ETOS RAJA SISINGAMANGARAJA XII DAN ETOS BATAK

PENDAHULUAN

Kalau kita serius memperingati gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII, maka pertanyaan-pertanyaan di bawah ini perlu kita jawab agar
peringatan istimewa ini memberikan makna sepenuhnya:

1. Bagaimana kita bisa mendapatkan gambaran yang komprehensif, faktual, dan akurat1 tentang Sisingamangaraja XII sehingga sang pahlawan sungguh-sungguh dapat tampil sebagai tokoh sejarah yang darinya orang Batak dan warga negeri ini bisa belajar.

2. Apa persisnya warisan Sisingamangaraja XII bagi orang Batak, dan bagaimana warisan itu bisa diolah menjadi daya vital baru bagi orang Batak sekarang,termasuk bagaimana mewariskannya kepada generasi muda Batak sehingga memberikan kebanggaan sejarah yang sehat.

3. Bagaimana hasisingamangarajaon2 sebagai suatu narasi populer dalam masyarakat Batak memengaruhi praktik habatahon kita dari masa ke masa hingga saat ini? Secara khusus, bagaimana sebaiknya orang Batak menempatkan hasisingamangarajaon dalam pergulatan orang Batak di bidang budaya, politik, dan kemasyarakatan dalam derap maju peradaban dunia sekarang ini?

4. Bagaimana agar istana, regalia, dan benda-benda pusaka Sisingamangarja jangan
sampai lapuk atau hilang ditelan zaman; bagaimana merawat peninggalan fisik itu, termasuk berbagai dokumen, yang tersebar di berbagai tempat: Belanda, Jerman, Bakara, Balige, dan Sionomhudon, agar bisa dimanfaatkan menjadi bahan studi, serta dikelola sebagai situs budaya, pariwisata, dan spiritual yang baik.

5. Bagaimana kita dapat mengekstraksi (mangenet) suatu Etos Batak melalui studi tentang nilai-nilai yang diwarisi dan dihayati Sisingamangaraja XII yang termuat dalam sistem haporseaon dohot partondion, patik dohot uhum, serta tona maupun adat yang ditegakkan dan diwariskannya di sepanjang karir harajaoan dan kepahlawanannya yang krusial bagi pergumulan kita sebagai orang Batak dalam derap maju peradaban dunia sekarang ini. Pertanyaan terakhir ini merupakan topik saya dalam seminar ini. Meskipun masih taraf permulaan, kiranya usaha ini dapat menjadi titik berangkat yang menyemangati kita semua.

Dalam kehidupan dan perjuangan Sisingamangaraja XII sejumlah mitos berkelindan dengan fakta-fakta, namun mitosmitos itu justru lebih menarik. Misalnya, kisah kekebalannya yang hilang karena menyentuh darah. Sebagian orang percaya, sebagian tidak. Namun debat kusir tentang hal ini sering menyita habis energi para pedebat sehingga mereka tidak mampu memetik inspirasi, motivasi, dan kearifan dari kisah itu.

Hasisingamangarajaon saya maksudkan sebagai semua hal-ihwal tentang Sisingamangaraja: hidupnya, kepercayaannya, kerohaniannya, kerajaannya, termasuk patik, uhum, dan adat yang dijunjungnya, serta tona yang ditinggalkannya kepada para pengikutnya di wilayah pengaruhnya.

BETAPA PENTINGNYA ETOS

Karena pada tahun-tahun belakangan ini saya dikenal publik sebagai guru etos maka
keluarga besar Sinambela di Jakarta, melalui Ketua Umum Toga Raja Sinambela, meminta saya untuk membicarakan etos Sisingamangaraja secara khusus dan etos Batak secara umum, atau poin 5 dalam daftar persoalan di atas. Permintaan itu dengan gembira saya penuhi karena dua alasan.

1. saya telah sampai pada kesimpulan bahwa sebuah bangsa tanpa etos (kerja) yang unggul tidak akan mungkin sukses di abad ke-21 ini. Bangsa beretos buruk akan selalu kalah dalam lomba disiplin kerja, produktivitas kerja, kualitas kerja, kreativitas kerja, dan inovasi kerja.

2. Bangsa demikian—meminjam ungkapan Bung Karno—hanya akan menjadi “satu bangsa kuli, dan kuli di antara bangsabangsa” (een natie van koelies, en een koelie onder de naties).

