Asal Usul Marga Nababan

1a

Oleh : Jaken Nababan SH

Marga Nababan merupakan salah satu marga dari suku Batak, diwarisi oleh semua yang bermarga Nababan, baik lelaki maupun wanita dari garis keturunan Bapak secara turun-temurun. Nababan yang pertama bergelar BORSAK MANGATASI NABABAN, merupakan anak ketiga dari Toga Sihombing yang mempunyai 4 orang anak laki-laki dengan urutan sebagai berikut:

1. Silaban gelar Borsak Junjungan
2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur
3. Nababan gelar Borsak Mangatasi
4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan.

Marga yang diwarisi oleh keturunan masing-masing adalah Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Keempat gelar tersebut sering dipakai sebagai nama perkumpulan marga oleh keturunan yang bersangkutan di Bonapasogit dan perantauan, atau sebagai nama nenek moyang dari marga yang bersangkutan. Misalnya marga Nababan, pomparan (keturunan) dari Borsak Mangatasi.

Mengingat keturunan dari masing-masing marga telah banyak jumlahnya, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah disepakati oleh keturunan dari empat bersaudara: Silaban, Lumbantoruan, Nababan dan Hutasoit untuk boleh saling mengawini. Artinya, lelaki dari masing-masing marga ini boleh mengawini perempuan marga lainnya dari kelompok empat marga yang bersaudara tersebut. Persetujuan nikah tersebut di dalam upacara tastas bombong dan ini terjadi di Bonapasogit sampai sekarang, tetapi di perantauan telah di bentuk PARTOGI untuk mempersatukan ke empat marga tersebut pomparan Toga Sihombing dan sebagian daerah telah melarang perkawinan tersebut dengan memperkokoh hasadaon di daerah tempat tinggalnya.

MENGAPA MARGA ITU PERLU ?

Sejak dulu Orang Batak telah mempunyai marga. Marga memegang peranan dalam adat istiadat, budaya, pergaulan, dan kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Batak, khususnya dalam rangka melaksanakan falsafah Dalihan na Tolu. Selama- orang masih mengaku dirinya sebagai Orang Batak ia akan tetap memerlukan marganya di dalam penyelenggaraan adat istiadat, budaya, dan tata krama pergaulan di dalam masyarakat, sekalipun ia hidup di perantauan.

Selain itu, marga yang diwarisi secara turun temurun itu dapat berfungsi sebagai family name, yang umumnya pada banyak bangsa di dunia ini diwariskan kepada keturunannya. Jadi, marga itu –umpanya Nababan– dapat berfungsi sebagai salah satu identitas diri.

SEJAK KAPAN MARGA NABABAN ITU ADA ?

Di dalam kehidupan sosial dan pergaulan Orang Batak, masing-masing orang yang semarga perlu mengetahui silsilah dan nomor silsilah masing-masing. Kenapa silsilah perlu diketahui ? adalah untuk membedakan teman semarga yang kita hadapi itu apakah merupakan haha doli (abang) atau anggi doli (adik). Sedangkan gunanya mengetahui nomor silsilah adalah agar kita mengetahui apakah teman semarga yang kita hadapi itu termasuk golongan Bapak, Kakek, Anak atau Cucu.

Nomor silsilah nenek moyang kita, Borsak Mangatasi adalah nomor 1. Nomor silsilah anaknya adalah nomor 2, sedangkan cucunya adalah nomor 3, demikian seterusnya. Apabila seorang memiliki silsilah bemomor 15, maka ia akan menyebut marga Nababan bemomor silsilah 14 sebagai Bapak dan yang bemomor silsilah 15 sebagai Anak, nomor 16 adalah cucu.

