Selamat Datang di Bandara ‘Angker’ Kualanamu

Oleh: Amirul Khair.
KualaNurhayati, seorang ibu tua yang terlihat dari kerut di raut wajah dan kulit serta jalannya yang sudah mulai tergopoh-gopoh berjalan menuju pintu boarding sambil menyandang sebuah tas pada bahu kanannya. Sedangkan 3 tas ukuran besar, 1 di antaranya dibalut dengan kain melekat dalam genggaman dua tangannya yang tampak kewalahan.

Dari jarak sekira 10 meter sebelum sampai ke pintu boarding, penulis sudah mengikutinya. Pasalnya, dia menggunakan jasa seorang pria pengangkut barang menggunakan troli (porter) saat masuk dari pintu terminal keberangkatan yang memang menyajikan pemandangan kurang sehat dalam menampilkan wajah bandara Internasonal Kualanamu yang baru beroperasi 25 Juli 2013 lalu.

Penulis juga sempat ‘merekam’ langsung proses transaksi ibu tua itu dengan si penjaja jasa ilegal tersebut. Uniknya peristiwa transaksi tersebut dilakukan sambil jongkok. Beberapa lembar uang Rp5.000 terlihat dikeluarkan dari dompet berwarna coklat. Samar-samar terdengar kalimat pengakuan si ibu bahwa dirinya tak punya banyak uang.

Dengan sedikit raut wajah cemberut Nurhayati tetap memberikan 4 lembar uang bernilai Rp5.000 kepada si penjaja jasa ilegal tanpa terdengar ucapan terima kasih.

Sebelum masuk ke pintu boarding yang berada di lantai 3, penulis sempat bertanya kepadanya. Terungkap dirinya mengaku kesal dengan pria penjaja jasa ilegal itu meski sudah membawakan barang-barangnya menggunakan troli yang sebenarnya disedikan gratis untuk setiap calon maupun penumpang pesawat udara.

Selain didasari desakan untuk membayar Rp20.000 atas jasanya membawakan barang-barang miliknya, ternyata Nurhayati mengaku seperti terjebak dengan tawaran jasa yang disangkanya gratis saat berada di pintu keberangkatan.

Pemandangan kurang enak tapi menarik juga sempat penulis rekam saat seorang ibu rebutan troli dengan seorang pria tepat dekat tempat troli di samping kiri pintu terminal keberangkatan. Padahal ibu tersebut calon penumpang yang memang membutuhkan troli untuk mengangkut barang-barang miliknya. Sementara pria tersebut salah satu dari puluhan pria penjaja jasa ilegal yang ‘bergentayangan’ di area tempat turun calon penumpang.

Tidak cukup sampai di situ. Sederet pemuda berpakaian seragam abu-abu (Avsec) terkesan gagah didampingi anggota TNI juga selalu siaga di pintu baik masuk maupun keluar gedung keberangkatan dan kedatangan. Sayangnya, entah karena sudah menjadi standar operasi atau tidak, kegagahan mereka kurang dihiasi senyum saat calon penumpang maupun pengunjung melintasi mereka.

Seorang ibu mengenakan pakaian terusan hijau dan kerudung berwarna sama didampingi seorang temannya ditegur seorang petugas Avsec karena salah masuk dari pintu semestinya untuk keluar. Bukan masalah salah masuk pintu atau pun teguran yang diberikan, tapi masalah ‘keangkeran’ wajah petugas avsec saat menegur kedua ibu tersebut yang jadi sorotan.

Pasalnya, teguran tersebut tidak ‘dihiasi’ dengan senyum dan keramahan. Lain saat mereka menyapa pemimpinnya atau orang-orang besar yang masuk melintas di depan mereka, senyum manis dan indah tersungging dari sudut bibir mereka.

Pemandangan minus senyum kepada calon penumpang jasa angkutan udara ini juga terlihat banyak di konter check in maskapai penerbangan. Tidak semua, tapi jumlahnya menurut penulis cukup banyak. Meski terlihat cantik bagi perempuan dan gagah bagi pria, petugas di konter check in juga minus keramahan terhadap calon penumpang.

Apalagi saat melayani calon penumpang yang sedikit kritis terhadap rendahnya kualitas pelayanan terhadap mereka, wajah cemberut seperti “jeruk purut” terpampang di konter-konter check in tersebut. Sekali lagi, keramahan pelayanan terhadap konsumen sepertinya tidak dinomorsatukan petugas-petugas tersebut.

Tak kalah dengan pemandangan bagi calon penumpang yang hendak berangkat. Para penumpang yang baru mendarat di bandara Kualanamu juga akan merasakan sambutan kurang nyaman dari para penjaja jasa angkutan taksi yang sampai saat ini masih leluasa berkeliaran.

Baru saja bisa lega menghela nafas setelah menjalani penerbangan di udara yang bagi sebagian orang sesuatu menakutkan berada di ketinggian, begitu keluar dari pintu kedatangan sudah harus berhadapan dengan tawaran jasa yang sebenarnya sangat membantu, tapi caranya yang kurang memberikan kesan. Sedikit bergaya paksa meski sudah ditolak sehingga tak sedetik pun bisa rileks.

