Sering Dipukuli, Kami Kabur Dari Rumah

illustrasi
illustrasi

BINJAI – Abang beradik, Marolen Hutahaean (10) dan Nedia (9) Hutahaean terus menangis ketika berada di Polres Binjai. Tangis bocah asal Saribudolok ini semakin menjadi-jadi ketika hendak dibawa petugas Dinas Sosial (Dinsos) Kota Binjai, Rabu (18/2) siang.

Air mata kedua bocah yang mengaku bersekolah di SDN 1 Saribudolok ini terus jatuh membasahi baju yang mereka kenakan. Tergambar kesedihan dan rasa takut teramat dalam dari wajah mereka. Dengan kalimat terbata-bata dan berlogat Batak yang kental, kedua bocah ini menceritakan kisah duka yang mereka alami hingga mereka memutuskan kabur dari rumah meninggalkan kedua orangtua dan empat orang adik mereka.

Mereka menceritakan bagaimana kehidupan kedua orangtua yang kerap berkelahi, bercerita tentang pemukulan yang kerap mereka terima serta kerja menjadi buruh cuci. “Orangtua kami Makdin Hutahaean dan Nora br Gultom,” terang kedua bocah ini.

Sembari menghapus air mata dan duduk di kursi ruang PPA Polres Binjai, mereka mengakui kalau pemukulan yang mereka alami terjadi ketika kedua orangtua mereka berkelahi.

Usai berkelahi, baik ibu dan ayah mereka melampiaskan kemarahan dengan cara memukuli mereka, dengan kayu seperti rol dan dengan tangan. Bahkan, masih tampak bekas membiru di badan dan tangan mereka.

“Badan dan tangan terus dipukul,” tukas Erik yang duduk di lantai. Perekonomian kedua orangtua yang memang di bawah rata-rata membuat perkelahian kerap terjadi. “Bapak petani, mamak tukang cuci,” terang bocah ini.

Kemiskinan yang menerpa juga membuat mereka tak bisa menikmati hidup seperti anak-anak seusia mereka, seperti bermain-main dan berkumpul bersama teman-teman sekolah. “Pulang sekolah kami harus jadi tukang cuci. Dari satu rumah ke rumah lain kami datangi untuk cari uang,” ujar mereka.

Mereka beralasan bahwa kehidupan yang terus tertekan membuat mereka meninggalkan rumah. Meski tidak ada niat untuk pergi, akan tetapi keadaan yang terus menerus seperti itu memaksa mereka meninggalkan rumah. “Kami sudah nggak betah tinggal di rumah,” lirih keduanya sembari menghapus air mata.

Dengan kondisi ini, merekapun berniat mengadu kepada Pitauli br Gultom, tante (adik ibu) mereka. “Dia tante kami, pernah dia ke rumah melihat kami,” terang Erik.

Erik mengatakan, saat Pitauli berkunjung ke Saribudolok, mereka mendengar kalau tante mereka itu tinggal di pasar loak, tepatnya Jalan Pancing Medan. “Aku dengar gitu. Tante tinggal di pasar loak,” ujar Erik yang duduk di bangku kelas V SD.

Dengan bermodalkan uang hasil bekerja sebagai tukang cuci yang mereka kumpulkan, pada Selasa (17/2) sekitar pukul 10.00 WIB, sepulang sekolah, Erik kabur setelah sebelumnya mengajak adiknya untuk mencari keberadaan tante mereka.

“Kami naik bus jurusan Medan,” pungkas mereka sembari mengatakan tidak tahu menahu kemana kaki melangkah.

Tidak mengetahui arah pasti kemana bus yang mereka tumpangi dan sembari bertanya-tanya kepada orang-orang, mereka akhirnya nyasar ke Kota Binjai, tepatnya di Jalan Masjid, Kelurahan Pekan Binjai, Kecamatan Binjai Kota. Di sini, mereka bertemu Ria Nuraina (42), warga Jalan Manggis, Lingkugan I, Kelurahan Limau Sundai, Kecamatan Binjai Barat.

“Aku lihat mereka saat aku belanja. Mereka terlihat bingung, makanya setelah aku tanya-tanya, kubawa ke rumah,” terang Ria Nuraina.

Merasa iba dengan kisah yang diceritakan kedua bocah ini, ibu anak dua ini akhirnya membawa kedua bocah tersebut ke kediamannya. Erik dan Nedia diberi makan dan diinapkan selama semalam di rumahnya. “Mereka bilang belum makan dari pagi. Makanya aku ajak ke rumah dulu,” tukas wanita berjilab ini.

Dan, keesokan harinya, Nuraina mengajak kedua bocah ini ke Polres Binjai hingga akhirnya pihak kepolisian menghubungai Dinas Sosial (Dinsos) Kota Binjai. “Kami langsung berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial,” terang Kanit PPA Polres Binjai Iptu Salma.

Pihak Dinas Sosial turun ke Polres Binjai dan langsung mengajak kedua bocah ini ke kantor Dinsos. “Saat ini kita akan merawat keduanya. Selanjutnya kita akan mencari keberadaan kedua orangtua mereka dan berusaha memulangkan mereka,” tegas Kepala Dinas Sosial Kota Binjai Nani Sundari melalui stafnya Ema, yang mendatangi Polres Binjai.

Sementara, dari Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Simalugun, kedua orangtua bocah tersebut tidak berhasil ditemui di tempat tinggalnya. Tak seorangpun jiran tetangga yang mengetahui dimana keberadaan Makdin dan istrinya. Warga di sana juga mengaku masih kurang familiar dengan pasangan suami istri (pasutri) yang memiliki 7 orang anak tersebut. Sebab, mereka masih terbilang warga baru di daerah tersebut yang merupakan komplek perumahan K Purba, belakang SMAN 1 Silimakuta, tempat mereka tinggal sekarang.

Sebelumnya, keluarga ini diketahui tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Ragi Hotang, Saribudolok. “Haroan do ai. Baru do ijon tading homa (Mereka itu buruh tani. Dan, tinggal di sini juga masih baru),” kata warga setempat bermarga Lubis, malam tadi.

Hal yang sama juga diakui Ketua RT 026 Mansen Saragih. Mansen mengatakan bahwa Makdin Hutahaean tidak terdaftar sebagai warganya di RT 026. Bahkan, selama menetap di sana, Makdin belum pernah melapor ke Ketua RT, sebagaimana harusnya yang dilakukan para pendatang.

Sedangkan mengenai informasi larinya dua anak pasangan itu, Henri Lubis (30), seorang tetangga keluarga tersebut mengamininya. “Kalau tidak salah, Selasa semalam,” kata Lubis. Dia juga mengamini pengakuan kedua bocah tersebut yang mengaku kerap disiksa orangtuanya. “Sering memang,” kata dia.

Warga lainnya, br Sembiring, juga melontarkan pengakuan senada. Namun, ibu rumah tangga ini menilai, tindakan itu dilakukan Makdin dan istrinya bukan tanpa alasan. Sebab, kata dia, kedua anak tersebut sedikit nakal dibandingkan anak-anak seusianya. “Agak gutul memang (Sedikit nakal anaknya),” ujar seorang wanita lainnya menimpali.

Amatan wartawan, hingga pukul 20.00 WIB, rumah tempat tinggal pasutri ini masih kosong. Bahkan, sebuah lampu yang ada di teras juga dibiarkan padam. Tak seorangpun yang mengetahui dimana penghuni rumah itu berada. “Barangkali lagi di ladang,” kata seorang tetangga. (bam/oga)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s