13 Amanah Raja Batak Terungkap di Ritual Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak

Raja BatakSuasana mistis, menyelimuti rumah persaktian (rumah persinggahan keturunan Raja Batak). Hening tiba-tiba berubah saat seratusan keturunan Raja Batak yang tergabung di Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak menggelar ritual cara berkomunikasi langsung dengan Oppung Raja I Sombaon (Anak Kedua Raja Batak), di Pussubuhit, Kabupaten Samosir, Rabu sampai Jumat (6-8 Juli) lalu.

Di ritual itu, Oppung Raja I Sombaon, marah. Dia datang melalui perantara salah seorang ibu rumah tangga bernama Nurhayati boru Situmorang. Dia marah, karena keturunan Raja Batak dinilai gagal menjadi kepercayaan raja dalam menyebarkan nilai-nilai sosial dalam kehidupan. Kegagalan itu diungkapkannya, karena sejumlah keturunan batak yang telah dipercayakan, tidak memedomani 13 butir amanah yang dinyatakan sebagai pedoman dalam hidup.

Kemarahan itu juga menjadi dasar Oppung Raja I Sombaon untuk kembali menegaskan kepada sejumlah generasinya, agar benar-benar mengerti dan membuat amanah itu sebagai pedoman hidup. Dalam penegasannya, Oppung Raja I Sombaon dibantu oleh Hendri Naibaho (kepercayaannya) menjelaskan satu persatu maksud dan tujuan dari masing-masing ke-13 butir tersebut.

“Molo tartutuk hamu, jaha ma, aha natarsurat i patiki. Pajonjong ma patik i, partoru ma 13. Unang holan majjalo pangiddoan, alai ikkon ingotonna do jala iulahon. Molo so iulahon do na 13 patiki, dang naso dapot muna aha napinarsitta muna,” tegas Oppung Raja Batak.

Adapun ke-13 patik (amanah) dan penjelasannya itu adalah:

1. Martonggo (berdoa): Berdoa dapat 3 kali dalam satu hari, bisa 5 kali dalam satu hari dan dapat juga 7 kali. Namun, alangkah baiknya harus banyak berdoa. Semakin banyak berdoa, maka impian atau permintaan akan semakin cepat terkabul.

2. Manabbari (mengobati): Dalam pemberian atau pelayanan pengobatan kepada sesama, haruslah tidak memandang waktu. Karena, orang yang sedang sakit, dapat meninggal dunia apabila tidak mendapat pertolongan dengan cepat. Jadi, tidak boleh ada alasan untuk mengobati orang lain. Utamakan selalu memberi titik terang bagi mereka yang membutuhkan bantuan atau pertolongan.

3. Mamele (memberi persembahan): Jangan sombong dengan apa yang kalian punya. Carilah kerajaan Allah dan hargailah leluhurmu, agar kamu memeroleh kecerdasan dalam hidup. Kamu akan penuh dengan ilmu pengetahuan.

4. Mambuat mual (mengambil air): Mengambil air dari mata air Pussubuhit untuk dipersembahkan untuk leluhur, kemudian ditempatkan di dalam rumah di bagian atas dan tak mudah dijangkau orang. Tujuannya, agar kita selalu diberkati oleh Tuhan dan leluhur kita.

5. Mardaupa, Maranggir, Marnapuran: Dengan melakukan ketiga hal ini, maka akan selalu dilindungi oleh Roh Kudus. Akan selalu mampu melawan dan menepis hal-hal yang tidak baik.

6. Unang Hepengon (jangan menganggap uang adalah segalanya): Lakukan pekerjaan dengan iklas. Jangan selalu berpikir semua adalah kekuatan uang. Apa yang kamu lakukan atau kerja kerasmu akan kamu terima kembali di lain waktu. Bekerja keraslah dengan seikhlas dan sepenuh hati.

7. Manopot angka da oppung (menghargai leluhur): Mintalah pendapat dan masukan kepada leluhur.

8. Unang Hasamuran (jangan mengadu dendam kepada orang lain): Bangunlah kekerabatan, persahabatan dan hubungan yang baik dengan sesama.9. Ihorom ate-ate (tahan emosi): Jangan mudah tersinggung dan jangan mudah emosi kepada orang lain.

