Sahabat Sejati

Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya. – Ayub 2 : 11 – 13

Adakah sahabat sejati Anda dimuka bumi ini ? Sahabat yang sejak kecil selalu bersama kita sampai akhirnya kuliah di perguruan tinggi yang sama belum tentu menjadi sahabat sejati ketika sudah selesai kuliah. Bisa saja persaingan yang tidak sehat akan terjadi saat berada di satu lingkungan kerja yang sama pula.

Kutipan ayat Alkitab di atas mengisahkan betapa sahabat-sahabat Ayub menaruh simpati dan mau datang untuk melihat langsung penderitaan Ayub. Ketiga sahabat Ayub mengoyakkan jubah mereka dan duduk bersama Ayub. Adakah sahabat seperti itu saat ini dalam kehidupan kita sehari-hari ?

Dalam menjalani hidup dimuka bumi ini, kita tidak akan pernah lepas dari interaksi sosial. Setiap orang pasti mempunyai teman dekat atau yang biasa disebut sahabat. Sahabat adalah orang terdekat dalam kehidupan kita. Mereka senantiasa menghibur, mendengarkan, menemani, bahkan rela mengorbankan hidupnya demi menolong kita.

Akan tetapi, predikat sebagai sahabat sejati yang selalu setia sampai kapan pun tidak ada lagi kita temukan di muka bumi ini. Sebagai umat Tuhan, kita memperoleh hak istimewa untuk bisa memiliki seorang sahabat yang dekat dengan kita. Yesus telah mengangkat kita menjadi sahabatNya (Yohanes 15:15). Ini merupakan suatu anugerah yang sangat besar, karena kita sendiri tidak memilih sembarang orang untuk menjadi sahabat kita.

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Yohanes 15:15

Suatu anugerah luar biasa yang diperoleh setiap orang percaya karena Yesus tidak lagi menyebut kita sebagai hamba, tapi “sahabat”. Sahabat bukanlah sekadar hubungan biasa, melainkan terjalin sangat intim (karib) serta dilandasi oleh sebuah kepercayaan. Untuk menjadi orang yang bisa dipercaya oleh orang lain bukanlah hal yang mudah, terlebih-lebih yang memberi kepercayaan itu adalah Tuhan.

Sahabat sejati kita dalam kehidupan sehari-hari bisa saja dalam sebuah kesempatan akan menjerumuskan kita. Yang kita anggap sudah saling percaya, saling dukung dan saling mengingatkan. Akan tetapi, di satu kesempatan bisa berubah menjatuhkan kita ke lembah yang sangat dalam hanya karena harta, uang atau wanita.

Kalau mau memiliki sahabat sejati yang sesungguhnya, kita harus benar-benar menaruh kepercayaan kepada Yesus Kristus. Bukti kepercayaan Tuhan adalah diberitahukan-Nya segala sesuatu yang didengar-Nya dari Bapa. Pemazmur juga menegaskan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14).

Secara manusia sulit untuk dipahami bahwa Tuhan mau dan menginginkan kita menjadi sahabat-Nya. Namun hal itu menunjukkan bahwa Tuhan sangat menginginkan kita makin mengenal-Nya lebih dekat. Inilah hak istimewa dan terbesar bagi setiap orang percaya: dikenal, dikasihi dan dijadikan sahabat oleh Tuhan.

Memiliki seorang sahabat berarti kita dapat berjalan seiring sejalan, saling menguatkan dan saling berbagi kasih yang tulus; dan hanya sahabat sejatilah yang mau tetap ada untuk kita di segala keadaan. Alangkah indahnya saat kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus sudah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai sahabat sejati bagi orang percaya.

Artinya segala hal yang baik dan istimewa yang tidak bisa kita dapatkan dari seorang sahabat di dunia ini bisa kita dapatkan jauh lebih dari apapun melalui kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Ia rela mati demi dosa-dosa kita di muka bumi ini.

Bagaimana kita bisa layak disebut sebagai sahabat Tuhan Yesus? Melakukan perintah Tuhan adalah syarat utama untuk beroleh kepercayaan sebagai sahabat Tuhan Yesus. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:!2).

Kalau membaca kisah Ayub yang tetap setia walaupun penderitaan yang ia alami sangat sakit, sahabatnya masih ada yang mau datang dan menaruh simpati. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Sahabat-sahabat yang sudah kita bangun sejak lama, ternyata dalam satu kondisi mereka menjauh dan meninggalkan kita.

Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat hidup kita, tapi juga menjadi sahabat sejati kita. Bahkan Tuhan sendirilah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya.

Kalau Tuhan rela mengorbankan nyawa-Nya, masakan Dia akan tinggal diam ketika kita sedang dalam permasalahan yang berat? Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi di dunia ini sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita. Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari sebagai sahabat sejati Yesus.

Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Karena itu jangan pernah merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita. Kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan yang ada, kita akan sanggup berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Ingatlah bahwa Tuhan Yesus adalah sahabat yang sejati, sahabat yang selalu ada didalam setiap permasalahan. Yakobus 4 : 4 menuliskan “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Amin.

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s