3. Etos yang berarti “the distinguishing character, beliefs or moral nature of a person, group, or institution”,

4. adalah faktor pembeda sifat dan perilaku yang khas antarorang, antarorganisasi, atau antarkaum. Maka etos Batak berarti seperangkat karakter khas orang Batak yang membedakannya dengan kaum lain. Yang kita kehendaki tentu bukan sekadar berbeda, sekadar lain, tetapi keberbedaan yang membuat orang Batak (seyogianya) lebih tangguh dan berhasil dalam hidupnya. Hal terakhir inilah yang jadi inti bahasan saya pada pasal berikutnya. Di tingkat korporat, etos dipahami sebagai “the code of conduct of a business and the way in which it treats its staff, customers, environment and legal responsibilities.”

5. Etos di sini ekivalen dengan budaya perusahaan (corporate cultures), dan studi-studi manajemen mutakhir telah menegaskan bahwa sukses korporat ditentukan oleh faktor-faktor keunggulan perilaku dan budaya kerja.

Di tingkat sosial, studi sosiologi menunjukkan, etos adalah kunci utama kemajuan (ekonomi) suatu kaum. Hal ini pertama kali diperlihatkan secara gemilang oleh Max Weber dalam karya puncaknya, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam buku tersebut Weber menguraikan adanya afinitas bahkan sinergi dinamis antara etos kaum Protestan dan semangat kapitalisme yang sedang tumbuh di Eropa saat itu (abad ke-1 ). Ungkapan aslinya berasal dari Prof. Dr. van Gelderen, pejabat Kantor Pusat Statistik Hindia-Belanda, dalam Statistisch Jaaroverzicht 1928: … para pemilik modal telah menjadikan rakyat jajahan sebagai bangsa loontrekkers (pencari upah belaka) dan een loontrekker onder de naties (pencari upah di antara bangsa-bangsa).

6. Dalam duapuluh lima tahun terakhir hampir semua buku bisnis dan manajemen yang berstatus mega bestseller dan jadi buku panduan korporat di seluruh dunia boleh dikata berbicara di seputar etos seturut definisi ini. Yang terutama di antaranya:

• In Search of Excellence: Lessons from Americas Best Run Companies (Robert H. Waterman and Thomas J Peters, Warner Books; 98 ),
• Thriving On Chaos: Handbook for a Management Revolution (Tom Peters, Harper Paperbacks; Reprint edition, 988),
• The Seven Habits of Highly Effective People (Stephen R. Covey, Free Press; st edition, 990),
• The Balanced Scorecard: Translating Strategy into Action (Robert Kaplan and David Norton, Harvard Business School Press, 99 ),
• Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies (James C. Collins and Jerry I. Porras, HarperCollins Publishers; st edition, 997),
• Competing in the Third Wave: The Ten Key Management Issues of the Information Age (Jeremy Hope and Tony Hope, Harvard Business School Press, 997),
• Good to Great: Why Some Companies Make the Leap and Others Don’t (Jim Collins, Collins, 00 )

7. Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Translated by Talcott Parsons. With a Foreword by R. H. Tawney (New York: Charles Scribner’s Son, 1958). Saya berutang budi kepada Max Weber, karena gagasannya itu memberi saya wawasan dan dorongan untuk menulis buku Delapan Etos Kerja Profesional (Jakarta: Penerbit Mahardika, edisi ke- , 00 )Ignas Kleden, seorang sosiologiwan terkemuka Indonesia, mengomentari tesis Weber sebagai berikut::

Max Weber menunjukkan kepada kita bahwa antara etik Protestan dan etos ekonomi yang dalam istilahnya dinamakan spirit kapitalisme, terdapat suatu hubungan (yang mungkin selalu terbuka untuk dirumuskan bagaimana wujudnya dalam sejarah), yang menjelma menjadi kombinasi yang sangat dinamis yang menggerakkan pertumbuhan kapitalisme modern, yang mendapat bentuknya dalam kapitalisme industrial.

Semua kapitalisme lain sebelum itu (misalnya yang dihasilkan oleh pengerukan kekayaan tanah jajahan melalui kolonialisme), atau kapitalisme merkantilis yang dihasilkan oleh perdagangan, tidak memiliki etos ini, karena semua bentuk kapitalisme itu belum menjadikan pemupukan modal sebagai suatu perbuatan yang dibenarkan oleh agama, dan juga belum menjadikan pemupukan modal tujuan yang harus mendapat pengabdian seutuhnya dari manusia. Ucapan sacra auri fames (kegairahan yang suci akan emas) menunjukkan etos ini, karena kekayaan bukanlah sesuatu yang aib secara moral, tetapi menjadi jalan orang mencapai kesempurnaan moralnya.

