Aku Janji Tak Buat Malu dan Sayang Sama Mama

PilSIANTAR – Pria yang tertangkap membawa 3.000 butir ekstasi di Pekanbaru, Riau, ternyata warga Patuan Anggi Pematangsiantar. Dia adalah anak pemilik Toko Alvin Fishing, toko yang menjual alat-alat pancing.

Ditemui di toko yang beralamat di Jalan Patuan Anggi, Kelurahan Pardomuan, Siantar Timur, Awin Nasotion (57), ayah dari Ahmad Alvian Nasution (22), pria yang membawa ekstasi itu, mengaku sangat syok mendengar peristiwa tersebut. Padahal, dari perantauan, Alvian masih sempat mengirim SMS menyampaikan janji tidak membuat malu keluarga.

Dalam pesan singkatnya, Alvian juga mengatakan bahwa dirinya sudah mendapatkan pekerjaan baru sebagai supir mobil perusahaan travel.

“Dia sempat mengirim SMS menyebutkan sudah mendapatkan pekerjaan baru. Dia bilang nggak pulang karena sudah kerja. Dia bersama temannya menjadi supir khusus mengantar tamu travel,” ujar Awin.

“Yang jelas aku mau tunjukkan kalau masih bisa kerja yang benar. Aku janji tidak akan buat malu keluarga. Aku juga sayang mama,” ujar Awin membacakan pesan yang dikirim Alvin kepadanya tanggal 29 April lalu sembari mengatakan bahwa Alvin baru saja mengurus SIM sekitar sebulan terakhir, sebelum meninggalkan Siantar.

Lebih lanjut Awin mengatakan bahwa anak kedua dari empat bersaudara itu merupakan anak yang sering menyusahkan mereka. Hal itu terbukti dengan seringnya Alvin berurusan dengan pihak kepolisian.

“Sudah sering buat masalah. Dari mencuri masuk ke kios orang lain, mencopet dan narkoba. Kadang malu lihatnya karena yang dia curi nilainya bukan besar. Pernah masuk ke dalam kios kosong dan mencopet uang Rp50 ribu,” ucapnya.

Dan, ternyata Alvian juga baru keluar penjara sekitar dua minggu lalu. “Begitu ia keluar, kita tanyakan dan kita coba carikan pekerjaan. Awalnya Alvian minta kerja, kita sediakan steleng buat jualan jus buah. Ia yang bilang mau jualan jus, Baru malamnya mau jualan mie, nasi goreng. Eh, baru kita siapin dan belum sempat dipakai, dia udah ketangkap,” jelasnya.

Sementara, ibu Alvian yang saat itu sedang mendampingi suaminya menjelaskan bahwa Alvian sedang dalam proses perobatan dan sudah berulangkali dibawa mendaftar ke Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan maksud supaya Alvin mendapatkan rehabilitasi.

“Saya sudah sering membawa berobat. Ini aja masih ada obatnya. Saya juga sudah bawa ke BNN, tapi kata orang BNN harus datang secara sadar diri. Terus aku harus mau gimana lagi. Tolonglah aku biar dia bisa masuk rehab,” terang ibu Alvian lesu.

Terpisah, RT 06 LK II bermarga Sitorus mengakui hal senada. Sepengetahuanya, Alvian sudah berulangkali berurusan dengan polisi. Di lingkunganya, Alvian jarang kelihatan. “Yang kita tahu, seringlah masuk penjara. Terakhir ini baru keluar penjara. Alvian ditangkap bersama dengan temanya. Temanya itu aja masih di dalam penjara,” ucapnya seraya menjelaskan bahwa Alvian adalah keponakanya.

Sementara, keterangan warga sekitar, lingkungan tersebut rawan dengan peredaran narkoba. “Di sini rawan narkoba. Kayaknya bukan cuma anak muda aja yang kena. Kita sudah mulai takut anak-anak remaja mulai terjerat,” ujar warga yang meminta namanya dirahasiakan. Dan, warga berharap ada perhatian dari BNN dan pihak kepolisian memberantas penyelahgunaan yang ada di sana.

Dikendalikan dari Lapas
Aksi peredaran narkoba dari balik jeruji besi masih saja terjadi. Sebab dari hasil pemeriksaan intensif yang dilakukan penyidik Satuan Narkoba Polresta Pekanbaru kepada para terduga atas ditemukannya ribuan ektasi, Jumat (1/5) lalu, ada satu petunjuk yang baru ditemukan. Penyidik, menemukan kalau ribuan ektasi yang telah diamankan dikendalikan oleh narapidana yang ada di Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Tanjung Gusta.

