Stop Pengolahan Lahan Tanah Adat Hutanamora! Kami Siap Mati Demi Lahan Ini

LahanSiatasbarita – Keturunan Ompung Raja Nagodang, antara lain Op Juara Monang, Op Si Bigo yang tinggal di Desa Parbaju Toruan, Kecamatan Tarutung, meminta para pembeli tanah adat di Hutanamora agar menghentikan pengolahan lahan di daerah tersebut.

Pasalnya, warga tidak pernah mau menjual tanah tersebut karena tanah itu tidak bisa diperjualbelikan.
Tigor Hutabarat mewakili warga Dusun Lobu Silindung mengungkapkan, lahan seluas sekitar 600 hektare di Hutanamora adalah tanah pusaka yang tidak bisa dijual belikan. Tapi ada beberapa oknum yang hanya mementingkan diri sendiri, dengan kata lain memperkaya dirinya dengan menjual tanah tersebut. Padahal tanah adat tersebut telah dikuasai dan diduduki serta dikelola secara turun-temurun sejak tahun 1928 silam.

“Tanah adat Hutanamora pernah dicoba pemerintah membuat percetakan persawahan yang dikerjakan oleh Dinas Pertanian dengan surat No. 602/92092/85 dengan mata anggaran tahun 1991 dengan luas 84 hektare. Pada saat perencanaan percetakan sawah tersebut telah disetujui dan disepakati dari lahan yang akan dicetak persawahan 210 hektare,” ujarnya.

Tapi tahap pertama yang dicetak adalah 125 hektare, dimana keadaan tersebut dibagi 4 desa. Diantara desa tersebut Desa Parbaju Toruan 67 hektare, Sosunggulon 20 hektare, Hapoltahan 21 hektare dan Lobu Hole 16 hektare. Tapi karena irigasi tidak memungkinkan, rencana itu jadi batal.
Hal yang sama disampaikan Op Fia Hutabarat (81). Semua keturunan Op Raja Nagodang pada akhir Desember 2015 telah mengetahui adanya upaya-upaya penjualan lahan terhadap investor atau pengusaha. Keadaan itu semakin meresahkan masyarakat karena ada informasi areal tersebut akan dijual oknum tertentu pada 03 November 2013. Bahkan sebagian upaya sudah dilakukan agar menggagalkan oknum-oknum untuk menjual lahan tersebut, tapi toh juga lahan tersebut bisa terjual.

“Kami keturunan Op Raja Nagodang akan mengusut hal tersebut. Kami siap mati demi lahan ini. Karena ada dugaan tindakan penempatan keterangan palsu atas perbuatan keterangan palsu atas akta” tegas Op Fia
Sementara itu mewakili dari Dusun Hutapinungka Parbaju Toruan Ojak Hutabarat meminta Pemkab Taput untuk mengembalikan tanah tersebut dan menetapkan lahan sebagai tanah adat Op Raja Nagodang oleh investor maupun perseorangan.

Karena penyerobotan tersebut merupakan penghinaan terhadap keturunan Op Raja Nagodang. Jika hal ini tidak dihentikan akan memicu konflik sosial di bidang pertanahan. “Kami meminta Kepala Desa Parbaju Toruan untuk tidak mengeluarkan surat-surat yang berkaitan dengan Hutanamora secara keseluruhan untuk menghindari tuntutan hukum pidana dan perdata dari seluruh keturunan Op Raja Nagodang. Membatalkan surat-surat yang pernah dikeluarkan oleh kepala desa yang lama dan yang baru,” ujarnya.(tul)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s