Grace Kelly boru Simanungkalit (44), Dipatok Ular Akhirnya Meninggal

UlarSipoholon – Grace Kelly boru Simanungkalit (44) yang dipatok ular, Jumat (10/6) lalu, akhirnya meninggal dunia, Minggu (12/6). Korban meninggal saat dirujuk ke RS Horas Insani Pematangsiantar karena obat penawar tidak ada di RSU Tarutung.

“Nungnga hudok unangpola lao tu kobun (Sudah kubilang jangan pergi ke ladang), namun istri saya tetap berangkat untuk melihat hasil panen kopinya. Biasanya saat ke ladang, dia biasa membawa alat perlengkapan. Namun kali ini tidak ada,” kata Pardamean Sitanggang (46) suami almarhum Grace yang ditemui wartawan di kediamannya.

Menurutnya, saat tiba di kebun kopi mreka, istrinya langsung dipatok ular berwarna hitam. Setelah kejadian itu, istrinya langsung mengikat kakinya dengan seutas kain. Tujuannya agar racunnya tidak menyebar cepat. “Setelah mengikat kakinya, istri saya langsung pulang ke rumah di Desa Hutaraja Simanungkalit dan meminta pertolongan. Dia masih sempat menceritakan jika dia dipatok ular berwarna hitam yang diduga ular kobra,” sebutnya.

Pardamean mengaku setelah mengetahui istrinya dipatok ular, ia langsung melarikannya ke bidan terdekat. Karena obat penawarnya tidak ada, lalu ia membawa istrinya ke Puskesmas Sitadatada, Kecamatan Sipoholon dengan mengendarai sepedamotor.

“Satu orang dokter pun sama sekali tidak ada. Yang ada hanya 1 orang pegawai dan langsung meminta saya agar membawa istriku ke RSU Tarutung,” ujar pegawai tersebut.

Setibanya di RSU Tarutung, dokter mengatakan jika obat untuk istrinya tidak ada. Istrinya kemudian diberikan infus, oksigen serta disuntik. Padahal, istrinya harus segera diberikan pertolongan, tapi yang ada tetap dibiarkan tegeletak di ruang UGD hampir satu jam.

“Setelah itu, istri saya dirujuk ke Rumah Sakit Horas Insani. Namun di tengah jalan, nyawanya tidak tertolong lagi. Para dokter sudah berusaha menolong sebisa mungkin dan dokter Puskesmas mengatakan istri saya sudah tidak tertolong lagi,” terang Sitanggang dengan nada sedih.

Sementara itu, salah seorang warga sekitar bermarga Sibagariang mengatakan, akibat kejadian itu warga menjadi takut ke ladang untuk melihat hasil panennya. Warga juga sudah bergotong royong mencari ular tersebut namun belum ketemu. “Ular di daerah tersebut sudah sering berkeliaran. Sudah ada 3 ekor ditangkap dari areal perladangan dalam setahun,” ujar Sibagariang.

Pantauan wartawan, warga sekitar ramai berdatangan dan kerabat suami almarhum berbondong-bondong untuk melayat. Almarhum Grace meninggalkan delapan orang anaknya. Rencananya, adat pemakaman dilaksanakan Senin (13/6).

Diberitakan sebelumnya, Grace boru Simanungkalit (60) dipatok ular saat hendak ke ladang, Jumat (10/6) sekira pukul 14.00 WIB di Desa Hutaraja, Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara. Patokan ular berbisa ini pun mengakibatkan Grace tak sadarkan diri dan tergeletak di ladang kopi milinya.

Amatan wartawan, korban yang merupakan warga Desa Bahal Batu, Kecamatan Siborongborng, langsung dilarikan anaknya bermarga Sitanggang dari ladang kopi ke RSU Tarutung untuk mendapat perawatan. Setelah tiba di RSU, Grace yang sudah tidak sadarkan diri justru tak bisa langsung ditangani karena obat penawar tidak ada di rumah sakit tersebut.

Dan, ketika mulai sadar, korban sempat mengaku bahwa dia merasa kesakitan pada jantungnya, persendian kaki kanannya membengkak serta berwarna biru.

“Ibu saya hendak pergi ke ladang untuk melihat hasil kopinya. Sampai di ladang, seekor ular berwarna hitam langsung mematok kaki kanannya sehingga tidak sadar akibat racun ular itu mulai menyebar. Setelah saya mengetahuinya, langsung saya bawa naik sepedamotor ke RSU Tarutung untuk diobati. Obat penawarnya tidak ada di rumah sakit tersebut dan ibu saya langsung tidak dapat melihat. Karena obat penawar tidak ada, harus dirujuk ke Kabupaten Tobasa. Kalau obat penawarnya tidak ada juga di sana, akan dirujuk ke Rumah Sakit Horas Insani Siantar,” kata anak korban bermarga Sitanggang.

Sementara Direktur RSU Tarutung dr Ganda Nainggolan melalui Kabid Dintar Hutabalian SKM mengatakan bahwa obat penawar gigitan ular itu memang ada disimpan di RSU. Namun karena obat penawarnya bermusim, obat tersebut dikembalikan lagi.

“Saat musibah menimpa korban, kebetulan obat tidak ada. Bahkan kita sampai koordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan sampai mencarinya ke apotik, namun obat penawar ular berbisa tersebut kosong. Para dokter sudah menolong dengan semampunya. Lalu korban akan kita rujuk ke Rumah Sakit Horas Insani di Siantar untuk mendapat perawatan. Korban digigit ular jarang di daerah kita, bukannya tidak ada obat penawarnya. Karena obat tersebut bermusim dan pas waktu masa kedaluwarsa, tidak bisa dipergunakan lagi obatnya, maka kita kembalikan,” terangnya. (as)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s