Di areal parkir juga sama. Senyum dari petugas parkir tampaknya hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu. Untuk perempuan-perempuan berparas cantik dan sedikit genit alias mau digombal, senyum dan sapaan ramah begitu kentara. “Siapa namanya dek” begitu seorang petugas parkir menyapa gadis yang usai memarkirkan sepedamotornya dan berlalu menuju arah gedung terminal kedatangan.

Demikian beberapa petikan peristiwa yang penulis tangkap di bandara Kualanamu sehingga menimbulkan kesan “Selamat datang di bandara ‘angker’ Kualanamu” untuk menyambut para calon penumpang maupun pengunjung dan penjemput yang tiba di bandara megah itu.

Potret Keramahan

Seperti ungkapan sebuah literatur agama, “Senyum adalah sedekah/ibadah”, atau filosofis cinta anak manusia “Berikan senyummu pada semua orang, tapi berikan cintamu kepada satu orang saja” atau ungkapan penulis “Kegersangan hati bisa sirna hanya dengan sebuah senyuman”, mestinya menjadi slogan untuk menunjukkan potret keramahan di bandara Kualanamu.

Sebenarnya ini sudah dicanangkan pihak manajemen PT AP II bahkan sudah disosialisasikan melalui slogan “Tegur saya bila tidak ramah” melalui pin-pin yang banyak dipakai para karyawannya. Namun agaknya slogan ini masih belum tersosialisasi dengan baik secara keseluruhan. Seperti paparan penulis sebelumnya.

Bandara Kualanamu sering kali dielu-elukan sebagai bandara internasional kebanggaan masyarakat Sumut dan secara khusus Deliserdang karena lokasinya berada di kabupaten ini. Kebanggaan ini semestinya ditampilkan semua elemen dengan membalut potretnya melalui keramahan. Bukan sebaliknya menciptakan ‘keangkeran’ yang menumbuhkan imej negatif sehingga sadar atau tidak sadar telah mengukuhkan keangkeran tersebut.

Mulai petugas pintu masuk bandara, parkir, sekuriti, avsec, petugas keamanan baik TNI maupun Polri, petugas check in maskapai, karyawan Angkasa Pura (AP) II, para pengusaha yang punya bisnis di areal tersebut serta masyarakat setempat, semestinya mampu menampilkan keramahan agar tercipta kesan positif.

Menganut konsep pariwisata, agaknya Sapta Pesona terdiri dari, keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan dan kenangan bisa turut diaplikasikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk mencitrakan bandara Kualanamu.

Kesadaran dan Tanggung Jawab

Kunci utama dalam mencitrakan imej bandara Kualanamu berada pada kesadaran semua pemangku kepentingan baik dari pejabat, pengelola, karyawan, pengusaha, pihak maskapai serta elemen masyarakat untuk bersama-sama mengambil tanggung jaab sebagai pelaku untuk menampilkan keramahan.

Tidak ada satu lembaga, instansi, organisasi, perusahaan atau sejenisnya bisa maju bila tidak ada kebersamaan dan kesadaran untuk memikul tanggung jawab baik bersifat formal mengikat maupun moral.

Pejabat AP II misalnya, kinerjanya tidak akan bisa sukses bila tidak ada petugas parkir. Logikanya tidak mungkin calon penumpang yang mungkin di antara keluarganya mau memarkirkan kendaraan di areal parkir bila tidak terjamin keamanannya karena tidak ada petugasnya.

Demikian sebaliknya dan korelasi sejenisnya. Artinya, mata rantai pihak pemangku kepentingan di atas tidak bisa bekerja sendirian atau lepas dari ikatan kebersamaan sebagai hukum alam. Kesadaran dan tanggung jawab ini harus ada dan merata diberbagai tingkatan pemangku kepentingan.

General Manager (GM) PT AP II KNIA Tengku Said Ridwan dalam beberapa kesempatan sering berucap, bandara Kualanamu adalah milik bersama termasuk masyarakat. Meski dirinya selaku pimpinan pengelola bandara Kualanamu, tapi dia tidak bisa sendirian memajukan bandara tersebut.

“Harus ada kebersamaan termasuk masyarakat untuk sama-sama menjaga bandara Kualanamu ini’ ujarnya.

Meski demikian, kesadaran ini pastinya harus dilakukan lintas sektoral serta bersinergi antara pemangku kepentingan sehingga bandara Kualanamu benar-benar bisa dibanggakan ke level internasional.

Semoga potret Bandara Kualanamu tidak lagi menampilkan wajah ‘angker’ melainkan tampil dengan semangat Sapta Pesona dan kebersahajaan serta memberikan dampak positif terhadap laju pembangunan yang turut menyejahterakan kehidupan masyarakatnya.

Iklan

2 pemikiran pada “Selamat Datang di Bandara ‘Angker’ Kualanamu

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s