Menjadi Teladan bagi Orang Percaya

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. – 1 timotius 4 : 12.

Nababan Berdoa
Nababan Berdoa

MENJADI teladan dan panutan tidak semudah membalik tangan. Ada banyak hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan. Di era teknologi yang sema­kin canggih seperti sekarang ini, anak-anak lebih meneladani tokoh-tokoh yang ada di dalam film atau sinetron. Anak-anak sekarang sudah lebih mengidolakan orang lain dibandingkan meneladani orangtuanya.

Kenapa ? Karena, banyak orangtua saat ini yang menyerahkan segala sesuatu urusan anak kepada pembantu. Orangtua sibuk dengan kerjanya masing-masing. Alasan orangtua adalah sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan anak-anaknya. Dari segi materi, kebutuhan anak mungkin terpenuhi dengan berlimpah. Bagaimana dengan kebutuhan rohaninya ? Orangtua sering salah dalam menyikapi permasalahan ini.

Ada anggapan, dengan memenuhi kebutuhannya tugas orangtua sudah selesai. Sementara kebutuhan rohaninya terabaikan. Akibatnya, banyak anak-anak sekarang yang salah arah. Pengalaman saat menyampaikan materi di hadapan para siswa dan menanyakan kepada mereka tentang bagaimana mereka dan kehidupan mereka sehari-hari. Ada anak yang menyampaikan bahwa ia hanya bisa ketemu dengan ayahnya pada hari Sabtu dan Minggu. Itu pun dengan kegiatan yang kurang mengena dihati anak-anak.

Walau sudah berada di rumah atau makan bersama di luar rumah, orangtua masih sibuk dengan telepon genggam dan tidak ada interaksi antara anak dengan orangtua. Padahal, di saat-saat seperti ini sesungguhnya anak sangat membutuhkan perhatian dan orangtua. Minimal menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah atau bagaimana dengan teman-temannya di sekolah.

Dan saya pun kagum dengan semangatnya untuk tidak hanya berhenti memberikan penampilan baik di panggung dan di rekaman, tetapi juga menjalankan komitmennya untuk mengajar. Itu sebuah keteladanan yang sangat mencerahkan dan menggembirakan bagi saya.

Ditengah situasi dan desakan kebutuhan ekonomi seperti sekarang ini ada berapa banyak sosok yang layak untuk diteladani dalam kehidupan kita sehari-hari ? Apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Ada banyak orang yang menolak dengan berbagai alasan untuk menjadi teladan atau panutan bagi orang-orang disekitarnya. Mengapa harus saya? Biar orang lain saja kita teladani, kita tidak perlu sibuk untuk itu. Itu menjadi buah pemikiran banyak orang saat ini. Dan itu bukanlah sesuatu yang dianjurkan untuk menjadi pola pikir orang percaya.

Alkitab dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Firman Tuhan selalu mengingatkan kita untuk terus berusaha menjadi teladan dalam banyak hal.

“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Titus 2:7).

Kalau dalam kehidupan nyata, orangtua dikatakan berhasil ketika anak-anaknya bisa meneladani orangtuanya dan menjadi teladan bagi keturunannya (anak dan cucunya). Dalam konteks ini kita bisa melihat bagaimana proses pemindahan atau transfer ilmu dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidaklah cukup. Kita harus mampu melanjutkannya sampai kita bisa mencontohkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus Menjadi Teladan yang Sesungguhnya

Perlu diingat, dalam prakteknya tidak hanya teori, tetapi haruslah disertai dengan proses pula. Jika kita hanya pintar mengajarkan tapi tidak pernah membuktikannya lewat hidup kita sendiri, itu artinya semua hanyalah teori kosong dan bohong belaka. Buat apa kita bercerita tentang banyak hal terkait kebaikan orang lain sementara diri kita sendiri tidak baik dan bertolak belakang dengan apa yang kita ceritakan.

Yesus merupakan contoh sempurna akan hal ini. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih dengan standar yang sungguh jauh dari apa yang dipandang dunia, tapi lihatlah bahwa Yesus tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidup-Nya secara nyata. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27.

Yesus berkata: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Lalu di waktu berbeda Yesus berkata: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12).

Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita semua. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15 : 13). Dan Yesus pun telah membuktikannya secara langsung pula. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.

Ini baru dua contoh dari banyak pesan Yesus yang tidak berhenti hanya pada perkataan saja melainkan disertai pula dengan bukti nyata. Berulang kali Yesus mengingatkan kita untuk meneladani Dia, itu artinya sangatlah penting bagi kita untuk menganggap serius hal itu.

Rasul Paulus juga mengingatkan kita mengenai pentingnya keteladanan dalam pelayanan, seperti yang ia sampaikan kepada Timotius. “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)

Jelas terlihat bahwa sesungguhnya masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi harus sudah diaplikasikan di usia muda. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia, dan hidup suci atau kudus.Kembali pada surat kepada Titus diatas yang berkata “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Titus 2:7), Paulus mengingatkan banyak hal juga.

Kepada pria dinasihati untuk memiliki pola hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, kasih dan ketekunan (ay 2). Sedang untuk wanita, Paulus mengatakan keharusan untuk “hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik.” (ay 3).

Disamping itu wanita pun diingatkan untuk mendidik perempuan-perempuan muda dan mengasihi suami dan anak-anaknya. (ay 4), hidup bijaksana dan suci, pintar mengatur rumah tangga, baik hati dan taat kepada suami. (ay 5). Lalu selanjutnya untuk orang muda, Paulus menasihatkan agar para pemuda-pemudi bisa menguasai diri dalam segala hal. Semua ini menunjukkan bahwa menjadi sosok teladan itu tidaklah gampang, tetapi itu adalah sesuatu yang wajib untuk bisa kita lakukan.

Menjadi teladan perlu proses dan komitmen yang tulus, bijaksana serta bertanggungjawab. Yesus menjadi teladan yang bisa kita pedomani. Dengan meneladani Yesus, kita akan merasa bersalah ketika melakukan hal-hal yang tidak berkenan dihadapan Allah. Berbuat baik senantiasa, jujur dalam bekerja serta mengasihi sesama manusia adalah salah satu wujud dari kita menjadi teladan, tidak hanya ditengah keluarga tapi juga ditengah masyarakat sekitar kita. Kita harus menjadi teladan bagi orang percaya. Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s