Penting diingat, ketika founding fathers Protestantisme itu, terutama Martin Luther dan Johannes Calvin, melancarkan reformasi keagamaan di Eropa pada awal abad ke-1 , tak sedikit pun terbetik dalam pikiran mereka untuk membangun sukses ekonomi (kapitalisme) seperti yang ditemukan Max Weber empat abad kemudian atau yang kita pahami lima abad sesudahnya. Pada waktu itu, mereka cuma ingin berkenan kepada Tuhan secara murni, melepaskan diri dari hawa keagamaan yang sesak dan koruptif. Namun, gerakan reformasi itu menghasilkan unintended consequences yang positif: berkenan kepada pasar, berkenan kepada dunia, bahkan mengubah dunia melalui terbentuknya etos kerja Protestan itu yang pada gilirannya membuahkan sukses ekonomi.

Belakangan ditemui, ternyata bukan hanya Protestantisme yang sanggup jadi sumber bagi etos ekonomi yang berhasil. Kata Ignas dalam makalah yang sama: Dilihat dari masa kita sekarang maka etik Protestan dan spirit kapitalisme itu, yang dalam esai Max Weber dilihat sebagai suatu persambungan, mungkin harus diperlakukan secara terpisah. Ini artinya etik Protestan hanyalah salah satu contoh, yang oleh Max Weber dibuat sangat meyakinkan, tentang hubungan di antara teologi suatu agama di Eropa dan Amerika Utara dengan kelahiran etos ekonomi. Pelajaran yang dapat diambil dari studi itu ialah bagaimana etos ekonomi dapat didorong dalam setiap kebudayaan dengan memanfaatkan sumberdaya dan nilai-nilai budaya yang ada dalam setiap masyarakat dan setiap kebudayaan.10 Munculnya dan berkembangnya kapitalisme di berbagai negara di Asia Timur dan Asia Tenggara menunjukkan bahwa tanpa adanya pengaruh etik Protestan di negara-negara tersebut, dapat muncul suatu spirit kapitalisme yang tidak kalah dinamisnya dari yang pernah ada di Eropa atau Amerika Utara.

8 Ignas Kleden. Kapitalisme, Spiritualitas Keagamaan, dan Etos Ekonomi: Mengenang 100 Tahun The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, makalah yang dibacakannya dalam seminar bertajuk Membangun Etos Bangsa pada 7 Desember di Jakarta.

9 Dalam ungkapannya yang populer etos kerja Protestan itu diungkapkan sebagai berikut:
• Bertindak rasional,
• Berdisiplin tinggi,
• Bekerja keras,
• Berorientasi pada sukses material,
• Tidak mengumbar kesenangan,
• Hemat dan bersahaja,
• Menabung dan berinvestasi.

10. Karena melihat kemungkinan seperti inilah saya tertarik mempelajari etos berbagai etnik di Indonesia seperti etos Melayu, etos Jawa, etos Bugis, dan tentu saja etos Batak. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura menjadi contoh soal yang meyakinkan bahwa tanpa persentuhan langsung dengan etik Protestan selalu ada kemungkinan12 untuk lahirnya spirit kapitalisme sebagaimana dibayangkan oleh Max Weber.

Lalu kata Ignas menutup makalahnya:

Kita di Indonesia harus menjawab tantangan apakah nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku ekonomi kita saat ini, dapat diharapkan menghidupkan spirit kapitalisme di masa depan. Atau barangkali keadaannya masih lebih kurang beruntung karena kita sedang berhadapan dengan pilihan yang buruk antara mempersempit kemungkinan bahwa etos itu akan berkembang di masa depan, atau semakin memperbesar kemungkinan bahwa etos itu sedang mati perlahan-lahan.

Tantangan Ignas di atas, delapan tahun sebelumnya telah lebih dulu memasuki benak saya pada 1 7. Saat itu Indonesia sedang dilanda krisis. Saya tiba-tiba sadar: sistem perekonomian kita ternyata tidak punya pondasi yang memadai, semua strategi bisnis dan ekonomi lumpuh sudah, manajemen pun serasa mati, semua ketrampilan sia-sia belaka. Dan dalam pergulatan itu, tiba-tiba saya teringat pada Max Weber, sang penemu etos Protestan itu. Dengan jernih saya melihat: etos bisnis lebih fundamental daripada ketrampilan bisnis. Dikatakan lain: etos itu primer sedangkan ketrampilan itu sekunder. Saya pun mulai mencari-cari rumusan etos kerja yang kiranya cocok bagi bangsa Indonesia.

