Baru Seminggu Menikah, Abang Disamurai Adik hingga Tewas

abang1Tapteng – Ewin Sihombing (32), terkapar bersimbah darah di teras rumah peninggalan orangtuanya, Jalan Padangsidimpuan Lingkungan III, Kelurahan Hutabalang, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah. Itu setelah sebilah golok menyerupai samurai menghujam perutnya, Minggu (13/3) pagi.

Ternyata, pelakunya adalah adik kandungnya sendiri, Elimar Sihombing (28) yang diduga mengalami gangguan kejiwaan alias stres.

Menurut salah seorang warga yang ditemui di rumah duka, malam sebelum kejadian, korban dan istrinya Kristina Siahaan menginap di rumah mertuanya di daerah Pinangsori. Pasangan ini baru saja menikah, seminggu lalu. Selama ini, korban yang bekerja sebagai guru di SMPN 1 daerah Lumut itu tinggal serumah bersama pelaku. Mereka menempati kediaman peninggalan orangtuanya di Hutabalang.

“Baru seminggu yang lalu dia menikah. Kerjanya guru di SMPN 1 Lumut. Tadi malam memang mereka gak nginap di rumah ini. Mereka menginap di rumah mertuanya,” kata pria yang tak ingin namanya disebutkan di rumah duka.

Karena telah menikah, korban pun ingin pindah dari rumah tersebut untuk membangun bahtera rumah tangga dengan wanita yang dikasihinya. Paginya, Minggu (13/3) sekira pukul 07.30 WIB, korban dan istrinya datang, disusul dengan sebuah mobil pick up untuk mengangkut semua barang-barangnya dari rumah peninggalan orangtuanya tersebut.

“Korban dan istrinya datang kira-kira pukul 07.30 WIB, masih pagi sekali. Sekira 10 menit kemudian, datanglah pick up mengangkati barang-barangnya dari rumah itu,” terangnya.
Kejadian naas terjadi saat korban masuk kamarnya dan melihat pintu lemari pakaiannya terbuka. Sementara, istrinya sedang beres-beres di dapur. Saat itu korban melihat ada emasnya yang hilang dari dalam lemari. Merasa tak senang dengan kehilangan itu, korbanpun mencoba menanyakannya kepada pelaku yang saat itu masih tertidur pulas di kamarnya, letaknya bersebelahan dengan kamar korban.

“Dilihatnya lemarinya terbuka dan ada emasnya yang hilang dari dalam lemari itu. Waktu itu adiknya ini (pelaku) sedang tidur di kamarnya. Kalau adiknya ini sebenarnya bukan gila, bisanya internetan setiap hari, tapi agak stres. Dibangunkannya untuk menanyakan soal kehilangan itu,” bebernya.

Mungkin karena pelaku tak senang dengan sikap abangnya tersebut yang seolah menuduhnya sebagai pencuri, lantas beranjak dari tempat tidurnya dan langsung melayangkan pukulan kepada korban.

Melihat kondisi mulai mengancam, korban lantas menyuruh istrinya untuk segera menyelamatkan diri, pergi dari rumah itu. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba saja, pelaku menghujamkan samurainya yang diduga diambil dari dalam kamarnya ke perut korban sebelah kiri.

“Pertama dipukulnya abangnya itu. Waktu perkelahian itu, sempat disuruhnya istrinya menyelamatkan diri. Lalu pelaku datang dan menikam korban dengan samurainya. Memang korban ini punya samurai,” tuturnya.

Tak sampai di situ, masih kata dia, dengan kondisi berlumuran darah, korban berusaha meminta pertolongan dengan berjalan dari dalam rumah hingga akhirnya terkapar dengan kondisi telungkup di teras rumah.
“Diayun-ayunkannya samurai itu setelah dicabutnya dari perut abangnya itu. Kami yang melihat pun takut dan berusaha menjauh seaman mungkin,” ketusnya.

Yang membuat warga yakin kalau pelaku mengalami gangguan jiwa, saat pelaku berulang kali memeluk dan mencium korban yang sudah terkapar di teras rumahnya.

