Jangan Menghakimi Sebelum Waktunya

Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah. – 1 Korintus 4 : 4 – 5.

Nababan Berdoa
Nababan Berdoa

Firman Tuhan sangat tegas dalam menuntun kita untuk tidak menghakimi orang lain menurut ukuran kita sendiri atau menurut ukuran dunia. Seringkali saat ini manusia menghakimi seseorang dengan seenaknya saja. Orang miskin langsung dianggap bersalah karena tidak mampu membeli ‘pasal-pasal’ dalam aturan hukum yang cenderung memenangkan orang berduit.

Tak perlu heran kalau hari-hari belakangan ini kita seperti menyaksikan sebuah sinetron atau film yang sutradaranya adalah iblis. Media sosial seperti facebook, twitter atau yang lainnya sangat ramai dengan hujatan, vonis, adu domba dan cenderung menghakimi membuat orang-orang yang membacanya langsung naik darah, namun ada juga yang masih bisa menahan rasa dan mengelus dada.

Lukas 6 : 37 dengan tegas menuliskan “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.”

Tapi yang terjadi di sekitar kita adalah saling menghakimi dan menyatakan diri paling benar, tidak pernah salah dan lupa terhadap Sang Pencipta. Ketika kita bersengketa atau berselsih paham dengan teman, seringkali kita menyimpan rasa dendam dan benci terhadap teman kita tersebut. Padahal, kita sangat sadar apa yang kita lakukan sangat salah dimata Tuhan.

Matius 5 : 25 menuliskan “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara”.

Ada banyak orang saat ini merasa dirinya seperti tuhan, seperti dewa penyelamat dan bisa membawa bumi ini ke arah sebuah perubahan. Ada sekelompok orang yang merasa paling tahu aturan dan menganggap orang lain salah dalam banyak hal dan hanya dirinya yang benar. Ada sekelompok orang yang memaksakan kehendak untuk mengatur pemerintah dengan berbagai cara. Ada yang melakukan aksi demo menjurus ke demo anarkis dan menyebabkan orang lain terluka.

Dimana nurani kita ? Dimana hati dan perasaan kita saat ini ? Apakah kita sudah menjadi bebal dan merasa paling tahu dari Tuhan Sang Pencipta manusia dan alam semesta ? Terkadang ada kelompok tertentu yang berteriak dengan lantang bahwa si A telah bersalah dalam banyak hal. Ukuran kesalahan yang dikenakan adalah berdasarkan rasio pemimpin kelompok tersebut.

Di tengah situasi dan kondisi bangsa kita seperti sekarang ini, dimana kelompok tertentu masih belum menerima kekalahannya dalam pesta demokrasi pemilihan kepala daerah. Masih ada segelintir orang yang sulit sekali memberikan hatinya untuk berdamai. Rasa-rasanya untuk mencari kata DAMAI saat ini sangat sulit. Berdamai dengan diri sendiri saja sudah sangat sulit dilakukan oleh manusia, apalagi berdamai denga orang lain ?

Banyak manusia dan kelompok tertentu, saat ini sedang mencari nilai-nilai tentang Tuhan sebagai pegangan mereka. Dunia di sekitar kita selalu berubah-ubah, tapi Tuhan tidak pernah berubah. Dia tetap dan dapat dipercaya.

Dia berkata, “Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal! Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah.” Tuhan selalu ada. Dia dapat diharapkan. Dia “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Dan Tuhan mampu membuat diri-Nya dikenal, memberikan kita suatu kedamaian hati, dan menjaga hati kita dengan aman dan tenang.

Alkitab menuliskan, ”Semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah.” (Roma 3:23). Hari-hari belakangan ini, berbagai konflik pribadi pasti sering terjadi, mengingat lebih dari tujuh miliar orang di bumi tidak sempurna. Bagaimana kita bisa berdamai di bawah keadaan seperti itu? Alkitab juga memberikan nasihat yang bagus. Allah menginginkan anak-anak-Nya di bumi menikmati hubungan yang penuh damai. Dan, Ia memberi teladan dalam hal ini.

Ketika pasangan manusia pertama menghancurkan hubungan yang penuh damai dengan berdosa terhadap Allah, Ia segera mengambil langkah-langkah agar Ia dan manusia ciptaan-Nya bisa rukun kembali.

Tak perlu disangkal kalau saat ini ada banyak orang yang menunggu sampai waktu benar-benar sangat kejam terhadap kehidupannya, barulah mereka kembali kepada Tuhan dan meminta perlindungan kepada-Nya. Namun demikian, ada juga orang-orang yang tetap setia datang kepada Tuhan saat segalanya terlihat baik-baik saja.

Apakah orang lain harus tahu ketika kita sedang dalam tertimpa masalah atau musibah ? Ada kalanya orang lain tahu keadaan kita karena mereka memang benar-benar sangat dekat dengan keberadaan kita dan selalu berada di dekat kita ketika kita membutuhkan pertolongannya.

Kita tidak menginginkan kegagalan atau masalah untuk merasakan lubang persembunyian yang itu-itu juga setiap tahunnya. Lebih sering ketika kita kurang damai mengakibatkan ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita. Kadang-kadang berdamai dengan hati kita sendiri sulit kita lakukan.

Ketika kata hati kita mengatakan bahwa perbuatan korupsi itu tidak dikehendaki oleh Tuhan, ada perasaan bersalah dalam diri kita kalau kita melanggarnya. Tapi suara hati kita yang lain tetap menggoda dan mendorong kita untuk melakukan tindakan tidak terpuji itu demi untuk memuaskan nafsu dunia, memaksakan kehendak iblis yang mengorbankan hati kita yang sesungguhnya jujur dan lebih percaya dengan perintah Tuhan.

Yohanes 9 : 39 menuliskan “Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.”

Kemudian dalam Roma 2 : 1 – 3 dituliskan “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?

Kita boleh merancang sebuah cita-cita, keinginan, rencana tahunan atau rencana indah lainnya. Akan tetapi, untuk mewujudkannya kita tidak bisa memaksakan kehendak. Tuhan punya peran sangat kuat dalam menggiring kita untuk mewujudkan cita-cita itu. Kuncinya adalah : Berdamai dengan hati dan tidak menghakimi sesuka hati.

Ada banyak firman Tuhan yang mengingatkan kita tentang damai sejahtera. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” – Yohanes 14 : 27

Apa yang disampaikan dalam firman Tuhan ini, kiranya dapat menyadarkan kita bahwa kita harus berdamai dengan hati kita masing-masing untuk membuang ego, perasaan mau menang sendiri dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Menahan diri untuk tidak menghakimi orang lain sesuka hati kita. Amin. (Ana)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s