Pengalaman saya bekerja di Dale Carnegie Institute selama sepuluh tahun segera memberi pengaruh, dalam arti, rumusan etos itu haruslah setangkup dengan prinsip-prinsip manajemen. Lahirlah buku etos kerja versi pertama pada 1 . Sesudah saya perkaya dengan narasi dan ilustrasi yang lebih ”berdaging” maka lahirlah buku etos versi kedua pada 2000. Sebagai orang yang terdidik dalam fisika, saya menghendaki pula agar rumusan etos kerja itu memenuhi syarat komprehensi, syarat koherensi, dan syarat simetri; karena demikianlah dalam fisika, rumusan matematis fenomenafenomena alam selalu memenuhi ketiga sayarat itu. Akhirnya, pada 2005 lahirlah buku etos edisi ke-3 dengan rumusan delapan etos kerja profesional sebagai berikut:

1. Kerja adalah Rahmat: Aku bekerja ikhlas penuh rasa syukur.
2. Kerja adalah Amanah: Aku bekerja benar penuh tanggungjawab.
3. Kerja adalah Panggilan: Aku bekerja tuntas penuh integritas.
4. Kerja adalah Aktualisasi: Aku bekerja keras penuh semangat.
5. Kerja adalah Ibadah: Aku bekerja serius penuh kecintaan.
6. Kerja adalah Seni: Aku bekerja cerdas penuh kreativitas.
7. Kerja adalah Kehormatan: Aku bekerja tekun penuh keunggulan.
8. Kerja adalah Pelayanan: Aku bekerja paripurna penuh kerendahanhati.

Sukses ekonomi yang berbasis budaya Jepang merupakan tesis
Robert N. Bellah dalam Tokugawa Religion: The Cultural Roots of Modern Japan (Free Press; nd edition, 98 ).

Sedangkan yang berbasis budaya China dan Korea misalnya masing-masing dibahas oleh Francis Fukuyama dalam Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity (Free Press; First Free Press Paperback Edition, 99 ) h. 8 -9 ; dan Samuel P. Huntington (editor) dalam Culture Matters: How Values Shape Human Progress (Basic Books; New Ed edition, 00 ). Introduction. h. – 8.

Yang juga menarik dikaji justru sebaliknya: mengapa kelompok-kelompok Kristen di Indonesia, terutama yang secara teologis menginduk pada gereja Lutheran (Jerman), di mana berbagai gereja Batak berhimpun di sini, hampir tidak menunjukkan jejak etos Protestan yang tersohor itu?

MENEMUKAN ETOS BATAK

Alasan kedua, seperti saya katakan dalam catatan 10, sejak 1 itu saya mulai serius mencari-cari etos Batak. Saya membaca puluhan buku berbahasa Batak (Toba), baik pustaha, torsa-torsa, turi-turian, atau kumpulan umpasa. Namun saya bingung karena ratusan ungkapan nilai-nilai yang termuat dalam ratusan umpasa dan kisah-kisah yang memuat pengajaran, prinsip, atau pedoman rasanya terlalu banyak, terlalu beragam, campur aduk, bahkan ada yang bertentangan. Akhirnya saya merasa lelah sendiri.

Tetapi rahmat menuntun saya menemukan Etos Batak itu melalui perjumpaan dengan Parakitri T. Simbolon13 pada 2004. Sejak itu kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, dan sejak 200 semakin intensif dan mengerucut ke sekitar habatahon dan Sisingamangaraja. Saat itu kami samasekali tidak sadar bahwa 2007 adalah tahun peringatan seabad gugurnya Sisingamangaraja XII.

Apa itu Etos Batak, Parakitri memberikannya secara gamblang. Disebutnya Catur
Sila atau Patik Naopat:

• Porhatian si bola timbang (pemilik neraca yang seimbang).
• Porninggala si bola tali (pemilik bajak yang belah tali).
• Pamuro so marumbalang (pengusir burung di ladang tanpa umban).
• Pormahan so marbotahi (gembala tanpa pecut).

