20 Tahun Mengajar Terima Rp40 Ribu per Bulan

HKITarutung – Miris ! Guru-guru honor di SD Latihan NSS 102070801003 Yayasan HKI Kota Tarutung cuma bergaji Rp40 ribu per bulan. Namun demi pendidikan generasi muda setempat, mereka tetap bertahan.

Salah seorang guru itu adalah Helen br Lumban Tobing (40). Ditemui di sekolah yang kondisinya juga memprihatinkan itu, di Kelurahan Huta Toruan XI Kabupaten Tapanuli Utara, Helen mengaku sudah mengajar di sana selama 20 tahun.
Meski bergaji sangat minim, ia tetap bertahan. Alasan yang paling kuat adalah karena tugas mulia yang diembannya sebagai guru.

“Soadong gaji nami sian sikkola (enggak ada gaji kami dari sekolah, red). Sejak saya mengajar pertama di sana pada tahun 1995, gajinya memang sudah Rp40 ribu. Pada tahun 2002-2003, gaji kami sempat naik menjadi Rp150 ribu. Namun setelah itu gaji kembali di angka Rp40 ribu, itu pun dari dana BOS dan dibayar per triwulan,” kata Helen.

Sekolah itu terdiri dari 6 kelas dengan 45 siswa keseluruhan. Kondisi sekolah yang berjarak 200 meter dari pusat Kota Tarutung ini terlihat memprihatinkan. Plafon di semua ruangan, hampir semua rusak. Jika cuaca sedang hujan, air akan menetes dari atap dan membasahi ruangan. Tak jarang kelas kebanjiran. Selain itu, lantai di beberapa ruangan di sekolah itu sudah kupak kapik.

“Jika hari sedang hujan, proses belajar mengajar sering dihentikan. Setelah hujan berhenti dan kelas dibersihkan, baru murid masuk kembali dan belajar.”
Namun semua suka duka yang telah dirasakannya selama dua puluh tahun itu, tak serta merta membuatnya putus asa dan berhenti mengajar. Bahkan dengan kondisi itu, ia semakin termotivasi untuk meneruskan langkahnya mencerdaskan generasi muda. Apalagi belakangan, ada secercah harapan statusnya bisa diangkat dari honorer menjadi PNS.

“Pada dasarnya yang membuat bertahan itu hanya niat mengajar anak-anak itu. Kemudian kepala sekolah juga selalu mengajak kami untuk bertahan. Syukurnya sekarang saya sudah punya Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) dan sedang mengurus sertifikasi,” ungkap Helen.

Di momen hari guru ini, ia berharap nasib mereka segera mendapat perhatian dari pemerintah dan bisa diangkat menjadi PNS.

“Kamilah pendidik anak bangsa, tetapi nasib kami seperti ini. Gaji sebesar itu ya jelas tidak cukup. Apalagi saya sudah berkeluarga. Saya yang tamatan SLTA ini juga ingin kuliah dan mengambil S-1,” tukas ibu dua anak ini sedih.
Guru lain, Elen Purba (28) menambahkan, perbedaan mereka dengan guru-guru lain di kota besar, jelas terlihat.

“Kami adalah guru yang sangat berhati mulia. Dengan semangat sukarela, kami mau mengajar anak bangsa. Tak seperti guru-guru SD di tempat lain yang mendapat kelayakan. Namun saying, kami tidak diperhatikan. Malah seperti dianaktirikan.” Di menceritakan, sehari-harinya ia yang tinggal di Kecamatan Simorangkir, membutuhkan ongkos Rp8 ribu per hari untuk sampai ke sekolah.
“Ya hitung sendiri, ongkos saya saja sebulan sudah berapa? Sedangkan gaji kami hanya Rp40 ribu per bulan. Untuk mengatasinya, kami harus bekerja di luar sekolah, seperti bertani.” Ia berharap, kiranya pemerintah memerhatikan nasib guru honor seperti mereka, terutama yang berada di desa terpencil dan dengan kondisi sekolah yang memprihatinkan.

“Sebenarnya saya tak sanggup berkata apa-apa lagi. Tapi gimanalah, demi murid-murid. Kami juga ingin murid nyaman bersekolah dengan banyak fasilitas,” ujar Elen sembari menyeka air matanya yang menetas di pipi.

Harapan yang sama diungkapkan rekan mereka, Nurita Ritonga (50). “Semoga kami diperhatikan. Saya sudah lama di sekolan ini, tapi tidak ada perubahan sama sekali. Semoga pemerintah memikirkan kami. Kami juga butuh makan.”

Kepala Sekolah Royal Opusunggu, juga mengakui hal itu. Bahkan ia kerap mendengar keluhan itu dari para gurunya.
“Selama ini memang saya menahan para guru untuk terus bertahan di sini. Itu terus yang saya bilang ke mereka, mana tau ada program dan subsidi dari pemerintah. Saya selalu mengajak mereka untuk mengajar dengan ikhlas. Anak-anak inilah yang kita lihat!” tegasnya.

Sementara Ketua Yayasan Jonggi Lumban Tobing kepada New Tapanuli, tak berkomentar banyak. Ia hanya berharap agar pemerintah membantu mereka dalam membangun sekolah. Ia juga mengakui bahwa pihaknya saat ini tidak bisa memberikan fasilitas yang layak untuk guru dan anak didik. (as)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s