Hal tersebut langsung disampaikan Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Robert Haryanto Watratan SH SSos MH melalui Kasat Narkoba Kompol Iwan Lesmana Riza, Minggu (3/5).

Dikatakannya, petunjuk itu diketahui usai pemeriksaan dua tersangka asal Pematangsiantar, yakni An dan Jm.

“Kedua tersangka itu mengaku hanya sebagai kurir. Sedangkan orang yang menyuruh mereka adalah narapidana yang tengah menjalani hukuman di Lapas Tanjung Gusta. Namun mereka mengaku tidak mengetahui identitas lengkapnya, karena selama berkomunikasi, narapidana tersebut menggunakan nama samaran,” kata Robert.

Untuk memastikan hal tersebut, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian Polda Sumut dan Lapas Tanjung Gusta. Selain koordinasi, penyidik juga masih menunggu salah seorang tersangka yakni St yang baru saja selesai menjalani operasi pada kedua kakinya pasca melompat dari lantai delapan hotel.

“Kedua kurir itu mengaku baru pertama kali mengantar barang ke Pekanbaru. Sementara itu dari hasil penyelidikan St lah yang biasa menjemput barang ke Medan. Untuk itu kami masih menunggu St pulih agar dapat segera diperiksa,” kata Kasat.

Selain ketiga tersangka, pihak penyidik juga masih terus memeriksa tiga orang diduga kaki tangan dari St yang turut diamankan saat penggerebekan di Hotel Arya Duta. Namun status ketiganya masih terperiksa, pasalnya penyidik masih membutuhkan bukti-bukti yang cukup untuk menjerat ketiganya dan menaikkan status menjadi tersangka.

Ditanyakan masihkah ada kemungkinan bertambahnya tersangka baru, Kompol Iwan mengatakan hal itu mungkin saja. Pasalnya, dari total 5000 ektasi yang dipesan, berdasarkan perhitungan secara manual , baru 2811 ektasi yang diamankan. Sedangkan sisanya yang diduga telah berada di tangan St belum diketahui keberadaannya.

“Dugaan kami sekitar 2.000 ektasi telah beredar di Pekanbaru diduga diedar ke tempat hiburan malam, jadi kami masih melakukan penyelidikan. Karena itu kemungkinan tersangka masih akan bertambah. Memang perkiraan awal, ekstasi yang diamankan berjumlah 3.000 butir. Namun setelah dihitung manual, jumlahnya tidak sampai. Diduga ekstasi ada yang diambil, karena kemasannya telah dibakar ulang,” papar Kasat.

Ditanya soal adanya informasi bahwa adik St yakni berinisial Zf yang turut diamankan dari kamar St saat penggerebekan adalah honorer Dinas Perhubungan Pemko Pekanbaru. Kasat membenarkan hal itu. Namun yang bersangkutan saat ini statusnya masih saksi. Hal itu karena dari hasil pemeriksaan, Zf mengaku hanya mengantarkan nasi untuk abangnya.

“Tapi tidak menutup kemungkinan adiknya itu juga ikut jadi tersangka kalau ada bukti yang kuat. Hari Senin kami akan gelar perkara untuk menentukan hal itu. Memang adiknya itu bekerja sebagai honorer di Dishub Pekanbaru. Sedangkan dua wanita yang saat itu juga diamankan hanya saksi, karena mereka tidak mengetahui namun tetap wajib lapor,” ungkapnya.

Terkait ditemukannya puluhan kapsul dari kamar tersangka St, Kasat mengatakan diduga mereka akan membuat ekstasi dalam bentuk kapsul dengan menghancurkannya. Namun untuk membuktikan hal itu, pihaknya akan melakukan uji laboraturium terlebih dahulu. “Kami akan uji laboraturium dulu,” tutup Kasat.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa tabrakan antara mobil Avanza Putih BK 1315 WF dengan Pajero Sport di Jalan Cut Nyak Dien, Jumat (1/5) sekitar pukul 07.00 WIB langsung memancing perhatian. Warga yang mengetahui ada mobil yang menabrak kendaraan lain langsung mendatangi lokasi.

