Direktur RSU Tarutung Bentak-Bentak Keluarga Pasien

KeluargaTarutung – Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarutung, semakin bobrok. Banyak masyarakat yang berobat kesana merasa kesal dan lingkungan yang kurang bersih.

Bahkan dengan arogannya, Direktur RSUD Tarutung dr Ganda Nainggolan membentak-bentak keluarga pasien kritis karena mengadukan masalah penanganan yang tidak dilakukan terhadap seorang ibu bernama, Dianovita boru Sembiring (38), warga Sipahutar III, Kecamatan Sipahutar ke ajudan Bupati Taput.

“ Pak Direktur itu dengan suara keras mengatakan untuk apa mengadu kesana kemari dan tidak ada gunanya. Ke Kapolri pun kau mengadu maupun ke Tuhan Yesus, saya tidak takut. Jika kau mengadu kenapa rupanya. Ada apa mengadu-mengadu. Semua masyarakat harus mengerti bahwa pelayanan itu bukan secepat kilat,” ujar Cupeng Silitonga (42), suami dari pasien Dianova boru Sembiring, Senin (29/8).

Dia menuturkan, kronologis istrinya (Dianova) sekarat di RSUD Tarutung pada Minggu (21/8) pukul 09.00 WIB. Istrinya dibawa ke RSU Tarutung ke bagian IGD karena mengalami kecelakaan di Sipahutar. Begitu mereka tiba di bagian IGD, para perawat di sana langsung membuat perban di bagian yang luka.

Tanpa ada penanggulangan hingga malamnya, tiba-tiba sekira pukul 20.00 WIB, dr Benni Pardede mengatakan jika kaki istrinya harus diamputasi. Begitu juga keselamatan istrinya juga tidak dijamin. Selanjutnya mereka memanggil keluarga untuk menandatangani sepucuk surat.

“Istri saya lagi sekarat Pak dokter karena kehabisan darah. Tolonglah dibuat tindakan medis dengan menambah darah. Tolong dibuat suntikan medis. Istri saya pasti hidup. Jangan menakuti kami Pak dokter. Lihatlah istri saya lagi sekarat,” ungkapnya.

Berselang setengah jam, dokter itu datang lagi dan mengatakan memang harus tambah darah biar dapat diselamatkan. Sekeluarga pun setuju namun uang harus diberi dulu Rp 500 ribu baru diberi kantong darahnya. Lalu diminta lagi Rp 500 ribu untuk 2 kantong lagi. Uang itu langsung diberikan.

Selanjutnya, dokter itu mengatakan kalau ada mobil agar langsung saja berobat ke RS di Pematangsiantar karena tidak dapat lagi ditolong di sini. Jikapun balik ke RSUD Tarutung akan diterima.

Atas perlakuan itu, Silitonga langsung menghubungi supir Bupati Taput bermarga Silitonga dan selanjutnya mengarahkan untuk menghubung ajudan bermarga Tampubolon. Selanjutnya menyuruhnya untuk menemui Direktur RSUD Tarutung dr Ganda Nainggolan.

Begitu ketemu, ia justru membentak bernada arogan. “Kau ini mengadu kesana-kemari. Sama siapa pun kau adukan, saya tidak takut. Ke Kapolri ataupun ke Tuhan Jesus, saya tidak takut. Ingat itu,” ujar Silitonga menirukan ucapan dr Nainggolan. Ia berharap agar istrinya yang sekarat segera dilakukan tindakan medis. Namun hal itu tidak digubris. “ Saya meninggalkannya dan memikirkan nasib istri saya yang sudah sekarat,” ungkap Silitonga.

Dia menyebut, karena ketakutan akan nasib istrinya yang masih sekarat di RSUD Tarutung, selanjutnya ia menghubungi Wakil Bupati Taput Mauliate Simorangkir.

“Bapak itu mengatakan akan memperbaikinya. Jangan dulu dilakukan tuntutan lain. Namun begitu untuk perbuatan tindakan medis kepada istri saya belum juga dilakukan. Dengan kondisi sekarat, akhirnya istri saya dibawa ke RSU Djasamen Saragih di Pematangsiantar,” ujar Silitonga.
“Syukur kami panjatkan kepada Tuhan, istri saya sekarang sudah mulai sehat. Dokter di RSU Djasamen Saragih menyebut istri saya sempat sekarat karena tidak ada tindakan medis, seperti suntikan tetanus. Istei saya kehabisan darah karena sempat dibiarkan selama 12 jam tidak ditanggulangi. Kami mohon agar Pak Bupati (Nikson) melakukan evaluasi kepada direktur RSUD Tarutung yang arogan itu. Mohon pak bupati, pelayanan di RSUD Tarutung itu sudah bobrok,” ujar Silitonga.

