Jangan Kuatir akan Hidupmu

Nababan Berdoa
Nababan Berdoa

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.– Lukas 12 : 22 – 23.

Siapa manusia di dunia ini yang tidak pernah mengalami kekuatiran? Kekuatiran adalah rasa takut dan rasa cemas yang membuat kita ketakutan untuk sesuatu hal. Padahal, kita tahu betul sesuatu yang kita cemaskan itu belum tentu terjadi dalam hidup kita. Kekuatiran hadir pertama kali dalam kehidupan manusia sebagai akibat dosa.

Kekuatiran merupakan dampak dari kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam dosa. Akibat dari kejatuhan itu, dosa telah menjalar kepada semua manusia dan menjangkau setiap aspek kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh.

Biasanya, kalau di dalam keluarga hal kekuatiran paling dominan dialami oleh ibu-ibu yang lebih banyak mengurus keluarga. Listrik padam atau air tidak mengalir, ibu-ibu akan kuatir luar biasa. Tidak hanya masalah listrik padam atau air tidak mengalir, ketika anak pulang terlambat sekolah maka ibu-ibu akan langsung menelepon atau menanyakan hal tersebut kepada suami.

Saat persediaan beras dan garam habis pun, ibu-ibu sangat kuatir dan segera menjerit kepada suaminya. Hari ini kita makan pakai apa ? Firman Tuhan di atas mengingatkan kita agar tidak terlalu kuatir dengan apa yang akan kita makan dan apa yang akan kita minum. Sama halnya dengan masalah pakaian dan kebutuhan hidup lainnya.

Terkadang, kita terlalu berlebihan rasa kuatirnya. Karena tidak naik pangkat dan dapat penghasilan yang cukup, kita cenderung menyalahkan Tuhan. Tragisnya lagi kita justru mengambil jalan pintas dan melakukan tindakan yang salah dan bukan tindakan yang dikehendaki Tuhan. Kita malah tergoda untuk melakukan tindak pidana korupsi atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Ada banyak bentuk kekuatiran manusia yang menjadikan kita semakin takut dalam banyak hal. Ketika awalnya kita tak merasa kuatir saat melakukan kejahatan, lalu tiba-tiba merasa sadar telah melakukan kesalahan barulah rasa kuatir muncul dan membuat kita merasa ketakutan. Ketika Adam berdosa dengan cara melanggar perintah, maka ia mulai sadar akan dirinya, menyadari kesalahannya, dan menjadi takut kepada Tuhan.

Ketakutan ini diekspesikan dengan menyembunyikan dirinya dari hadapan Tuhan (Kejadian 3:7-11). yang menyatakan, “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

Saat ini, banyak orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan hidup di dalam ketakutan. Mereka kuatir bahwa apa yang telah mereka lakukan diketahui orang lain, dan menyadari konsekuensi yang akan dialami akibat perbuatan mereka tersebut. Supaya kesalahan atau kejahatan tersebut tidak ketahuan, maka mereka berupaya sedemikian rupa untuk menutupinya. Tujuannya adalah supaya dosa itu tidak diketahui orang lain! Tetapi justru hal ini yang menjadikan hidup mereka hancur karena kekuatairan akan “terbongkarnya” kesalahan dan kejahatan terus membayangi hidup mereka.

Kekuatiran yang sangat kuat juga akan terjadi ketika kita jatuh sakit. Di dalam hati kita berkata “Tuhan, jangan sekarang ambil nyawaku. Masih ada beberapa persoalan yang harus aku selesaikan”. Kalimat ini akan terucap saat kita jatuh sakit. Atau ada juga yang karena kuatir menderita terlalu lama dengan penyakitnya, meminta kepada Tuhan agar segera mencabut nyawanya.

Firman Tuhan “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4 : 6) paling tidak mengingatkan kita agar tidak kuatir dengan apa pun kalau kita berserah kepada Tuhan.

Orang yang kuatir tentang apa yang akan terjadi di masa depan terkadang sampai lupa mengurus apa yang sedang ada dihadapannya. Banyak dari kita saat ini kuatir kesulitan masa depan, kuatir tentang kesehatan, kuatir tentang pekerjaan, kuatir tentang keluarga, dan yang lainnya.

Dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus tentang seorang penabur. Tertulis dalam Markus 4 : 5 – 8. “Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.”

Perumpamaan ini mengingatkan kita akan arti pentingnya sikap bijaksana dalam melakukan segala sesuatu. Sama halnya dalam berperilaku, kalau kita gegabah dalam mengambil keputusan, maka keputusan yang salah akan berdampak sepanjang hidup kita. Kalau kita kuatir dan tidak berpengharapan kepada Tuhan, maka kita akan dihantui perasaan takut dalam melangkah.

Dalam Yeremia 33 : 3 dituliskan “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s