Sebab Kita Semua Bersalah dalam Banyak Hal

Nababan Berdoa

“Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal ; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” – Yakobus 3 : 2.

Perasaan bersalah akan muncul ketika kita melanggar sebuah aturan. Perasaan bersalah juga akan menghantui kita ketika keinginan daging lebih me­nguasai seluruh kehidupan kita. Jika melihat kehidupan nyata seperti sekarang, banyak sekali manusia yang sudah jelas-jelas melakukan kesalahan tapi berani bersaksi dan mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah.

Banyak juga anak Tuhan yang mengumbar janji kepada sesamanya akan memberikan kesempatan untuk bekerja di salah satu perusahaan tapi tak kunjung ditepati, atau menjanjikan sesuatu ketika suatu saat berhasil duduk menjadi wakil rakyat, walikota, bupati atau jabatan apa pun itu yang akhirnya Tuhan izinkan bisa diraih. Akan tetapi, ketika keinginan seseorang itu tercapai, lupalah ia dengan janji-janjinya.

Seperti kata firman Tuhan, jangan menaruh harapan pada manusia tapi berpengharapanlah kepada Tuhan dengan segenap hatimu. Kalau kita terlalu menaruh harapan pada janji-janji manis manusia, maka kita akan semakin terperosok dalam jurang dosa dan perasaan bersalah. Tidak hanya yang menjanjikan, kita yang dijanjikan pun bisa terperangkap dalam perasaan bersalah dan menyalahkan.

Jawaban atas perasaan bersalah kita adalah datang kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Karena, Kristus dapat melepaskan suara hati kita yang penuh rasa bersalah. Ada dalam Alkitab, “Demikianlah kita ketahui bahwa kita berasal dari kebenaran dan boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, bilamana hati kita menuduh kita. Sebab Allah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (1 Yohanes 3:19-20).

Apabila kita benar-benar berserah kepada Tuhan dan yakin akan janji Tuhan, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Roma 8 : 36.

Kemudian, ada juga tertulis “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”- Roma 8 : 28.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut mau­pun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8 : 37 – 39.

Mau Mengaku Salah

Dalam menjalani hidup sehari-hari, siapa pun tahu kalau setiap orang telah berdosa. Salah satu akibat dosa itu adalah timbulnya rasa bersalah. Kita bisa bersyukur kalau masih timbul rasa bersalah, karena hal itu mendorong seseorang untuk meminta pengampunan.

Saat seseorang berbalik dari dosa kepada Yesus Kristus dalam iman, maka dosanya diampuni. Penyesalan itu bagian dari iman, yang menuntun seseorang kepada keselamatan (Matius 3:2; 4:17; Kisah Rasul 3:19).

Di dalam Kristus, dosa yang paling keji sekalipun telah dihapuskan (1 Korintus 6:9-11. Keselamatan itu berdasarkan anugerah, termasuk anugerah diampuni. Setelah seseorang diselamatkan, dia masih akan berdosa. Ketika dia berdosa, Allah masih menjanjikan pengampunan. “Jika seorang berbuat dosa, kita mem­punyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil” (1 Yohanes 2:1).

Jangan karena Yesus mengampuni kita, lantas setiap hari kita menabur dosa dan selalu berbuat kesalahan yang merugikan banyak orang. Seharusnya, kita menjadi berkat bagi banyak orang. Hanya saja, sikap seperti itu masih sering terkalahkan oleh sikap kita yang ingin menang sendiri dan menganggap diri benar.

Kebebasan dari dosa tidak berarti kebebasan dari perasaan bersalah. Sekalipun dosa kita sudah diampuni, kita masih mengingatnya. Melalui Wahyu 12:10, kita tahu bahwa kita memiliki musuh rohani yang disebut “pendakwa saudara-saudara kita”, yang tidak putus-putusnya mengingatkan kita akan kegagalan-kegagalan, kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita.

Apa yang harus kita lakukan ketika perasaan bersalah mendera dan membuat kita merasa takut untuk melangkah? Pertama, akuilah semua dosa yang diketahui, yang sebelumnya belum diakui. Dalam kasus-kasus tertentu, perasaan bersalah itu pantas, dan karenanya pengakuan diperlukan. Seringkali kita merasa bersalah karena kita memang bersalah!

Jangan menampik dan merasa paling benar ketika kita benar-benar telah melakukan kesalahan. Akuilah kesalahanmu kepada Tuhan dan jangan mengulangi kesalahan yang sama di hari-hari berikutnya.

Kedua, beranilah untuk bersikap sama sekali terbuka dan jujur di hadapan Allah. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong” (Mazmur 139:23-24a).

Ketiga, percaya kepada janji Allah bahwa Dia akan mengampuni dosa dan menyingkirkan kesalahan berdasarkan darah Kristus (1 Yohanes 1:9; Mazmur 85:2; 86:5; Roma 8:1). Ketika perasaan bersalah muncul untuk dosa-dosa yang telah diakui dan diampuni, tolak perasaan-perasaan semacam itu sebagai rasa bersalah yang keliru. Allah berpegang pada janji-Nya untuk mengampuni. Mazmur 103:8-12.

Walaupun Daud telah berdosa luar biasa saat itu, dia mendapatkan kebebasan dari dosa dan perasaan bersalah. Dia menghadapi penyebab kesalahan dan realitas pengampunan. Mazmur 51 menjadi bagian Alkitab lain yang baik untuk diteliti juga. Penekanan di sini adalah pengakuan dosa, ketika Daud memohon kepada Allah, dari hati yang penuh kesalahan dan kesedihan; pemulihan dan sukacita menjadi hasilnya.

Akhirnya, jika dosa sudah diakui, disesali dan diampuni, maka saatnya untuk melangkah maju. Ingat bahwa mereka yang telah datang kepada Kristus telah dijadikan ciptaan baru di dalam Dia. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17).

Setiap kali melakukan kesalahan, usahakan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dihari-hari berikutnya. Pastikan segala sesuatu yang kita perbuat bersumber dari Allah dan untuk kemuliaan Allah. Mengucap syukur dan selalu melakukan perbaikan-perbaikan sikap akan membuat kita semakin kuat dan semakin dewasa dalam Tuhan. Serahkan saja semua kekuatiranmu kepada Tuhan. Amin.

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s