Dia menambahkan, kedatangannya ke RSUD Tarutung untuk menagih uang dua kantong darah yang tidak dimasukkan kepada istrinya. “Empat kantong darah sudah saya bayar. Hanya dua kantong yang dimasukkan ke istri saya. Itu yang saya tagih kepada mereka. Saya masih menunggu ini,” ujar Silitonga dengan kesal.

Sementara itu, Ketua LSM Ketua LCKI (Lembaga Cegah Korupsi Indonesia) yang dihubungi wartawan, Senin (29/8) terkait arogansi oknum direktur RSUD Tarutung dr Ganda Nainggolan dan bobroknya masalah pelayanan medis. Dia meminta agar bupati melakukan evaluasi terhadap direktur RSUD Tarutung dan melakukan pembenahan kembali di rumah sakit tersebut.

“Sungguh keterlaluan oknum direktur RSUD Tarutung itu membentak-bentak keluarga pasien yang sudah kritis. Harusnya dia sebagai pelayan medis melakukan sikap santun dan lembut layaknya pelayan masyarakat. Bukan seperti preman di terminal dengan mengeluarkan bahasa tidak baik. Orang seperti ini tidak perlu lagi dipakai sebagai pimpinan rumas sakit. Bagaimana mungkin masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik dari para medis disana jika direkturnya saja berperilaku buruk. Dia itu sudah merusak program bupati yang sedang melakukan pembenahan di sektor kesehatan. Kami minta agar direktur RSUD Tarutung itu dicopot,” tegas Ketua LCKI (Lembaga Cegah Korupsi Indonesia) Sumut Parlin Sihotang kepada sejumlah wartawan, Senin (29/8) di Bandara Silangit sebelum bertolak ke Medan.

Tim dari LCKI Sumut minggu ini akan turun ke berbagai kabupaten/kota untuk melakukan investigasi terkait penyalahgunaan anggaran pembangunan tahun anggaran 2015. Ini berdasarkan laporan masyarakat, termasuk di Taput, khususnya di sektor kesehatan.

“Jadi perlakuan oknum direktur RSUD Tarutung itu sudah keterlaluan dan tidak mencerminkan sebagai pelayan kesehatan bagi masyarakat. Sudah banyak laporan kepada LCKI menyangkut masalah di RSUD Tarutung, yakni masalah pelayanan dan pemanfaatan BPJS, penggunaan dana-dana serta minimnya dokter spesialis. Semuanya dalam waktu dekat akan kita laporkan ke aparat hukum. Jangan main-main oknum direktur RSUD Tarutung itu. Kerjanya tidak beres,” ujar Sihotang.

Terpisah, Direktur RSUD Tarutung yang dihubungi wartawan, Senin (29/8) terkait masalah pembentakan tersebut, tidak berada di kantor. Beberapa staf di kantor mengatakan, direktur RSUD Tarutung sedang tugas luar. “Pak direktur sedang keluar,” ujarnya singkat.(as)

Satu pemikiran pada “Direktur RSU Tarutung Bentak-Bentak Keluarga Pasien

  1. harris s

    Sistim pelayanan kesehatan di Taput dan kab. sekitarnya harus di-revolusi mental. Tampaknya dokter2 tertentu menurunkan pelayanan (by design) ke pasien2 agar selanjutnya pasien2 berobat ke klinik2 yang dikelola oleh para oknum dokter di luar RS. Oknum dokter tertentu mengarahkan pasien selesai kontrol di RS untuk kontrol selanjutnya di klinik mereka. Jadi mereka berkepentingan pelayanan RS relatif rendah agar beralih ke klinik mereka. Sebagai contoh, dokter yang bertugas di Dolok Sanggul bikin klinik di Siborong2 dan Dokter yang bertugas di Tarutung mengelola klinik juga di luar Tarutung. Ini menjadi PR tersendiri buat Bupati kita. Semoga Tuhan memberi kebijaksaan kepada beliau utk membenahi ini.

    Suka

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s