamu yang gentar kepada firman-Nya! Saudara-saudaramu, yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata: “Baiklah TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, supaya kami melihat sukacitamu!” Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu.” Yesaya 66 : 5.

Berbeda pendapat itu adalah hal yang biasa, mari kita jadikan perbedaan menjadi sebuah kekuatan dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan. Menghargai perbedaan adalah cermin dari sikap kita yang terbuka dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain. Perbedaan pendapat adalah proses untuk mendapatkan kesamaan pendapat, setelah ditempuh dengan cara musyawarah dan mufakat. Jangan jadikan perbedaan sebagai beban, tapi menjadi kekuatan yang diberkati Tuhan. Amin.

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s