Warga Rahut Bosi Pangaribuan Minta Penebangan Kayu Dihentikan

Pangaribuan – Warga Desa Rahut Bosi, Kecamatan Pangaribuan, Tapanuli Utara, meminta penebangan kayu pinus di hutan yang berbatasan dengan desa mereka dihentikan. Sebab dikhawatirkan, aktifitas yang sudah berlangsung sejak November 2015 lalu ini akan mendatangkan bencana alam.

“Itu sangat mengancam keselamatan lingkungan. Apalagi lokasi penebangan berdekatan dengan lahan persawahan masyarakat. Tepatnya lokasi berada di lahan yang mempunyai kemiringan 45 derajat,” ujar J Gultom, Ketua Badan Permusyarakatan Desa (BPD) setempat.

Hal itu jelas bisa berdampak fatal bagi warga, khususnya lahan pertanian yang berada di sisi lokasi penebangan.

“Kalau sepengetahuan kami, itu masuk kawasan hutan register. Makanya kami juga mempertanyakan penebangan. Dan jika terus dibiarkan, maka bencana akan mengancam kami. Sebab saat ini bencana sudah mengintip dan siap menghancurkan semua lahan persawahan masyarakat.”

Untuk itu ia mewakili warga, meminta pemerintah dan aparat penegak hukum segera menghentikan penebangan.

“Kami juga sudah menyurati Bupati Taput pada Selasa (2/2) lalu. Dalam surat itu kami meminta agar penebangan segera dihentikan. Tapi sampai sekarang, tetap saja ada kegiatan penebangan kayu pinus itu.”

Apalagi katanya, penebangan dilakukan tidak atas dasar mufakat masyarakat Desa Rahut Bosi dan masyarakat lain yang berlokasi di areal tersebut.

Warga lain, T Gultom mengatakan, akibat penebangan itu, saat ini kondisi hutan Sudah gundul. Bahkan ia mengkhawatirkan, jika hujan terjadi terus menerus, akan terjadi longsor dan erosi.
“Selama ini ka nada pohon pinus yang menampung dan menahan sirkulasi air hujan. Tapi kini sudah tidak ada lagi. Maka kami khawatir tanah akan longsor dan akhirnya menimpa lahan persawahan masyarakat Desa Rahut Bosi ini,” kata Gultom.

Ia pun berharap agar Dinas Kehutanan Pemkab Taput dan bahkan Provinsi Sumatera Utara dan DPRD serius menanggapi keluhan mereka.

“Jika masih tetap dibiarkan, kami akan unjuk rasa agar penebangan dihentikan. Begitu juga kepada Polres Taput dan Polda Sumut, kami minta segera turun langsung ke lapangan.”

Parsaoran Gultom, salah seorang tokoh pemuda Kecamatan Pangaribuan mengungkapkan, selain mengancam warga desa yang berada di sekitar hutan, penebangan juga merusak ekosistem.

“Ini jelas tidak bisa dibiarkan. Jangan karena ingin meraup untung perseorangan, orang lain jadi korban. Kita selaku warga Pangaribuan meminta penebangan kayu pinus segera dihentikan. Bila perlu, pengusahanya ditindak sesuai hukum yang berlaku. Pemerintah jangan menutup mata melihat hal ini. Harus bersikap netral, mana yang salah disalahkan dan yang benar dibenarkan.”

Sementara Kepala Dinas Kehutanan Taput, Benhur Simamora yang hendak dikonfirmasi soal penebangan kayu dan surat keberatan yang dilayangkan masyarakat, belum memberikan jawaban. Kemarin, saat dihubungi telepon selulernya beberapa kali, Benhur tidak menjawab. Bahkan SMS yang dilayangkan pun belum mendapat balasan.

Kapolres Taput AKBP Harlay Davidson SIK melalui Humas Aiptu Walpon Baringbing SH kepada wartawan mengatakan, pihaknya akan segera mengecek ke lokasi penebangan dalam waktu dekat.
“Jika memang masyarakat berpendapat bahwa lokasi itu masuk kawasan register dan memiliki bukti yang cukup, maka penebangan itu sudah melanggar undang-undang. Makanya kita akan cek dulu status hutan itu, termasuk ke Kehutanan. Kita juga berharap masyarakat bisa bekerjasama dengan Polres Taput untuk mengungkap hal ini.”(tul)

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s