Belajar Menerima Perbedaan Pendapat

“Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.” – Galatia 1 : 9

Perbedaan pendapat antara yang satu dengan yang lain adalah hal biasa, yang luar biasa adalah ketika kita egois dan tidak pernah menerima perbedaan pendapat. Orang tua kita dulu selalu mengajarkan betapa pentingnya menerima pendapat orang lain atau menghargai apa pun pendapat orang tentang sesuatu hal.

Orang-orang yang tidak menghargai perbedaan pendapat, biasanya pengajaran dari orangtua yang salah ketika anak masih kecil. Anak-anak dibiarkan bebas bergaul dan mendapatkan masukan-masukan yang negatif dari lingkungan tempat tinggalnya.

Di lingkungan kerja atau di sekolah, kita sudah diajarkan demokrasi, untuk selalu menghargai pendapat orang lain. Warna yang ada di muka bumi ini pun sangat beragam, bagaimana rasanya kalau warna yang ada hanya warna hitam dan putih, pasti banyak orang yang protes karena diantara mereka ada yang tidak menyukai warna putih atau hitam.<!–m

Ketika perbedaan pendapat tidak bisa kita terima, berarti ada yang salah di dalam diri kita. Yang pertama adalah kita terlalu egois dan memaksakan kehendak untuk memaksa orang lain setuju dengan pendapat kita. Padahal, pendapat kita belum tentu baik bagi orang lain yang ada di sekitar kita.

Itu sebabnya, sejak kecil kita sudah ditanamkan untuk menerima sebuah perbedaan. Ketika orangtua kita dulu membelikan baju baru untuk kita pakai pada acara-acara besar keagamaan, pastilah baju yang kita gunakan dengan saudara, abang, kakak, adik atau dengan orangtua berbeda. Paling tidak berbeda ukuran dan modelnya kalau yang memakainya laki-laki atau perempuan.

Hal-hal kecil yang menjadi perbedaan perlu kita perhatikan. Bahkan dalam memberikan perhatian kepada anak-anak kita pun sulit untuk menyamakannya. Ada kalanya kita memperhatikan anak perempuan, ternyata anak yang laki-laki cemburu atau sebaliknya.

“Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.” – Maleakhi 3 : 18

Firman Tuhan ini, dimana sejak kecil orangtua selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak berbuat kejahatan, tidak membodohi orang lain, mencaci orang lain, memaksakan kehendak, egois atau merendahkan sesama ciptaan Tuhan. Karena hukum tabur tuai berlaku bagi kehidupan manusia.

Di kota Tanjung Balai baru saja terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Pengajaran yang salah dari orangtua seringkali menjadi penyebab anak-anak sekarang sulit menerima perbedaan. Pantang disindir sedikit, maka akan terjadi perpecahan yang membuat orang lain bertepuk tangan. Tak perlu heran kalau hari-hari belakangan ini makin banyak perbuatan-perbuatan yang menunjukkan keegoisan, iri hati dan dengki.

Pembunuhan dan perampokan semakin merajalela karena adanya dorongan yang salah di dalam hati kita untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Padahal, hati kecil kita tidak menerima cara-cara yang salah dan merugikan orang lain.

Di muka bumi ini ada banyak perbedaan antara si kaya dan si miskin. Ada kalanya, ketika seseorang menerima uang yang sangat banyak bisa mendadak kaya. Akan tetapi, ada kalanya semua harta yang dulu ia peroleh habis terjual hanya untuk biaya berobat karena sakit atau membayar hutang-hutangnya. Bahkan, ada dalam kehidupan kita sehari-hari dimana kehidupan seseorang atau jabatan seseorang dalam sekejap bisa diambil oleh Tuhan karena kesombongannya, keangkuhannya atau karena tidak tahu bersyukur atas berkat Tuhan.

“Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?”. – Maleakhi 1 : 6

Firman Tuhan ini mengingatkan kita agar saling menghargai dan menghormati. Ada banyak persepsi yang muncul di dalam pikiran kita ketika seseorang yang diberi kepercayaan lantas menyalahgunakan kepercayaan itu demi untuk keuntungan pribadi. Dari paparan ini dapat kita ambil hikmahnya bahwa seseorang yang instan dalam memperoleh kekayaan, berarti caranya tidak benar dalam mendapatkan kekayaannya. Bisa jadi, jangka waktu kekayaannya juga instan, mungkin hanya tiga bulan, atau lima tahun.

Banyak orang saat ini bisa kaya mendadak karena korupsi, membodohi orang lain atau berbisnis gelap yang tidak dikehendaki Tuhan. Menjual benda-benda haram dan terlarang seperti narkoba. Anak Tuhan hari-hari belakangan ini harus waspada dengan serangan narkoba yang bisa mematikan karakter iman kita.

Sudah banyak contoh dan teladan yang bisa kita peroleh dari berbagai ritme kehidupan di muka bumi ini. Ada yang bisa kita jadikan pelajaran untuk menjalani hidup di kemudian hari, ada yang bisa kita jadikan contoh ketika kita melihat seseorang yang begitu sabar dalam melayani dan selalu mengucap syukur dalam segala kondisi.

Firman Tuhan dalam Galatia 6 : 7 – 8 mengatakan “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”

Sebenarnya, ada banyak ayat di dalam Alkitab yang mengingatkan kita untuk selalu hidup benar di dalam Tuhan. Tak perlu terlalu berambisi untuk menjadi pemimpin kalau pada akhirnya kita hanya jadi pemimpi yang tak pernah bisa mewujudkan mimpi kita menjadi pemimpin. Hal ini sulit diwujudkan karena kita tidak pernah berpengharapan kepada Tuhan dan menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan.-

Firman Tuhan juga banyak memberi contoh orang-orang yang sukses, berhasil dalam banyak hal. Akan tetapi ada juga yang setelah diberkati Tuhan dengan berlimpah menjadi tinggi hati. Contohnya adalah Raja Uzia tetulis dalan “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.”- 2 Tawarikh 26 : 16.

Pada ayat 21 dituliskan “Raja Uzia sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, karena ia dikucilkan dari rumah TUHAN. Dan Yotam, anaknya, mengepalai istana raja dan menjalankan pemerintahan atas rakyat negeri itu.”

Berbuat baik dan berbuat baik saat ini sering dicurigai oleh orang-orang tertentu sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Dan kenyataan di lapangan memang sangat banyak orang yang melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan balasan budi baik.

Galatia 6 : 9 menuliskan “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Kalau kita melakukan kebaikan dengan setulus hati tanpa mengharapkan apa-apa, pada akhirnya akan menghasilkan kebaikan juga. Mazmur 126 : 5 menuliskan “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.”

Kemudian dalam 2 Korintus 9 : 6 dituliskan “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”

Menerima perbedaan adalah salah satu bukti bahwa kita mengasihi sesama. Menghargai perbedaan adalah cermin dari sikap kita yang terbuka dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain. Mari sama-sama untuk belajar menghargai perbedaan pendapat. Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s