10. Margondang sahali 5 tahun sada hasonangan. (berpesta sekali 5 tahun merayakan kebahagiaan). Rayakanlah kebahagian agar jiwa tetap kuat.

11. Malo manganju (pintar merangkul): Pintarlah dalam merangkul orang lain dan cerdas menyelesaikan masalah.12. Puaso (puasa): Kalau berpuasa, permintaan akan cepat terkabul. Dan, berpuasalah tepat di bulan purnama.

13. Martonggo sahali sabittang. (berdoa di saat bintang terbit): Berdoalah di suasana dan di waktu yang tepat.Demikian 13 butir amanah Oppung Raja Batak dan juga penjelasannya. Seusai memberikan penjelasan dan penegasan, Oppung Raja I Sombaon selanjutnya keluar dari tubuh perantara, boru Situmorang itu.
Persembahkan Sesajen kepada Leluhur
Keesokan harinya, Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak kembali menggelar ritual. Kali ini, mereka melakukan salah satu dari ke-13 amanah Raja Isombaon, yakni Mamele (mempersembahkan sesajen), di rumah persaktian, tepatnya di Huta Simullop, Kecamatan Pangururan, Kamis (7/7) sekira pukul 10.00WIB.

Aksi ritual dimulai dari prosesi memasuki rumah persaktian oleh ratusan keturunan Raja Batak yang dipimpin oleh Oppung Raja Isombaon melalui perantara boru Situmorang, didampingi Ir Hendri Naibaho (kepercayaan Raja Isombaon) dan Dr Hinca Panjaitan SH MH selaku Ketua Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak.

Barisan prosesi mengenakan pakaian adat dan ulos serta menjunjung mangkok berisikan aek mual (air bersumber dari mata air). Ritual itu juga diiringi gondang (musik batak). Dalam prosesi, keturunan Raja Batak menari sesuai ekspresi masing-masing sambil berjalan ke rumah persaktian.
Sesampainya di rumah persaktian, mereka duduk berbaris rapi dan saat itu menyusun sejumlah sesajen yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setelah tersusun rapi, selanjutnya sesajen didoakan kepada Oppung Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) yang sekaligus dipersembahkan kepada leluhur Raja Batak.

Adapun jenis sesajen yang dipersembahkan antara lain: Daging kerbau hitam satu ekor, Daging kerbau putih satu ekor, ikan batak, ikan mas, daging kambing, daging ayam, tuak (minuman adat batak), nasi tumpeng, itak (makanan adat batak), telur ayam kampung, nasi putih, rondang, kelapa muda sebanyak 7 buah, aek mual (air dari mata air), buah pisang, semangka, timun, tebu dan daun sirih.Setelah sesajen didoakan dan dipersembahkan, acara ritual pun berakhir dan dilanjutkan makan siang bersama.

Sebelum pelaksanaan ritual mamele, Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak menerima rombongan dari Tapanuli Center Kepulauan Riau, dan rombongan dari Kabupaten Tobasa, Humbahas, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Sibolga, Pematangsiantar, Simalungun, Karo dan sahabat Hinca Panjaitan dari sejumlah daerah di Pulau Jawa. Dalam menerima sejumlah rombongan ini, turut diiringi dengan gondang menerima tamu dilengkapi dengan penyematan medali sebagai penghargaan atas partisipasi dalam acara itu.

Di momen itu, Ketua Parsadaan Pomparan Ni Si Raja Batak, Dr Hinca Panjaitan SH MH menerangkan bahwa acara itu dinamakan Festival Wisata Leluhur Batak. Acara berlangsung mulai Rabu (6/7) sampai Jumat (8/7). Adapun maksud tujuan dari acara itu adalah untuk menggali, melestarikan dan menumbuhkembangkan budaya batak yang dinilai saat ini telah terkikis oleh pengaruh jaman. “Danau Toba harus menjadi lokasi wisata internasional. Saat ini, mata dunia tertuju ke Danau Toba. Kita mendukung pembentukan Badan Otorita Danau Toba. Namun bukan hanya mendirikan bangunan mewah di sekitaran Danau Toba. Tetapi harus melestarikan budaya leluhur. Mari kita lihat seperti Bali. Budaya yang menjadi daya tarik wisatawan. Karena budaya memiliki nilai-nilai luhur yang sangat berharga,” terang Hinca Panjaitan, disambut tepuk tangan ratusan hadirin.(jos/hez)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s