Film ‘Anak Tao’: Getir Paradoks Danau Toba

TaoMedan – “Oh… Tao Toba Nauli…, siapakah yang datang kepadamu? Siapakah yang meninggalkanmu? Siapakah pendudukmu? Banyak kekayaan sekeliling keindahanmu. Tetapi aku tidak bisa turut bersekolah. Karena ompungku miskin,” demikian luapan ungkapan hati Riris, seorang anak yatim piatu yang kini tinggal bersama neneknya di pinggiran Danau Toba. Hidup di bawah garis kemiskinan, meski lingkungannya kaya akan sumber daya alam dengan keindahan danau.

Di usianya yang masih belasan tahun, gadis ini hanya bisa melihat teman sebayanya mengenakan seragam sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Teman-temannya pun merasa terbeban ada sebayanya yang tidak bisa menikmati pendidikan sama seperti mereka, bahkan harus mengalami sakit batuk berkelanjutan karena ketiadaan biaya.

Sebelumnya, Riris dan empat temannya, Ulibasa, Lamhot, Edu, dan Tumpal, telah marpadan (berikrar) untuk tetap setia kawan selama-lamanya. Ikrar yang didasari rasa persahabatan dan keprihatinan kepada indahnya danau yang tidak memberikan perubahan kepada kehidupan masyarakat sekitar. Ikrar untuk membangun kampung halaman mereka.

Kisah inilah yang dituangkan Shaut Hutabarat dalam ‘Anak Tao’, film berdurasi 105 menit yang grand launching-nya digelar di Hotel Danau Toba Internasional (HDTI) Medan, Sabtu (12/3/2016) malam. Film yang disutradarai Lajessca Hatebe dan sebagai produser Ida Ferina Tobing ini, digarap dengan latarbelakang kehidupan anak-anak di pinggiran Danau Toba.

Sebagaimana disampaikan Shaut, film ini digarap sebagai hiburan bagi penonton. Sebagaimana ada humor, kocak dan jenakanya para pemain yang diperankan Victory Sianturi (Riris), Margonggom Aritonang (Uli), Martin Manurung (Edu), Gunado Siregar (Lamhot), Roy Bona Siburian (Tumpal), dan pemain lainnya.

Produser Ida Ferina Tobing mengatakan, dirinya terdorong untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal di kawasan Danau Toba. Meski lahir di pulau Jawa, ia rindu ingin kembali ke Tano Batak, terutama dengan menciptakan karya-karya nyata yang dituangkan lewat karya seni.

Pada kesempatan itu manajemen mengatakan, saat ini kaset yang terdiri dari dua episode tersebut telah bisa diperoleh masyarakat banyak.

Usai menyaksikan pemutaran film yang disajikan dengan bahasa Batak itu, penyair Zulkarnaen Siregar mengatakan, ‘Anak Tao’ layak ditonton semua kalangan, khususnya anak-anak. Menurutnya film ini mampu mengedukasi lewat tontonan, bagaimana menghormati orangtua.

“Ini sesuatu yang luar biasa, sampai minum obat sekalipun harus izin sama opungnya/orangtua,” katanya.

Sementara Batakolog, Manguji Nababan mengatakan, saat ini budaya membaca telah bergeser ke budaya menonton. Sangat sulit mengedukasi anak-anak dengan menyuruhnya membaca. Sementara media tontonan di televisi saat ini cenderung tidak mendidik. Menurutnya, film ‘Anak Tao’ dapat menjadi media edukasi, khususnya tentang kearifan lokal masyarakat Batak.

“Juga menjadi film antropologi Batak, menceritakan kearifan seperti marpadan. Bukan sebatas janji, tapi padan. Kita harus jujur dengan perkataan dan perbuatan,” katanya.

Robert Sitompul, seorang penyiar, juga menyampaikan apresiasi, meski memberikan sejumlah masukan untuk kesempurnaan karya tersebut. (AFR)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s