Hal Menepati Janji

Nababan Berdoa
Nababan Berdoa

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.– 2 Petrus 3 : 9.

Seorang teman bercerita tentang komitmen seseorang saat mencalonkan diri menjadi anggota dewan atau calon kepala daerah. Sebelum mencalonkan diri, orang tersebut sangat tahu bersyukur dan ramah terhadap semua orang. Biasalah kalau ada maunya ia akan ramah pada semua orang. Saat penghasilannya hari ini Rp. 500 ribu ia bersyukur. Saat kondisi keuangannya juga sedang sakit ia bersyukur.

Seiring waktu berjalan, Tuhan menjawab doanya dan menjadi salah seorang wakil rakyat atau kepala daerah. Teman yang bercerita tadi suatu ketika datang bertamu ke kantor wakil rakyat yang sudah duduk itu. Perilakunya berubah 180 derajat. Yang dulunya tahu bersyukur sekarang berubah menjadi tamak, yang dulunya ramah sekarang berubah menjadi orang yang tidak kenal siapa pun dan terkadang pura-pura tak kenal.

Ada juga tipe orang yang sangat mudah berjanji, tapi tidak pernah menepati janjinya. Saat kita menagih janji pada seseorang yang kita anggap teman baik, ia berkata “Ok, besok saya usahakan”, atau “segera malam ini saya kirim”, tapi ternyata setelah ditunggu beberapa saar janji itu tidak ditepati. Banyak orang yang begitu mudah memberi janji atau berkata ya dan kita menganggap mereka serius dengan janjinya, padahal itu mereka anggap hanya sebagai basa basi saja.

Jika kita bertemu dengan orang-orang seperti ini, jangan langsung termakan janji atau terlalu serius menanggapi janjinya. Sebuah janji bagi beberapa orang merupakan hal yang penting. Jika sudah berkata ya, maka kita harus melakukannya apapun risikonya. Namun bagi banyak orang janji punya tingkatan. Ada yang harus, ada yang kalau sempat, ada pula yang basa-basi saja. Ada banyak orang pula yang bahkan bersembunyi di belakang nama Tuhan.

Kalau mereka tidak melakukan, itu adalah karena Tuhan yang tidak mengijinkan, padahal sebenarnya merekalah yang malas. Ada banyak alasan orang berkata ya dengan cepat tanpa berpikir harus melakukannya. Misalnya karena segan, tidak mau membuat orang lain kecewa, atau alasan lainnya. Ketika kita berbasa-basi kepada orang lain menjawab ya tapi tidak menepati janji itu, maka kita telah membuat orang lain kecewa dan sakit hati.

Banyak juga orang yang suka membuat janji tapi tak ditepati dengan alasan yang dicari-cari. Kita menganggap itu wajar dan biasa-biasa saja, namun sifat seperti ini sangatlah tidak dianjurkan dalam Alkitab. Perilaku ingkar janji ini tidak berbeda jauh dengan berbohong.

Yesus berkata tegas : “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37). Ini merupakan hal serius yang harus kita sadari.

Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah, yang didasarkan dari 10 Perintah Allah: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16). Kenyataannya, manusia terkadang begitu beraninya bersumpah demi segala sesuatu, bahkan demi Tuhan untuk menutupi kebohongan. Ini jelas-jelas melanggar firman Tuhan.

Tuhan sangat tidak suka jika kita melakukan ini, bahkan dikatakan jijik dengan sikap/kebiasaan seperti ini seperti apa yang dikatakan Daud: “Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.” (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa penipu disamakan dengan pembunuh.

Berlebihankah? Saya rasa tidak, karena penipu, orang yang bersaksi dusta, orang yang ingkar janji bisa membunuh harapan, kepercayaan orang, bahkan karakter orang lain. Salomo di kemudian hari mengingatkan lebih lanjut: “Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.” (Amsal 19:5). Dan pada suatu ketika, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).

Membangun Kepercayaan

Berjanji pada seseorang tidak boleh asal janji kalau pada akhirnya tidak ditepati. Yehezkiel 16 : 59 menuliskan “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian.”

Kalau dalam pekerjaan kita terlalu sering mengingkari janji, maka atasan kita akan memberikan predikat karyawan yang suka ingkar janji kepada kita. Dengan predikat ini kita akan kesulitan mendapat penghargaan yang pantas dari atasan. Akibat terlalu sering mengingkari janji, atasan bisa saja melakukan pemutusan hubungan kerja.

Hal menepati janji, kita harus benar-benar berpedoman pada firman Tuhan dan selalu mengedepankan betapa janji itu sangat berharga. Kita harus mem­biasakan diri untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji, sekecil apapun hal yang dijanjikan itu. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain.

Kita harus mampu menjalani kehidupan yang bisa mendatangkan kepercayaan orang pada diri kita lewat kesetiaan kita dalam menepati janji atau menseriusi kata persetujuan yang kita berikan, dan itu akan jauh lebih terpercaya dibanding berusaha memperoleh kepercayaan lewat sumpah. Demikian pula dengan nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu. Jangan pernah menunda atau lupa membayar nazar, karena itu juga akan menjadi sebuah kebohongan yang sangatlah tidak berkenan di hadapan Tuhan.

“Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.” (Pengkotbah 5:4). Seperti apa yang diajarkan Yesus, hendaklah kita mau menghormati janji dan senantiasa menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Selebihnya merupakan kebohongan yang datang dari iblis. Jangan bilang ya jika anda tidak serius apalagi dengan memakainya sebagai basa basi saja. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh, like you really mean it.

Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang memang sungguh menyesakkan. Terkadang kita berkata jujur pun orang lain menganggap kita tidak jujur, ketika kita berkata tidak benar orang lain malah percaya dengan ucapan kita.

Dalam hal berjanji kepada siapa pun, upayakanlah untuk menepatinya dan jangan membuat orang yang kita janjikan itu jadi kecewa. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati tidak saja mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, tapi juga merupakan sebuah dosa menjijikkan di hadapan Tuhan. Jangan berjanji kalau pada akhirnya tidak bisa menepati janji. Amin.

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s