Pembangunan Pasar Siborongborong dan Tarutung Ditunda

Tarutung – Dinas Pasar Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) menunda sementara rencana pembangunan Pasar Tradisional Tarutung dan Pasar Siborongborong, yang sebelumnya akan dijadikan pasar semi modern dan bertingkat.

Kepala Dinas Pasar Taput Alexander Gultom kepada wartawan menyampaikan, penundaan rencana pembangunan Pasar Tarutung dan Pasar Siborongborong itu disebabkan keterbatasan dana. Dia mengaku, pihaknya memang sebelumnya sudah mengkaji dan menganalisis, bahkan mengeluarkan maket (gambar) terkait rencana pembangunan kedua pasar tradisional itu menjadi pasar tradisional yang semi modern.

Namun, karena dana untuk membangun dan menjadikan kedua pasar tradisional itu menjadi pasar semi modern menelan biaya cukup besar hingga mencapai Rp300 miliar, rencana pembangunan akhirnya ditunda. “Memang maketnya sudah ada dibuat untuk rencana menjadikan Pasar Tarutung dan Pasar Siborongborong menjadi pasar tradisional yang semi modern. Tapi karena dananya terlalu besar mencapai Rp 300 miliar, pembangunan terpaksa ditunda dulu.

Bahkan juga Pembangunan atau penambahan kios,” ujarnya. Alexander menegaskan, meskipun saat ini masih tertunda karena keterbatasan dana, ke depan pihaknya tetap akan melanjutkan rencana pembangunan Pasar Tarutung dan Siborongborong menjadi pasar tradisional yang semi modern. Dan, untuk menindaklanjuti rencana itu, pihaknya saat ini sedang menjajaki para investor untuk mau berinvestasi membangun Pasar Tarutung dan Siborongborong menjadi pasar tradisional yang semi modern.

“Kita tidak bisa hanya mengharapkan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kita saat ini sedang menjejaki para investor untuk membangun kedua pasar itu,” pungkasnya.

Pasar ini memang masih terlihat masih semerawut dan kotor. Terdapat beberapa titik kerusakan di jalan yang mengitarinya. Sistem sanitasi paritnya, baik di dalam dan di luar balerongnya belum cukup memadai, dimana banyak terdapat genangan air. Lantai semen jalan pada lorong-lorongnya sudah banyak yang hancur. Lapak pedagang kaki lima (PKL) pun bertabur di pinggir jalannya.Diketahui, usia pasar itu sudah sekitar 24 tahun dengan jumlah kios resmi 198 unit ditambah yang memakai lapak sekitar 200 pedagang. (tul/ara)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s