Mengucap Syukur Lewat Perayaan Pongal

Oleh : Pastor Moses Alegesan.

Nababan Berdoa
Nababan Berdoa

“Kaupeliharalah juga hari raya menuai, yakni menuai buah bungaran dari hasil usahamu menabur di ladang; demikian juga hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang.” – Keluaran 23 : 16

Hampir semua suku di Indonesia menggelar acara ucapan syukur pada saat musim panen. Karena, musim menuai adalah musim dimana kita men­dapatkan hasil dari jerih lelah kita selama beberapa bulan. Perayaan dan syu­kuran musim panen ini juga diperingati oleh warga India Tamil di berbagai ne­gara termasuk di Indonesia yang disebut sebagai Hari Raya Pongal.

Hari Raya Pongal adalah hari raya musim panen bagi warga India Tamil yang menandakan dimulainya musim menuai hasil tanaman dan disambut pada permulaan bulan Thai mengikuti kalender Tamil. Perayaan Pongal biasanya dirayakan setiap pertengahan bulan Januari selama empat hari.

Perayaan Pongal juga dianggap sebagai hari syukuran kepada Tuhan yang telah memberi berkat-Nya, yaitu memperoleh makanan dan air yang cukup, tempat tinggal yang layak dan keluarga yang bahagia serta membantu mengeratkan hubungan kekeluargaan di antara sesama anggota keluarga.

Perayaan Pongal sesungguhnya sudah ada sejak jaman dahulu dan dirayakan secara turun temurun menjadi budaya warga India Tamil. Kebudayaan ini diperingati dengan penuh sukacita melibatkan warga jemaat gereja Methodist Tamil di Medan.

Parayaan Pongal bagi India Tamil dirayakan serentak dengan perayaan Makara Sankranthi yang disambut di seluruh India dan warga India yang tersebar di seluruh dunia. Dalam acara ini ada tradisi penyediaan makanan berasaskan sayur-sayuran kampung, dengan demikian mendidik generasi muda mengenal masakan asli tradisi India.

Pongal, dalam bahasa Tamil berarti ‘melimpah ruah’. Susu melimpah dalam tungku tanah liat melambangkan kekayaan harta benda bagi penghuni rumah. Pada prinsipnya, peringatan hari raya panen ini diperingati selama empat hari. Hari pertama (Bhogi) adalah hari persiapan untuk membersihkan seluruh rumah, menyingkirkan semua barang yang tidak perlu.

Hari kedua (Thai Pongal) dikenal sebagai Thai Pongal. Ucapan ‘Thai Pirandhal Vazhi Pirakkum’ berarti “permulaan Thai membuka peluang baru” sering diucapkan dengan perayaan hari Thaipongal. Pada acara yang dilakukan ialah memasak nasi/beras atau biji-bijian yang dituai bersama susu lembu sehingga melimpah dari periuk.

Perbuatan membiarkan masakan itu melimpah dikenali sebagai Pongal dalam bahasa Tamil. Tiang penyangga tungku yang dibuat dari tebu melambangkan manis dan keharmonisan. Hari ketiga disebut Mattu dimana hewan seperti lembu adalah sangat berguna bagi para petani, mereka akan menghiasi lembu dan sapi dalam perayaan ini. Bagi umat Kristen, tradisi yang satu ini tidak dilaksanakan. Hari keempat dikenal dengan Kaanum Pongal yaitu hari istimewa untuk wanita khusus yang belum menikah.

Pada prinsipnya, masyarakat atau penduduk lembah Shindu (Tamil Kuno) adalah masyarakat agraris yang rajin bercocok tanam dan bukan pemalas. Jika dikaitkan dengan Alkitab, festival ini dimaknai sebagai festival panen utama bangsa Yahudi yang ada dituliskan dalam kitab Keluaran dan Ulangan.

Dalam konsep sebagai festival panen, perayaan ini menandakan berakhirnya musim panen. Para petani datang ke Yerusalem bersama keluarganya untuk bersyukur atas hasil panen yang mereka terima. Pesta panen atau hari raya panen sesungguhnya di beberapa suku bangsa yang ada di Indonesia juga dirayakan sebagai sebuah tradisi turun temurun. Di suku Batak Toba ada namanya pesta gotilon (pesta panen), suku Karo disebut kerja tahun dan bagi suku-suku lainnya juga ada pesta ucapan syukur ini dilaksanakan.

Upacara atau perayaan pesta panen yang digelar dalam bentuk yang beragam harus dilestarikan. Karena acara-acara seperti ini juga sangat sarat dengan nilai-nilai yang membuat kita mengerti betapa pentingnya mengucap syukur atas berkat-Nya kepada kita.

Firman Tuhan dalam Imamat 23 : 22 dituliskan “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.”

Kemudian Ulangan 24 : 19 menuliskan “Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda–supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu.”

Dalam hal mengucap syukur atas berkat yang diberikan Tuhan kepada kita, tidak harus jadi petani atau pekerja di lading yang menuai hasil saat musim panen. Semua pekerjaan yang diberikan Tuhan dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga adalah bagian dari bekerja di ladang Tuhan.

Ketika meraskan hadirat Tuhan dan hadirat Tuhan bekerja dalam kehidupan kita, yang pertama harus kita lakukan adalah datang ke rumah Tuhan dan berikanlah sebagian hasil panenmu yang terbaik ke rumah Tuhan, kedua rajinlah bekerja dan jangan jadi umat pemalas, dan yang ketiga adalah berbagi dengan warga masyarakat yang kekurangan atau masyarakat miskin yang masih membutuhkan pertolongan. Ini adalah perwujudan dari perayaan pesta panen yang bisa mensejahterakan seluruh umat.

Dalam 1 Tesalonika 5 : 18 dituliskan “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Firman Tuhan ini mengajar kita agar selalu mengucap syukur dalam segala situasi, baik dalam suka dan duka. Amin.

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s