Hotlan Hutagalung Pruduksi Toge 4 Ton Per Bulan

TogeTarutung – Tanpa memiliki lahan untuk diolah, Hotlan Hutagalung (48), warga Desa Hutatoruan I Hariara, Tarutung, sukses menggeluti usaha membuat toge. Dalam sebulan, ia mampu menghasilkan 4 ton toge.

Ketika wartawan berkunjung ke rumah Hotlan, tampak lokasi yang digunakan untuk mengolah kacang hijau menjadi toge hanya berukuran 2×5 meter. “Saya mulai memproduksi usaha ini sejak 2014 dan langsung berkembang. Biasanya saya bisa menghasilkan 1.000 kg dalam sekali panen untuk seminggu. Kalau sebulan bisa mencapai 4 ton,” ungkapnya.

Cara mengolah toge tersebut tanpa menggunakan media tanah. Ia hanya memakai bahan baku kacang hijau. Kacang yang dipakai ada yang dari Thailand dan Surabaya. “Kebetulan yang saya pakai sekarang ini dari Surabaya yang dikirim melalui diambil dari Medan,” ujar Hutagalung didampingi istrinya boru Situmorang.

Menurutnya, bahan baku kadang sulit dicari karena bermacam-macam kacang hijau yang digunakan untuk membuat toge. Sebab tidak ada alat pendeteksi bahan baku. Misalnya, dia mencoba terlebih dahulu lima biji untuk diproduksi. Jika hasilnya sesuai, baru diproduksi.

“Pemerintah melalui instansi terkait kiranya dapat membantu penyediaan untuk bahan bakunya supaya bisa dipasarkan. Karena per minggu saja dalam jangka 5 hari sudah bisa jadi toge. Caranya hanya disiram saja setiap jam memakai air. Tapi, terlebih dahulu kacang tersebut dibuat dalam ember,” ujar pria yang memiliki tiga orang anak tersebut.Hotlan menyebutkan, satu zak kacang hijau dibeli seharga Rp500 ribu dan sesuai pesanan dibeli hingga 20 zak untuk diproduksi. Salesnya saja sudah mencapai 40 orang.

“ Pesananan dipasarkan sudah sampai ke daerah Kecamata Pahae Julu, Pahae Jae, Sipahutar dan Pangaribuan. Sedangkan untuk di luar daerah, yaitu Sidimpuan dan Humbahas, namun tetap kita butuh bantuan pemerintah untuk pengembangannya,” pintanya.

Sementara itu, informasi dihimpun, jika sayur toge tidak dipasarkan, pedagang toge kadang mengeluh. Sebab, harga toge dijual di pasar sangat laris dengan harga Rp 8.000 ribu per kilogram. Dari Dinas Perusda Taput S Hutasoit sudah pernah berkunjung ke rumah tersebut, namun hanya melihat saja belum ada tanggapan terkait hal tersebut.(as)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s