“Ada kurasa dua kali dia keluar masuk dari dalam rumah itu. Diciumnya, dipeluknya abangnya itu, seperti menyesali perbuatannya. Maksudnya, kalau dia sadar pasti gak begitu, sudah dibuangnya kian itu samurai itu,” tukasnya.

Masih diceritakan pria ini, beberapa saat kemudian, pelaku melarikan diri dari belakang rumah dna pergi ke arah lingkungan I, tepatnya dekat sebuah panglong kayu. Mendapat informasi pelaku berada di sana, beberapa aparat dari TNI dan Polisi kemudian melakukan pengejaran. Mengetahui dirinya dikejar, pelaku lantas lari pulang ke rumahnya. Masuk melalui pintu depan dan mengunci rapat pintu kamarnya.

Petugas yang tahu keberadaan pelaku,lantas berusaha mengetuk pintu kamar tersebut hingga akhirnya pelaku membukakan pintu. Namun, pelaku sempat mengancam petugas dengan mengayunkan samurainya. Petugas yang tak gentar dengan ancaman pelaku lantas mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya kepada pelaku, mengancam akan menembak bila tidak segera menyerahkan diri.
“Kalau bukan karena diancam mau ditembak, mana mau dia (pelaku) lepaskan samurainya itu. Setelah diserahkannya samurainya itu, barulah dia diamankan dan dibawa ke Polsek Pinangsori,” pungkasnya.

Ada pula pernyataan berbeda dari seorang warga lainnya yang menduga penyebab pertikaian tersebut lantaran pelaku tidak setuju kalau korban pindah dari rumah tersebut. Lantaran selama ini, yang menghidupi pelaku adalah korban, setelah ditinggal mati kedua orangtuanya.

Namun katanya, korban pernah berjanji kepada pelaku, kalaupun dia pindah dari rumah tersebut, dia tetap akan memenuhi kewajibannya sebagai seorang abang dengan menyisihkan sebagian gajinya untuk nafkah pelaku di rumah peninggalan orangtuanya tersebut.

“Korban ini mau pindah, itu mungkin penyebabnya, karena adiknya ini (pelaku) gak setuju kalau abangnya ini (korban) pindah. Sebelumnya memang korban sudah berpesan kalau dia akan tetap memberikan belanja adiknya ini, kalaupun dia pindah. Mungkin itunya, tapi kamipun gak tahu juga kepastiannya, apa penyebabnya,” terang pria tua yang juga tak ingin menyebutkan namanya.

Kapolres Tapteng melaui Kapolsek Pinangsori AKP L Siregar di tempat kejadian mengatakan, peristiwa tersebut berlangsung dengan cepat. Di mana pelaku menikam korban dengan sebilah samurai panjang ke arah perut korban, sehingga tidak bedaya lagi dan terkapar di depan rumahnya berlumuran darah. Polisi yang mendapat informasi dari supir mobil yang akan mengangkut barang–barang itu. Dan, massa berdatangan namun samuarai masih di tangan pelaku.

“Kita mendapat informasi adanya kejadian penikaman tersebut. Personil bersama dengan saya langsung ke TKP dan mendapati si pelaku mencoba kabur dari belakang rumahnya, sehingga terjadi kejar–kejaran sepanjang 1, 5 km dari rumahnya. Pelaku kembali ke rumahnya dan lagsung masuk kamar dengan membawa samurai tetap di tangannya. Kita berusaha mencoba membujuk agar menyerahkan samurai, namun pelaku malah keluar dan mengancam petugas. Kemudia petugas dengan tehnik tersendiri berhasil meminta samurai itu tanpa perlawanan dan pelaku kita bawa ke Mapolsek Pinangsori guna pengamanan,” terangnya.
Di tempat yang sama, Kasat Reskrim Polres Tapteng AKP Kusnadi, membenarkan kejadian tersebut dan terkait kejadian itu pihaknya akan terus mengusut pelaku. Pelaku dijerat dengan pasal 351 ayat 3 yakni melakukan penganiiayaan hingga menyebakan kematian, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

“Saat ini kita sedang melakukan pendalaman penyeledikan yang bersangkutan. Jadi belum bisa kita simpulkan, masih kita tunggu proses selanjutnya. Sekarang ini alat bukti yang digunakan pelaku sudah ditahan di Polsek Pinangsori,” tutupnya. (ts/ap)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s