Warga Samosir Ingin Pindah ke Humbahas

Oleh: Franzul M Sianturi, SE

SitioDI sebuah sudut Danau Toba tepatnya di Kecamatan Sitiotio, Kabupaten Samo­sir, saya terkejut dengan sebuah pengakuan warga yang memilih untuk pindah dari Kabupaten Samosir dan memilih secara administrasi menjadi warga Hum­bang Hasundutan.

Rasa terkejut dibalut penasaran membuatku bertanya terus tentang alasan warga untuk berpisah dari Kabupaten Samosir yang dikenal Negeri Indah Kepingan Surga ini.

Sebagai jurnalis yang saban hari bekerja mencari berita di Kabupaten Samosir, saya pun mencoba menggali informasi di Kecamatan Sitiotio pada per­tengahan Februari lalu. Untuk menuju kampung halaman Penyanyi Legendaris Batak, Buthora Situmorang itu, bisa dicapai dengan dua jalur. Pertama lewat darat dengan melewati jalan berbatu batu dan berliku liku dari pusat Kota Pangururan hingga melewati Kecamatan Harian.

Kemudian lewat jalur danau, dengan menggunakan boat perahu. Jalur ini menjadi jalur favorit warga Sitiotio untuk beraktivitas mulai berbelanja, bekerja hingga jalur untuk mudik. Waktu yang dibutuhkan pun relatif singkat sekitar 40 menit berada di atas danau menuju Mogang, Kecamatan Palipi dengan biaya hanya Rp 10.000 per orangnya.

Kegiatan dan kehidupan warga disana pun sangat beragam, mulai berkebun, beternak, berdagang hingga mencari ikan di danau. Warga yang tersebar di delapan desa ini pun melakukan kegiatannya setiap hari dan sehari harinya masih diliputi suasana keakraban dan kekerabatan adat istiadat.

Secara geografis, daerah ini memang berada persis di sudut antara kawasan danau milik Kabupaten Toba Samosir dan kawasan pegunungan Kabupaten Humbang Hasundutan. Bahkan, warga mengaku, karena berada di kaki perbuk­itan, akses jalan menuju Kabupaten Humbang Hasundutan dari Kecamatan Sitiotio sudah dibuka dan sudah bisa dilalui meski situasinya masih mempri­hatinkan.

Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Humbang yakni Desa Janjiraja dan Desa Holbung. Jalan sendiri sudah dibuka dan beberapa warga di dua kabupaten ini pun sudah menggunakan akses jalan untuk berinteraksi dan bersilaturahmi dalam kekerabatan bahkan menghadiri berbagai hajatan pesta.

Oleh karena itu, pengakuan warga di atas yang memilih untuk hijrah dari Kabupaten Samosir menjadi warga Kabupaten Humbang Hasundutan terjawab ­sudah.

Semuanya disebabkan karena akses jalan menuju Humbang jauh lebih dekat daripada akses ke pusat Kota Pangururan.

Kepala Desa Holbung, Manotar Siringoringo dalam sebuah diskusi dengan Analisa menyampaikan, untuk menuju daerah Humbang dari kawasan desa yang dipimpinnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Padahal, untuk menuju Samosir dengan pusat Kota Pangururan, waktu yang dibutuhkan bisa 4 jam atau sampai setengah hari bila lewat jalur darat.

Untuk jalur danau, Manotar mengaku, harus menyeberang sekitar 40 menit menuju Mogang, Kecamatan Palipi. Kemudian dari Palipi sekitar 1 jam perjala­nan menuju Kota Pangururan. Sehingga, jika ada beberapa warga yang ingin pindah daerah meski kemungkinannya sangat kecil, Manotar menilai itu sah sah saja.

Selain persoalan jarak tempuh, keinginan warga untuk hijrah ke daerah tetang­ga, karena selama kurang lebih 10 tahun menjadi bagian dari Kabupaten Samosir, pembangunan baik sarana jalan, sarana penerangan, sarana irigasi hingga sarana air minum tidak berjalan dengan baik ke Kecamatan Sitiotio.

Tidak itu saja, warga disini mengaku, sering terabaikan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir. Betapa tidak, dalam kegiatan Musrenbang belum lama ini, perwakilan warga menyampaikan, pejabat daerah selama kurun waktu 10 tahun lalu, jarang berkunjung dan bertemu warga Sitiotio.

“Acara Musrembang ini begitu istimewa. Selama kurun waktu 10 tahun kami tidak pernah mendapat kunjungan dari para pejabat Pemerintah Kabupaten Samosir. Baru pada Tahun 2016 ini, kami kedatangan bapak wakil bupati dan pimpinan DPRD,” ujar seorang tokoh masyarakat bermarga Tamba saat menyambut kedatatangan Wakil Bupati Samosir Juang Sinaga dan Ketua DPRD Samosir Rismawati Simarmata.

Oleh karena itu, sebagai wartawan, Pemerintah Kabupaten Samosir dengan pemerintahan yang baru saat ini, harus bisa merealisasikan janji janjinya dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat terlebih masyarakat digaris terluar.

Berbagai program pro kerakyatan serta pembangunan infrastruktur jalan yang memadai harus segera dilakukan. Jika ditilik, Kabupaten Humbang Hasundutan memang memiliki sarana infrastruktur yang sangat memadai. Akses akses jalan di Humbang mulai jalan perkotaan dan jalan pedesaan dibenahi untuk kebutuhan para masyarakat dan petani.

Selain sarana infrastruktur yang memadai, Kabupaten Humbang Hasundutan juga merupakan salah satu daerah terbaik pemekaran Tapanuli Utara. Pem­bangunan secara menyeluruh terus digalakkan.

Hasilnya, pada Tahun 2013, Kabupaten Humbang Hasundutan meraih penghargaan sepuluh besar kabupaten dengan kinerja terbaik penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Djohermansyah Djohan kala itu mengatakan, Humbang Hasun­dutan, menempati urutan ke-10 terbaik dari 411 kabupaten yang ada di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, wajar warga iri dan ingin pindah secara administrasi. Akan tetapi, Kabupaten Samosir belum terlambat. Saatnya berbenah dan bekerja untuk rakyat

Demikian tulisan saya ini, semoga berkenan dan memacu semangat untuk bekerja demi masyarakat Samosir yang lebih baik. Horas.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s