Dari Kemenangan ke Kemenangan

Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”- 2 Tawarikh 20 : 17

Siapa yang tidak ingin menang ketika mengikuti sebuah pertandingan, apakah itu pertandingan sepak bola, bulu tangkis atau ikut berlomba dalam bidang pendidikan atau sains. Pasti semua orang ingin menjadi pemenang, tapi kalau semua menjadi pemenang lalu siapa yang kalah dan harus menerima kekalahan dengan besar hati ?

Kemenangan yang sesungguhnya adalah kemenangan yang kita raih dengan susah payah dan dengan keringat kita sendiri, bukan karena kolusi atau nepotis­me. Karena di dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang yang ingin memperoleh kemenangan dengan cara-cara yang salah. Dari kemenangan yang satu ke kemenangan lainnya, kita harus benar-benar mengandalkan Tuhan. Kita boleh bangga dengan kemampuan kita, tapi kita harus sadar bahwa kemampuan kita itu tidak ada apa-apanya tanpa campur tangan Tuhan.

Jika kita mengandalkan Tuhan dalam segala perkara, percayalah bahwa Tuhan akan menyertai kita dan menguatkan kita. Karena, seringkali kita berdoa kepada Tuhan agar dilalukan dari masalah. Seharusnya, kita berdoa meminta penyertaan Tuhan dan kekuatan dari Tuhan agar kita bisa menghadapi masalah yang ada. Ketika kita berhasil melampaui satu masalah, maka kita akan siap untuk menghadapi masalah berikutnya.

Kekristenan kita bukan seperti roda pedati yang berputar, kadang diatas dan kadang dibawah. Kalau kita percaya pertolongan Tuhan, maka kita harus tetap merangkak naik dan bukan malah turun. Firman Tuhan dalam Ulangan 28 : 13 – 14 dituliskan “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.”

Allah berjanji akan memberikan kemenangan, kebahagiaan dan kesuksesan. Keberhasilan orang Kristen bukan tergantung keadaan di sekelilingnya, tetapi tergantung hubungan kita dengan Tuhan, karena Tuhanlah yang membawa kita kepada jalan kemenangan.

Seperti Daniel yang memperoleh kelepasan dari mulut singa yang lapar, namun memperoleh jalan kemenangan. Juga Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang mengalami kelepasan dari bara api, demikianlah kita akan mengalami kemenangan demi kemenangan bila hidup kita ada dalam kebenaran firman Tuhan.

Mulailah untuk melakukan koreksi diri dan menanggalkan sikap egois. Selama ini kita merasa paling hebat dengan angkuhnya melangkah, ketika mengalami benturan dan kalah, kita justru menyalahkan Tuhan. Sekarang saatnya kita mengutamakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita. Menempatkan Tuhan di tempat yang utama dalam hidup kita dan memiliki hati yang selalu mengasihi Tuhan. Dalam 2 Korintus 2:12 dituliskan “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana.”

Sikap kita yang salah selama ini mulailah untuk senantiasa ada dalam pengucapan syukur kepada Allah. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 2:13-14 ” Tetapi hatiku tidak merasa tenang, karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus. Sebab itu aku minta diri dan berangkat ke Makedonia. Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.

Rasul Paulus sekalipun tidak menjumpai Titus, tetapi tetap mengucap syukur. Mengucap syukur artinya kita setuju akan setiap keputusan Allah. Apapun yang terjadi kita harus selalu mengucap syukur. Hal ini akan mengakibatkan hati kita semakin melekat kepada Allah. Kalau hati kita melekat kepada Tuhan, semua kejadian yang kita alami akan membawa kita kepada sikap hati yang selalu mengucap syukur.

Dalam menjalani hidup di muka bumi ini juga harus punya prinsip. Jangan hidup menurut apa kata orang, tetapi hidup menurut apa kata Tuhan. Apapun pendapat orang, tetaplah hidup menurut apa kata Tuhan. Jangan hidup serupa dengan dunia, tetapi hidup seperti yang Tuhan kehendaki.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 2:15-16 “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian.”

Jangan karena ingin mengharapkan sesuatu kita lantas mengorbankan prinsip hidup kita. Yang tadinya kita bertahan untuk tetap jujur, tiba-tiba berubah karena pengaruh orang lain yang menjanjikan sesuatu. Padahal sesuatu yang dijanjikan itu belum tentu terwujud. Dalam posisi ini juga kita harus memiliki hati yang bersih dan jujur.

Dalam 2 Korintus 2:17 dituliskan “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.”

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita selaku anak Tuhan bebas murni dari segala kesulitan ? Kalau kita tidak pernah mengikuti pertandingan, bagaimana mungkin kita bisa menang ? Menjadi seorang pemenang adalah bisa mengalahkan segala kesulitan dan tantangan di dalam hidupnya. Jikalau tidak ada kesulitan, menang atas apa?

Firman Tuhan tidak mengajar kita untuk lari dari kesulitan. Jikalau hal itu dikehendaki Tuhan, mintalah hikmat dan kekuatan daripada-Nya untuk menak­lukkan segala kesulitan, Rasul Paulus menuliskan firman Tuhan yang dialaminya sendiri di dalam pelayanannya,

“Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:34-37)

Pada waktu Yesus berada di Taman Getsemani, Ia minta jikalau boleh, cawan kepahitan itu dilalukan daripada-Nya. Tetapi Bapa-Nya di Sorga tetap meng­hendaki Yesus meminum cawan itu. Bapa mengirim seorang malaikat untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Lukas 22:43). Salib itu tetap harus dipikul, namun sikap hati manusia Yesus telah diubah dan dikuatkan. Hasil-nya, Yesus dapat tegak berdiri untuk menghadapi salib dengan sikap hati yang tangguh.

Jika kita berhasil mengalahkan diri kita sendiri, maka disaat itulah kita telah menang atas keegoisan dan ketamakan kita sendiri. Dari kemenangan ke ke­menangan akan kita raih jika kita tetap mengandalkan Tuhan. Amin.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s