Dengan memperhatikan nomor silsilah bermarga Nababan di Bonapasogit, nomor silsilah generasi Nababan yang hidup sekarang bervariasi, mulai dari nomor 14 sampai dengan nomor 22, nomor 21 sudah banyak di Desa Lumbantongatonga dan Desa Paniaran turunan dari Oppu Sandar Nagodang, sedangkan nomor 14 masih ada yang hidup sampai sekarang di Dusun Sibuntuon, Desa Sitabotabo turunan dari Oppu Tuan Sirumonggur satu keluarga lagi suami/istri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa marga Nababan sudah ada sejak sekitar 4- 6 abad yang silam.

DI MANAKAH TEMPAT BERMUKIM MARGA NABABAN ?

Semula, Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Mungkin untuk memperoleh ruang hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba. Tipang terletak di pinggir pantai, selatan Danau Toba, pada tanah pesisir yang sempit, dikelilingi perbukitan yang cukup, tinggi di sebelah selatan, tidak jauh dari Bakkara –tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja.

Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang, hal ini membuat lahan persawahan dan pertanian yang terasa kurang. Oleh sebab itu, sebagian keturunan Sihombing berimigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Nababan mendirikan kampung di Sipultak yaitu Oppu Domi Raja, kemudian pindah ke Balige, kemudian kembali lagi ke Sipultak, Oppu Domi Raja mempunyai anak 2 orang, yaitu anak pertama Sandar Nagodang ke Lumban Patik, anak ke dua Tuan Sirumonggur ke Sitabotabo, dari daerah inilah secara bertahap keturunan Nababan berpencar di berbagai daerah dataran tinggi Humbang, yaitu:

Nagasaribu, Lintongnihuta dan sekitarnya
Butar Toruan (Lumbantongatonga, Paniaran dan Lumban Motung) sekitarnya
Sitabotabo dan sekitarnya
Sipultak dan sekitarnya
Hitetano, Tobasa.
Di dua daerah ini pertama bermukim keturunan Sandar Nagodang di Lumbantongatonga, Di Sitabotabo Tuan Sirumonggur.

Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Lumbantoruan dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:

Silaban di Silabanrura, Butar dan Sijamapolang Humbahas.
Lumbantoruan di Lintong Nihuta, Sipultak, Butar Dolok, Bahalbatu, Sibaragas dan sekitarnya.
Hutasoit di Silait-lait, HCB , Lintongnihuta, dan sekitarnya.
Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Nababan masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Nababan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Nababan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Nababan makin meningkat ke daerah Sidikalang Dairi, Kotacane, Aceh Tenggara, Desa Silangkitang Pahae Jae, Hitetano Porsea dan ke daerah lainnya di Nusantara. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Nababan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Nababan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Di Jakarta misalnya, mereka mempunyai Parsadaan (perkumpulan) yang diberi nama Parsadaan Borsak Mangatasi Nababan Dohot Boru & Bere Jabotabek dan sekitarnya. Di Medan sekitarnya, di Palembang, di Semarang dan daerah lainnya.

SIAPAKAH YANG BERMARGA NABABAN ?

Yang bermarga NABABAN adalah :

Pada dasarnya semua orang, lelaki dan wanita, yang mewarisi marga tersebut melalui garis keturunan bapaknya.
Semua perempuan non-Batak yang sudah diberi (diampehon) marga boru Nababan melalui proses adat atas permintaanya sendiri dan (calon) suaminya. Suaminya adalah bere dari salah satu keluarga Nababan, atau anak atau keturunanya dari saudara perempuannya.
Semua lelaki non-Nababan yang diadopsi oleh salah satu keluarga Nababan. Misalnya Agung Laksono Nababan (Ketua DPR RI sekarang). Di angkat Gr Sihol Nababan menjadi anaknya di Medan beberapa tahun yang lalu.
BAGAIMANA PEREMPUAN ATAU LELAKI NON-NABABAN BISA MENJADI NABABAN ?