Pendek, cukup sebait; puitis, indah bunyinya, bagus iramanya; dan bertenaga, sarat makna dan bernilai spritual . Sekaligus, inilah contoh ungkapan yang komprehensif, koheren, dan simetris. Maka saya pun tergetar. Menggunakan istilah fisika, keempat rumusan ini bagaikan “sistem koordinat rampatan” (generalized coordinates system) yang berarti: apabila kita berhasil merumuskan koordinat rampatan suatu sistem maka segala sesuatu dalam sistem itu dapat dijelaskan sebagai fungsi dari satu atau lebih sumbu koordinatnya. Jadi, Catur Sila adalah sila rampatan itu. Artinya, ratusan nilai-nilai habatahon yang kita kenal sejauh ini dapat diungkapkan sebagai fungsi dari satu sila atau lebih Catur Sila. Dikatakan berbeda: Patik Naopat on ma na boi gabe sabungan ni saluhut nilai-nilai luhur habatahon.

Berikut keterangan singkat Parakitri tentang makna Catur Sila itu:

Porhatian si bola timbang (pemilik dacing14 yang seimbang) berarti adil seadil-adilnya. Porninggala si bola tali (bajak yang belah tali) berarti, seperti rumusan pujangga besar kita Pramoedya Ananta Toer, ‘lurus sejak dari dalam’. Pamuro so marumbalang (penjaga padi tanpa bandring15) berarti rugi usir burung pemakan padi dengan batu yang dilemparkan pake bandring, karena padi yang runtuh akan jauh lebih banyak daripada yang dimakan oleh burung. Pormahan so marbotahi (gembala tanpa pecut). Siapa yang pernah jadi gembala kerbau seperti saya tahu hebatnya falsafah ini. Anda boleh menghabiskan separuh batang bambu ramping untuk memecut

Nama Parakitri menasional sejak 97 ketika kolomnya yang terkenal: Cucu Wisnusarman, dengan teratur terbit di harian Kompas. Kolom ini sangat digemari karena ciri khasnya yang cerdas, memecahkan kebekuan nalar, menggugat, usil, liar,
dan kocak bukan main. Kumpulan kolom itu telah diterbitkan menjadi buku, terakhir oleh Penerbit Nalar, Jakarta, 00 .

Setelah undur sejenak untuk studi ke Belanda dan meraih gelar Ph.D. dari Vrije Universiteit te Amsterdam, Belanda, 98 – 99 , ia kembali menyentakkan publik dengan karya monumentalnya Menjadi Indonesia (Jakarta: Penerbit Kompas, 99 ) setebal 88 halaman. Catatan kaki buku ini lebih tebal dan sering lebih menarik daripada teks utamanya. Hatian berarti dacin, disebut juga timbangan. Porhatian berarti pemilik atau pengguna dacin Umbalang berarti bandring, disebut juga pengumban atau ali-ali. kerbau Anda, tapi sia-sia. Lain halnya kalau Anda membawa kerbau ke padang rumput yang hijau, lalu setelah kenyang Anda memandikan kerbau dengan menggosok badannya bersih-bersih. Habis itu, Anda tinggal naik punggungnya, dan barisan kerbau akan membawa Anda pulang ke rumah, ke kandang dengan tenang dan damai.

Dari mana Parakitri menemukan rumusan Etos Batak ini? Menurutnya, Patik Naopat ia peroleh dari ayahandanya sendiri, seorang Pande Bolon, jabatan tertinggi Parbaringin di suatu bius. Parbaringin adalah lembaga pelaksana kebijakan-kebijakan Sisingamangaraja di suatu bius, suatu wilayah persekutuan kurban yang bersifat teritorial. Bius tempat kelahiran Parakitri adalah Rianiate, tujuh kilometer ke arah selatan Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir, di tengah Danau Toba.

Sebagai Pande Bolon, logis dan wajarlah ayah Parakitri mewarisi Catur Sila ini dari Sisingamangaraja. Hal itu dibenarkan Parakitri, “Setelah saya mendengar atau membaca berbagai versi Tonggo-tonggo ni Porbaringin tu Sisingamangaraja saya menduga ayah saya menyarikan Catur Sila itu dari sumber tersebut. Bandingkan dengan versi “Tonggo-tonggo” yang dimuat oleh Prof. Dr W.B. Sijabat dalam bukunya1 : “Hupio, hutonggo, hupangalu-alui, sahala ni Rajanta Si Singamangaraja,
Singamangalompoi, Singasohalompoan […] si sulu hata na pintor, si sulu hata na geduk […] gantang pamonaran, hatian tarajuan, parbatuan si sada ihot, parninggala si bola tali, […], sirungrungi na dapot bubu, siharhari na dapot sambil, si palua na tarbeang, sitanggali na tartali […].”

