Penguburan Jenazah Angeline Berlinang Airmata

1TAPTENG – Penguburan jenazah Enjelin Johanna Simanjuntak (pada berita sebelumnya ditulis dengan nama Angeline Simanjuntak,red), pasien operasi usus buntu akut RSUD Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dibanjiri linangan airmata duka dari keluarga, kerabat, temannya sekolah, dan warga kampung. Usai diotopsi di RS Bhayangkara Medan, jenazah siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Pinangsori itu dikuburkan di Pemakaman Kristen Hutabuntul, Kecamatan Pinangsori, Tapanuli Tengah, Sabtu (11/6) sore.

Pantauan di rumah duka, ibundanya Junsaris Neri Br Sitinjak (46) dan ketiga saudarinya tak pernah jauh dari peti mayat alamarhum. Ibunya Junsaris Neri Br Sitinjak terlihat terus menitikan airmata di samping jasad putri bungsunya itu. Sesakali ia mengusap wajah pucat jenazah putri kesayangannya itu.

Isak tangis keluarga korban pun kian pecah saat peti mati Enjelin ditutup lalu dibawa ke pemakaman. Setibanya di pemakaman pun demikian.

“Enjelin, harus pergilah kau meninggalkan kami, ikutlah kami dek,” ucap salah satu kakak almarhum dengan suara lirih.

Kematian remaja 14 tahun berparas manis yang hobi menyanyi itu menjadi sorotan publik pasca postingan foto-foto bekas sayatan operasi usus buntunya menyebar di media sosial facebook. Foto itu menunjukkan sayatan memancang pada bagian perut almarhum yang banyak orang menganggapnya tidak wajar. Bayangkan saja, sayatan itu memanjang dari mulai bawah pusar hingga ke batas rongga dadanya. Ditambah lagi dua bekas sayatan yang lebih kecil pada sisi kanan dan kiri permukaan perutnya.

Sontak saja, banyak yang kemudian meluapkan respon emosional dan kegeraman atas kondisi mayat Enjelin. Banyak yang kemudian menuding ada kejanggalan dalam operasi tersebut, termasuk dugaan telah terjadinya malapraktek. Meskipun ada juga facebookers yang mencoba memberi pemahaman positif dan bagaimana prosedur operasi untuk kasus penyakit itu.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Enjelin meninggal dunia dua hari pasca operasi karena infeksi parah usus buntu, tepatnya pada Rabu (8/6/2016) malam. Operasi besar dilakukan untuk membersihkan nanah yang sudah menyebar ke seluruh area perut.

Namun kemudian kematian Enjelin dilaporkan ibunya Junsaris Neri Br Sitinjak ke Polres Tapanuli Tengah. Dalam Surat Tanda Terima Laporan Nomor: STTL/96/VI/2016/SU/RES TAPTENG itu, pihak keluarga melaporkan RSUD Pandan atas pelanggaran undang-undang praktik kedokteran, atau lebih tepatnya Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Namun pihak manajemen RSUD Pandan milik Pemkab Tapanuli Tengah itu menepis tudingan telah melakukan malapraktik, dan menyatakan bahwa pelayanan medis, khususnya proses pengoperasian Enjelin sudah sesuai SOP (standar operasional prosedur). (Suara Tapanuli)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s