Saat terjadinya tabrakan di depan Polda Riau itu, sang pemilik mobil Pajero juga tengah berada di mobil. Tidak terima mobilnya ditabrak, pemilik kemudian keluar dan mendatangi mobil Avanza. Setelah penabrak dikeluarkan dari mobilnya, terlihat gelagat aneh. Pria yang diketahui berasal dari Pematangsiantar itu terlihat sempoyongan dan kemudian merangkak seperti masih dipengaruhi narkotika.

Mengetahui adanya diduga pelaku penyalahgunaan narkotika yang terlibat kecelakaan, Tim Sat Narkoba Sat Reskrim dan Sat Lantas Polresta Pekanbaru langsung melakukan penggeledahan dan mengevakuasi kendaraan. Dari dalam mobil Avanza, petugas mendapati tiga kantong besar yang diduga berisi narkotika jenis pil ektasi warna putih berlogo kuda ditaksir sebanyak 3.000 butir di bawah jok supir. Mendapat barang bukti itu, supir langsung diamankan.

Kalapas: Belum Ada
Koordinasi dari Polisi
Terkait penangkapan 10 org tersangka narkoba yang ditangkap oleh polresta Pekan Baru di hotel Arya Duta Pekan Baru, Jumat (1/5) kemarin, menurut hasil pengembangan, diketahui kalau jaringan tersebut diatur dari seorang narapidana yang ditahan di Tanjung Gusta.

Kalapas Tanjung Gusta Klas I Medan, Lilik Sujandi saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut mengatakan bahwa ada pihak kepolisian sudah melakukan koordinasi dengan pihak LP Tanjung Gusta Klass I Medan, dirinya mengaku kalau belum ada mendapatkan kabar tersebut.

“Untuk adanya informasi itu belum ada kita terima,” jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (3/5) siang. Kemudian ditanyai apakah setelah mengetahui hal ini akan melakukan penyelidikan atau penggeledahan di Lapas untuk mengetahui kabar tersebut, dirinya mengatakan pihaknya menunggu koordinasi pihak kepolisian Lilik mengatakan pengawasan HP di lingkungan Lapas Tanjung Gusta klas I Medan, dikarenakan pengendalian yang dilakukan menggunakan telepon seluler, dirinya mengatakan kalau melakukan pengawasan terhadap penggunaan telepon.

“Kita sudah melakukan pengawasan dengan cukup maksimal, walaupun petugas kurang. Yang jelas, siapapun yang tertangkap di luar, paling mudah menyebut napi,” ungkapnya. Dirinya pun mengaku kalau akan keterbatasan dari pengawas yang kurang untuk mengawasi warga binaan yang begitu banyak. “Kita hanya manual operasional karena tidak dilengkapi dengan alat deteksi. Penggeledahan tetap dilakukan walaupun jumlah petugas terbatas dan semua penggeledahan yang dilakukan terdokumen. Jadi kita tunggu saja penyidikannya kalau memang cukup bukti,” ujarnya.

Diketahui kalau Satuan Reserse Narkoba Polresta Pekanbaru berhasil mengamankan ribuan pil ekstasi dari 10 orang pada Jumat (1/5) lalu, sSalah seorang, di antaranya yang diketahui berinisial, ST yang merupakan mantan anggota Polri yang bertugas di Kabupaten Rokan Hilir, nekat melompat dari lantai 8 Hotel Arya Duta, Pekanbaru.

Tak hanya ST, pelaku lainnya berinisial ZF juga merupakan pecatan dari korps Bhayangkara tersebut. Setelah dilakukan pengembangan di Hotel Dafam, kemudian diamankan DC, AR, SM dan JM. Saat penggrebekan, JM diduga over dosis karena mengkonsumsi sabu. Adapun barang bukti yang diamankan berupa 3 bungkus plastik yang berisi 3.000 pil ektasi, data transkasi narkotika, beberapa paket sabu-sabu, uang puluhan juta rupiah dan beberapa dompet.

Cacatan transaksi, print transaksi uang yang diduga penjualan sabu, beberapa HP. Dari 10 orang yang diamankan ini, belum satupun yang ditetapkan sebagai tersangka. Pasalnya, petugas masih melakukan pemeriksaan intensif untuk mengetahui peranan masing-masing orang yang diamankan. (bay/pmg/mag-05/ara)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s