Catur Sila juga juga muncul dalam deskripsi peran, perilaku, dan kualitas pribadi
Sisingamangaraja.17

1. Sahala Raja Batak, harajaon Singa Mangaraja Sisingahon harajaon, di Batak sibirong mata
2. Singa mangalompoi, singa na sohalompoan Hatorusan ni Debata, hatorusan ni Sombaon
3. Tanduk so suharon, mataniari so dompakon Hatana na so jadi laosan, tonana na so jadi juaon.
4. Pangahitan di sangap, pangahitan di badia Sihorus na gurgur, siambai na longa.
5. Paradat sijujung ni ninggor, paruhum sitingkos ni ari Sipalua na tarbeang, sitanggali na tartali.
6. Pangidoan di gabe-gabe, pangidoan di parhorasan Di tubu ni anak namartua dohot boru namarharatan
7. Napitu hali malim, napitu hali solam Sinolamhon ni Ompunta Mulajadi Nabolon Sirungrungi na dapot bubu, sitanggali na dapot sambil Dirimbas do na geduk, diningggala sibola tali
8. Parsolup si opat bale, parmasan si sampuludua
9. Pargantang tarajuan, parhatian na so ra muba
10. Pariring-iring na so jadi lupa, partomu-tomu na so jadi ambataon Parindahan ragia na so jadi mago, parsangsing di onan na so jadi muba. Ahu Si Singamangaraja (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 98 ), h. 7 Pustaha Tumbaga Holing Buku I dan II (Jakarta: Penerbit Dian Utama dan Kerabat, 00 ), h. 7

Mengingat peran dan kedudukan Raja Sisingamangaraja selama duabelas generasi sebagai primus interpares di tengah raja-raja lainnya di tanah Batak, wajarlah memperkirakan Etos Sisingamangaraja telah dikenal dan tersosialisasikan melalui keteladanan pribadinya. Lebih dari itu, Sisingamangaraja sendiri juga memang aktif memberlakukan hukum dan patik habatahon di masyarakatnya. Bagaimana misalnya Sisingamangaraja XII memberlakukan hukum-hukumnya sebagai perwujudan Etos Sisingamangaraja di Dairi telah dicatat oleh Prof. Dr. W.B. Sidjabat..1 Bukan hanya di Dairi, di mana saja pengaruh Sisingamangaraja diterima dan diakui, hal yang sama juga dilakukannya.

***

Dari arah yang berbeda, dalam hal ini menggunakan sejarah sebagai perkakas rekonstruksi, hal yang amat meyakinkan buat saya tentang Etos Batak ini termuat dalam makalah Parakitri berjudul Batak Toba: Tarbahensa Do Ulaning Manotas Dalan Tu Abad XXI?.19 Demikian penting makalah ini menjelaskan munculnya Etos dan Adat Batak itu maka ia saya sertakan sebagai lampiran.20 Intinya sebagai berikut:

1. Etos Batak ialah ”sabungan nilai-nilai luhur orang Batak”yang sehari-hari tampil sebagai adat dan kebiaasan. Namun, di atas adat ada hukum, dan di atas hukum ada kepercayaan yang menjadi falsafah orang Batak. Kepercayaan utama orang Batak ialah ”Ditompa Debata jolma mangarajai uhum; ditompa Debata uhum mangarajai adat.” Sedangkan hukum utama Batak ialah ialah ”angka adat na pinungka dohot sahala ni ompunta sijolo-jolo tubu.”
2. Berangkat dari prinsip ”hori narundut bahenon tu tapean, aek na litok tingkoran tu julu”maka bila kita punya masalah di tingkat pelaksanaan adat (rundut, mejemur, dsb.) dan perilaku yang kurang pas (biasa disingkat sebagai hotel: hosom, teal, elat, late) namun telah membiasa (di jae) maka guna memperbaikinya kita harus meninjau ke tingkat kepercayaan dan kerohanian (tu julu). Untuk itulah ilmu sejarah berguna sebagai perkakas pemeriksaan.
3. Untuk menemukan kepercayaan dan kerohanian (haporseaon dohot partondion) yang melahirkan etos,adat,dan kebiasaan orang Batak yang asli itu harus diperiksa asal-usulnya sampai ke pangkalnya yang paling hulu, yaitu asal-mula orang Batak.
Sebagian bisa diperoleh dari turi-turian (mitos) si Raja Batak. Namun secara ilmiah, kita masih harus bekerja keras menemukannya apakah menggunakan ilmu sejarah, antropologi, arkeologi, atau disiplin lainnya. Sejauh ini, keterangan sejarah yang ada ternyata masih kurang mampu menjelaskan, terutama mengenai
• siapa sesungguhnya nenek-moyang orang Batak pertama itu;
• di mana mereka bermukim sebelumnya;
• bagaimana mereka tiba di sekitar Danau Toba (Sianjur Mulamula) pada sekitar 1500-an;
• mengapa mereka meninggalkan tempat asalnya; dan
• bagaimana kita harus menafsirkan mitos Pusuk Buhit itu sekarang.

