Rayakan Natal dengan Penuh Sukacita

Bulan ini, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal dengan penuh sukacita. Perayaan hari kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus telah dimulai sejak awal Desember lewat beberapa acara. Tak ketinggalan pusat perbelanjaan dan pusat hiburan di seluruh dunia memanfaatkan momen Natal ini dengan menghias gedungnya dengan ornament Natal.

Perayaan Natal tidak hanya sekadar merayakan atau memperingati hari kelahiran Yesus Kistus turun ke bumi, dan lahir di kota kecil Betlehem. Perayaan Natal sesungguhnya menjadi momentum bagi kita untuk mengingat betapa sayangnya Tuhan kepada umat manusia di bumi ini sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal. Yohanes 3 : 16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Ketika Yesus berada di bumi ini, Ia memberikan banyak nasehat dan perumpamaan tentang kehidupan agar manusia lebih mudah mengerti apa sesungguhnya tujuan Allah dalam kehidupan kita. Yesus rela mati di kayu salib demi dosa-dosa kita, dosa saya, dosa Anda dan dosa seluruh umat manusia.

Kalau kita berpikir secara manusiawi, buat apa Yesus turun ke bumi kalau hanya dalam waktu singkat mati, dikuburkan dan bangkit pada hari yang ketiga dari antara orang mati ?

Momen Natal mengingatkan saya tentang pentingnya kebersamaan dalam keberagaman. Momen Natal mengajak kita untuk lebih perduli terhadap sesama ciptaan-Nya.

Cerita tentang orang Samaria yang baik hati bisa menjadi acuan bagi kita untuk saling mengasihi, saling menolong dan saling mengingatkan tanpa memandang perbedaan suku, agama, golongan dan ras. Kadang-kadang kita terlalu memandang perbedaan sebagai alasan untuk tidak menolong seseorang, atau memberikan bantuan saat melihat orang lain lagi kesulitan.

Kehadiran kita ditengah-tengah kehidupan ini adalah menjadi garam, terang dan berkat bagi semua orang. Apa yang harus kita perbuat sebagaimana yang Tuhan inginkan, haruslah tetap berpedoman pada firman itu di dalam kehidupanmu, dengan selalu mengandalkan kemurahan hati Allah. Kemurahan itu yang menghidupkan kasih ditengah-tengah kehidupan kita, sehingga tercipta relasi yang baik bagi sesama, perduli dan saling mengasihi, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Diadopsi dari Lukas 10 : 25 – 37 “Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur.

Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Banyak orang yang mengerti arti kasih sayang tetapi tidak banyak orang yang mau melakukanya, masalah melakukan atau tidak melakukan bukan terletak pada ketidaktahuan tetapi ketidakmauan. Kita sudah sering mendengar apalagi membahas tema kasih, tetapi sering hanya dalam batasan pembahasan tidak sampai menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari kita yang sesungguhnya.

Tuhan Yesus memberi pengajaran tentang bagaimana kita seharusnya melakukan kasih itu, melalui satu perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Dalam hidup ada orang yang sudah paham tentang hukum Tuhan dan yang keseharianya belajar dan mengajar, namun tidak bertindak sesuai dengan apa yang diajarkanya, tidak mau merepotkan dirinya dengan mau menolong sesamanya.

Tetapi ada orang yang memang keseharianya tidak belajar tentang hukum Tuhan, namun di dalam jiwanya timbul belas kasihan untuk menolong sesamanya, ia dengan cinta kasih menolong tanpa dibatasi oleh keadaan dan situasi apapun, baginya menolong bukan suatu perkara yang merepotkan tetapi sudah menjadi kewajiban yang tak terbantahkan. Sikap yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok, sering menjadi penghalang untuk kita menunjukkan kasih pada sesama.

Dalam merayakan Natal tahun ini, ada banyak orang yang tidak bisa merayakan natal dengan penuh sukacita karena keadaan ekonomi keluarganya. Ada yang berduka dan ada juga yang terpaksa tak bisa merayakannya karena sesuatu hal seperti bencana. Menghadapi hidup yang serba sulit seperti sekarang ini, begitu banyak orang yang susah dan menderita, bukan saja berasal dari dirinya sendiri tetapi juga dari luar dirinya, dan pada hakikatnya tidak ada orang yang sebenarnya mau menderita tetapi hal itu tidak bisa terlepas dari hidupnya.

Itu artinya bahwa kita harus saling mengasihi, ada saatnya kita susah dan butuh pertolongan orang lain demikian juga orang lain susah membutuhkan pertolongan kita, ada saatnya kita ditolong dan juga saatnya kita menolong. Firman Tuhan mengingatkan kita “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”(Galatia 6:2). Mari rayakan Natal dengan penuh sukacita tanpa mencari-cari alasan yang tak jelas. Amin.

Iklan

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s