Sengketa Kepemilikan Tanah Dijadikan Perkara Pidana, Kejari Doloksanggul Dilaporkan ke Kejagung

Oleh Martinus Nababan SH

MartinusKejaksaan Negeri (Kejari) Doloksanggul dilaporkan ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Pasalnya, oknum jaksa penuntut umum yang menangani perkara Pintjentius Sihotang dan Erwin Sihotang, dinilai tidak profesional. Bahkan, terkesan berpihak kepada pelapor, Purnama Purba. Benarkah?

PENGACARA Jaingin Tambunan SH MH melaporkan Kejari Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara ke Jaksa Agung. Dia juga meminta jaksa yang menangani perkara kliennya segera diperiksa dan dijatuhi sanksi tegas. Alasannya, LP/10/IV/2015/Humbahas Pkt, tanggal 02 April 2015 terkesan dipaksakan untuk dilimpahkan ke pengadilan.

Bukan itu saja, tersangka yang dijerat dengan pasal pengrusakan langsung dijebloskan ke balik terali besi sesuai Surat Perintah Penahanan Nomor: PRINT-32/N.2.31/ Ep.1/Dsgl/01/2016, tanggal 27 Januari 2016.

Selain Kejari Doloksanggul, Jaingin Tambunan juga melaporkan penyidik Polsek Pakkat, Brigadir SJ Barus, Ipda Darwin ke Mabes Polri. Menurutnya, kedua penyidik tersebut diduga berlaku tidak adil dalam menangani laporan masyarakat.

“Tujuan kami melaporkan penyidik dan penuntut umum agar supremasi hukum dapat ditegakkan sesuai dengan cita-cita hukum. Artinya, hukum itu bukan milik orang-orang tertentu yang dapat mempengaruhi dan menginterpensi,” ujar Jaingin kepada Reaksi, Kamis (11/2).

Dalam suratnya, Jaingin juga meminta agar penanganan perkara yang dilakukan oleh penyidik bernama Brigadir S.J Barus, Ipda Darwin dari Polsek Pakkat dan Jaksa Penuntut Umum di Doloksanggul, segera dihentikan (deponering). Memberikan perlindungan, kepastian, dan keadilan hukum kepada Pintjentius Sihotang dan Erwin Sihotang.

Menurut Jaingin, dalam perkara ini yang menjadi terlapor sebenarnya ada tiga orang, yaitu Pintenjtius Sihotang, Erwin Sihotang dan Jakson Sihotang. Ketiganya adalah satu keluarga dan bersama-sama dipanggil ke Polsek Pakkat atas laporan Purnama Purba.

Pada pemanggilan pertama, penyidik hanya menetapkan Jakson Sihotang sebagai tersangka, sedang Pintjentius Sihotang dan Erwin Sihotang dijadikan sebagai Saksi. Padahal, peristiwa hukum yang dipersangkakan kepada Jakson Sihotang sama dengan peristiwa hukum yang dipersangkakan kepada Pintjentius Sihotang dan Erwin Sihotang.

“Pintjentius Sihotang, Erwin Sihotang, dan Jakson Sihotang dituduh melakukan pengrusakan terhadap pohon pisang dan pagar kawat berduri sesuai laporan Purnama Purba. Padahal status kepemilikan tanah masih perlu dibuktikan pelapor melalui gugatan perdata,” katanya.

Menurutnya, peristiwa ini bermula ketika 1 April 2015 Jakson Sihotang mendapati tanah milik orang tuanya Pintjentius Sihotang yang berlokasi di ladang Rinabolak Dusun Uruktinggi, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan ditanami pohon pisang dan pagar kawat oleh Purnama Purba. Akibatnya, Jakson Sihotang tidak dapat memasukkan kerbau-kerbau miliknya ke dalam kandangnya yaitu tanah objek perkara.

Melihat keadaan tersebut, Jakson kesal dan marah, sehingga secara spontan langsung mencabut pohon-pohon pisang dan membongkar pagar kawat tersebut. Akibatnya, Jakson Sihotang dengan Purnama Purba terjadi cekcok mulut. Kejadian itu ternyata diabadikan Justro Barasa anak pelapor dengan video rekaman handphon.

Kemudian rekaman itu dijadikan bukti untuk melaporkan keluarga Jakson Sihotang ke Polsek Pakkat. Tapi, berdasarkan putusan hakim Pengadilan Negeri (PN) di Humbang Hasundutan, Jakson Sihotang dinyatakan tidak terbukti melakukan pengrusakan dan dibebaskan dari segala tuntutan hukum pidana.

“Putusan perkara Jakson Sihotang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, tapi penyidik dan jaksa tetap memaksakan perkara Pintjentius Sihotang dan Erwin Sihotang dilanjutkan hingga ke pengadilan. Bahkan, keduanya langsung ditahan tanpa alasan yang jelas. Ada apa ini,” ujar Jaingin Tambunan.

Menanggapi hal ini, Kapolsek Pakkat AKP Komando Tarigan mengatakan, kasus Pinjentius Sihotang dan Erwin Sihotang dilimpahkan sesuai permintan JPU. Dia mengaku tidak punya wewenang memberikan keterangan kepada wartawan. Alasannya, harus ada persetujuan dari Kapolres Humbang Hasundutan.

Ketika Reaksi menanyakan kasus Pijentius Sihotang dan Erwin Sihotang adalah laporan yang sama dengan Jakson Sihotang, dia mengatakan berbeda.

“Setahu saya LPnya berbeda,” kata Komando Tarigan, Kamis (11/2) sambil mengajurkan agar Reaksi menanyakan langsung ke Kanitnya.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Doloksanggul Hatopma Simanjutak juga tidak bisa memberikan keterangan terkait kasus yang menimpa Pinjentius Sihotang dan Erwin Sihotang. Apalagi ketika Reaksi menanyakan kenapa perkara perdata kepemilikan tanah tersebut tidak terlebih dulu diselesaikan antara pelapor dan terlapor.

Ketika ditanya kenapa persidangan tidak bersama sama dengan Jakson Sihotang? Alasan Hatopma karena pengiriman berkas dari Polsek berbeda. Berkas perkara Jakson lebih dahulu dilengkapi penyidik. Anehnya, ketika ditanya soal pasal surat dakwaan yang berbeda, Hatopan Simanjuk tidak bisa memberikan tangapan. Alasannya, karena berkas perkara adanya di JPU.

Terkait putusan bebas terhadap Jakson Simanjutak yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, Hotopma Simanjutak mengaku belum mengetahuinya.

“Kami tetap melakukan upaya hukum kasasi terhadap perkara Jakson yang dibebaskan. Tapi data memori kasasinya saya akan cek dulu, “ ujar Hatopma kepada Reaksi, Kamis (11/02).

Kasipidum mengaku tidak tahu kalau terdakwa Pinjetisium dan Erwin Sihotang didampingi pengacara. Sepengetahuannya, kedua terdakwa hanya didampingi di tingkat penyidikan. ***

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s