4. Parakitri menampilkan catatan sejarah tentang perjalanan Tomé Pires21yang selama 8 Ibid, h.9 Makalah berbahasa Batak Toba ini ditulis Parakitri untuk Seminar Adat Batak Toba, – Oktober 997, bertempat di Wisma Taman Sari Indah, Jl. Kapten Muslim No.9 Medan. Alasan lain, karena makalah ini ditulis dalam bahasa Batak Toba yang pulen, jarang ditemui, saya yakin ia akan memperkaya kerohanian kita sebagaimana telah saya alami sendiri. Armando Cortesao, ed., trans., The Suma Oriental of Tomé Pires: An Accounts of the East, from the Red Sea to Japan, ini (sejauh yang saya tahu) belum pernah digunakan para ahli untuk menelaah asal-usul orang Batak. Dari analisis dan tafsiran tentang keterangan sejarah itu, Parakitri menyimpulkan karakteristik partondion dan sikap mental orang Batak yang bermukim di sekitar Danau Toba pada sekitar 1500-an itu sebagai berikut:

• Angka halak na barani situntun lomo ni roha manjalahi papaga na lomak do ianggo halak Batak i
• Angka jolma na ngilngil do nasida.
• Ndang si jalo na masa sambing nasida, na malo padomu diri.
• Angka jolma si lului dalan na imbaru do nasida jala sitotas nambur, na malo jala na bisuk mangadopi hagogotan.
• Ndang olo be nasida mangunsande tu huaso ni sahalak raja bolon.
• Dihilala nasida, ingkon adong ma patik namangatur asa tarbahen mangolu songon sada rombongan, sada masyarakat, sada bangso. Ingkon adong do patik na uli na sora mose, songon prinsip moral bersama.
• On ma natarida tangkas di tonggo-tonggo ni Parbaringin, ima naginoar songon patik. Didok: Parhatian si bola timbang, parninggala si bola tali; pamuro so marumbalang,parmahan so marbotahi.Ima partondion na mangolu di bagasan pambahenan ni sude Singamangaraja. Sahala harajaonna ojak nang pe ndang adong parangan, ndang adong naposona, jala ndang dipapungu balasting.
• Jadi, ingkon boi ma nian ganup Halak Batak songon hatian na sora teleng, na satimbang. Ingkon boi tigor roha nasida songon ninggala na mamola tali. Ingkon boi dimpos eme sian amporik di juma agia pe ndang marumbalang, jala dimpos dorbia di jampalan agia pe ndang marbotahi. Lapatanna, dimpos ngolu ndang ala ni huaso harajaon (umbalang, botahi), alai ala ni patik (sahala) ambing. Jadi tondi (sahala ima hagogoon ni tondi na tarida) hangoluon ni Batak ima Adil,Tigor, dohot Elek. Sian partondion nasongon ima mullop angka sahala, ima hagogoon dohot huaso laho manjalahi parngoluon na dumenggan di ganup-ganup bidang. Patik on, tondi on, mansai tangkas tarida di Dalihan Na Tolu: Adil (manat) maradophon dongan tubu, tigor (somba) maradophon hula-hula, jala elek (berbelas kasih) maradophon gelleng. Ala ndang adong be sahalak na gabe raja, na sangap, na marsahala, torus manorus, ingkon sude nama ris gabe na sangap dohot na marsahala. Asa boi songon i, pambahenan nama andosan ni sangap dohot sahala i, ndang be nasib, ndang be tohonan (goar, arta, jabatan, pangkat). Asa tarida angka i di hangoluon siapari, tubu ma aturan adat Dalihan Na Tolu, ima na marganti-ganti ganup Halak Batak gabe dongan tubu, hulahula, manang gelleng, asa marganti-ganti jala ris dapotan sahala. Ido alana umbahen tubu umpasa, sisoli-soli do adat, siadapari gogo. Jadi, prinsip Dalihan Na Tolu ima ’marganti’, ndang ’lean ahu asa hulean ho’ (quid pro quo) songon na somal taantusi nuaeng on.