Seperti dikemukakan di atas sudah makin banyak keluarga Nababan yang berdomisili jauh dari daerah asal nenek moyangnya. Dalam situasi yang demikian perkawinan antar suku, bahkan antar bangsa tak terhindarkan. Oleh Sebab itu sudah makin banyak pemuda Nababan yang menikah dengan perempuan dari suku non-Batak dan boru Nababan kawin ke suku non-Batak, contohnya : boru Hutasoit dari paman kawin ke orang Jepang, paman paampuhon orang Jepang menjadi marga Nababan, karena namborunya boru Hutasoit kawin ke marga Nababan.

Demikian pula para bere dari Nababan, yaitu anak atau keturunan dari ibu (boru) Nababan . Dalam hal ini banyak bere dari Nababan, yang bersama calon isterinya memohon kepada keluarga Nababan terdekat untuk memberi (mangampehon) marga kepada sang (calon) isteri tersebut . Dengan demikian praktis keluarga Nababan tersebut “harus” mengadopsi perempuan non-Batak dimaksud menjadi anaknya putrinya atas restu ketiga unsur marga sesuai dalihan na tolu.
Dengan pemberian marga itu, maka :
1. Bere itu mempunyai Hula-hula
2. Anaknya mempunyai Tulang
3. Cucunya mempunyai Bona Tulang
4. Anak cucunya mempunyai Bona ni Ari
Hal yang sama bisa terjadi pada lelaki non-Nababan, bisa menyandang marga Nababan melalui proses memberi (mangampehon) marga atas permintaan pihak keluarga (calon) isteri lelaki dari suku non-Batak tersebut. Hanya memang, peristiwa ini sangat jarang, karena prosedumya lebih ketat dan memerlukan pertimbangan yang lebih matang. Dengan demikian terjamin hak dan kewajibannya dalam adat istiadat orang Batak sampai tiga keturunan.

Setelah diadakan Partangiangan Marga Nababan tepatnya Tanggal 13 Oktober 1955 di Siborongborong, marga Nababan semakin maju dan banyak yang berhasil (baca sejarah marga Nababan di web site ini : http://www.tuannahoda.co.nr ). Menurut data yang ada pada Pesta Partangingan marga Nababan, yang bermukim di Desa Lumban Tongatonga 573 KK, Desa Paniaran 457 KK, Desa Sitabotabo I, 470 KK, Desa Sitabotabo II 500 KK, Desa Lumban Motung 300 KK, Nagasaribu, 735 KK, Sipultak 350 KK. Desa Parhorboan 50 KK Di Desa Silangkitang Pahae Jae  187 KK, Tarutung 90  KK di Hitetano 98 KK, Sipoholon 70 KK, Parmonangan 30 KK belum termasuk boru dan bere dan didaerah lainnya yang tersebar di Indonesia.

Asa napuran tano-tano rangging masiranggoman, badanta padao-dao tonditta masigomgoman. Horas

13 pemikiran pada “Asal Usul Marga Nababan

  1. Mantak Manalu

    Apakah Borsak Mengatasi itu sebagai gelar atau nama. Setahu saya, Nababan itu nama yang diberikan setelah dewasa. Ada ceritanya. Dari kata Nababaan menjadi Nababan.
    Menurut sejarahnya, Tipang baru mulai dihuni sejarah awal tahun 1500-an. Sebelum itu, tidak ada orang yang tinggal disana, karena masih berupa hutan belantara.

    Suka

  2. Naek Nababan

    Marga Nababan yg pergi membuka pemukiman baru di Hite Tano adlh Datu Pamona Mangambit, generasi ke 10 dari Tuan Sirumonggur – Siurat-urat – Op Marbona – Datu Lobi Nagasaribu – Datu Pamona Mangambit.

    Datu Pamona Mangambit inilah yang “mamungka Padan” dohot Sitorus Pane na di Parsambilan.

    Perkiraan waktu berdirinya Hute Tano sgt jauh sebelum Perang Kemerdekaan Indonesia.
    Ayahku no 19 lahir thn 1915 di Hite Tano.

    Terima kasih.

    Suka

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s