Kita Tidak Kuat Kalau Sendiri

 “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” – Amsal 18 : 12

Menghargai pendapat orang lain berarti kita belajar untuk menerima keberadaan seseorang, apakah pendapatnya positif atau negatif yang terpenting adalah berani mengeluarkan pendapat dan orang-orang yang mendengarnya belajar untuk tidak menentang, tapi menerima dan mempertimbangkannya. Karena keputusan akhir adalah hasil musyawarah.

Di beberapa daerah yang namanya kerukunan antar umat beragama masih sangat terawat dengan baik. Kerukunan begitu terjaga sangat erat, tak ada yang mempermasalahkan latar belakang seseorang. Yang ada adalah saling jaga dan saling menghargai antar sesama. Tak perlu tinggi hati atau merasa paling segalanya, karena ketika kita merasa paling segalanya di saat itulah kita menunjukkan kebodohan kita.

Saya berharap, kerukunan umat beragama di berbagai daerah masih tetap terjaga dengan baik.

Di tengah situasi dan kondisi sekarang sudah lebih banyak orang yang mementingkan diri sendiri daripada perduli dengan orang lain. Dampak positif dan negatif dari perkembangan teknologi informasi, yang antara lain adalah era media sosial yang membuat semua kalangan jika tidak bisa menguasai diri, kehadiran media sosial telah mengakibatkan seseorang bisa bertahan di rumah saja tanpa mau lagi berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Himbauan dari pemerintah dengan diberlakukannya Undang Undang Informasi dan Teknologi adalah jangan pernah membuat status provokatif yang menyulut emosi siapa saja yang membacanya.

Mari kita sama-sama memperbaiki apa yang salah selama ini. Mari sama-sama membangun kepedulian dalam membangun kebersamaan dan kerukunan.

Firman Tuhan dalam Amsal 22 : 1 “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”

Kenyataan yang ada sekarang adalah justru sebaliknya, orang lebih banyak menumpuk harta dengan cara-cara yang salah. Mereka beranggapan dengan harta yang berlimpah mereka akan dihargai. Kalau menurut ukuran duniawi mungkin dengan harta berlimpah tapi sikap tidak terpuji dan tak pernah bersyukur sama saja akan binasa dengan hartanya.

Apakah kita akan bersama-sama dengan harta kita ketika Tuhan berkehendak lain ?

Mengucap syukur dalam segala hal menjadi senjata paling ampuh bagi kita untuk bisa bertahan dalam kondisi apa pun. Itu sebabnya seperti judul di atas, kita tidak akan kuat kalau sendiri.

Amsal 27 : 1- 2 menuliskan “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu. Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri.”

Hari-hari belakangan ini semakin membingungkan. Terkadang kita berkata yang sesungguhnya justru orang lain beranggapan bahwa kita sedang membohonginya.

Di saat kita berniat baik untuk menolong orang lain, justru anggapan negatif yang muncul di pikirannya. Orang tersebut langsung menjaga jarak karena takut dengan pertolongan itu ia akan terbeban dan merasa berhutang. Padahal, sudah sejak awal orang tersebut mengungkapkan bahwa pertolongannya itu murni dari lubuk hati bukan karena mau mengharapkan sesuatu yang lain.

Walaupun sesungguhnya banyak juga orang yang memang benar-benar mengharapkan balas jasa. Kalau kita memiliki rasa saling menghargai dan merasa tidak bisa hidup sendiri, mari sama-sama kita saling menguatkan dan saling menopang antara yang satu dengan yang lain. Pastikan setiap langkah percayakan pada penyertaan Tuhan. Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s