Parakitri menguraikan, lama-kelamaan etos atau ”partondion na jeges jala na mangolu” milik orang Batak awal meluntur dan memudar karena penduduk awal Batak itu hidup ratusan tahun dalam haribaan alam Danau Toba dan sekitarnya yang sentosa. Tiada lagi perbandingan. Tiada lagi tantangan. Bahkan kemudian, oleh Written in Malacca and India in 1512-1515 (London: Hakluyt Society, 9 ) karena dua peristiwa sejarah yang menentukan, yaitu serangan Padri (1 24-1 3 ) dan kekuasaan Belanda menjajah Tanah Batak makin kokoh sejak 1 34, orang Batak sampai mengalami keterguncangan jiwa (pola tarmali tondi). Dalam kondisi tidak menguntungkan demikianlah Sisingamangarja XII tampil di pentas sejarah.

Dari buku Sidjabat kita tahu, Sisingamangaraja XII, figur utama habatahon asli itu, penjaga terakhir warisan spiritual nenek moyang kita, pengemban etos luhur habatahon kita, tampil dengan gagah perkasa dan tidak kenal menyerah, bahkan sampai mati di medan juang, di hutan belantara Dairi.

Sisingamangaraja XII kalah karena persenjataannya ketinggalan; bukan karena tak berprinsip, tapi justru karena keluhuran prinsipnya. Ia gugur karena zaman baru tidak memihaknya lagi; bukan karena tak beretos, tapi justru karena keluhuran etosnya: Parhatian si bola timbang, parninggala si bola tali; pamuro so marumbalang, parmahan so marbotahi. Dan karena itulah kepahlawanan Sisingamangaraja jadi unik dan cemerlang.

PENUTUP

1. Kata kunci Etos Batak itu (bonar, tigor, manat, elek) tampak sangat bagus dan memadai sebagai basis kehidupan pribadi, organisasi, dan sosial yang kuat dan berhasil. Bandingkan sejenak dengan The Four Noble Truths yang diajarkan Siddharta Gautama: Dukkha, Samudaya, Nirodha, dan Magga. Dukkha: bahwa hidup ini pada dasarnya ialah dukkha (penderitaan). Samudaya: sumber dukkha ialah keinginan menikmati kesenangan-kesenangan sensual (nafsiah). Nirodha: pengakhiran dukkha ialah dengan mengizinkan matinya keinginan itu secara alami dengan tidak melayaninya, tidak menginginkannya, bebas daripadanya, dan tidak bersandar padanya. Magga: cara membebaskan diri dari dukkha itu, disebut delapan jalan mulia, ialah: melihat dengan benar, berniat dengan benar, berbicara dengan benar, bertindak dengan benar, hidup dengan benar, berusaha dengan benar, berpikir dengan benar, dan bersamadi dengan benar.

2. Bandingkan pula dengan nilai-nilai utama Kekristenan: iman, pengharapan, dan kasih. Demikian pula dengan ideal Islam: agar setiap Muslim kiranya bisa jadi insan rahmatan lil alamin, yang berkarakter mulia (akhlakul kharimah) sebagai khalifah Allah di Bumi. Itu berarti kerohanian yang adil, benar, baik, dan penuh rahmat atau cinta kasih.
3. Tampak bahwa Etos Batak itu tidak inferior, bahkan sejalan dengan ajaran moral agama-agama utama dunia.
4. Tantangannya bagi kita sekarang ialah (a) Bagaimana mensosialisasikan etos ini kepada seluas-luasnya masyarakat Batak; (b) Bagaimana mengungkapkannya secara Batak pula di bidang sastra, kesenian, paradaton, serta bidang-bidang profesi lainnya seperti politik, perniagaan, atau pemerintahan.
5. Secara khusus, bagaimana mensinergikan etos Batak ini dengan nilai-nilai Haislamon dan Hakristenon sehingga ke depan Batak Islam dan Batak Kristen semakin mampu menimba vitalitas dari sumur rohani masing-masing dan semakin kompak pula karena minum dari sumur Habatahon yang membesarkan mereka.
.

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s