Seputar Brigadir Sinaga Tewas Gantung Diri

Pemakaman Tanpa Upacara Militer
Medan – Pemakaman Brigadir Hendri Jon Maibang Sinaga (29) yang tewas gantung diri di kontrakan rumahnya Kampung Baru, Desa Pasaribu, Doloksanggul, Humbahas, Selasa (8/2) pukul 10.45 WIB diiringi isak tangis keluarga dan kerabat korban. Namun, pemakaman korban tidak dilakukan upacara militer, karena peristiwa itu murni bunuh diri.
Pantauan POS METRO MEDAN (Grup Metro Tapanuli) korban dimakamkan di Pemakaman Umum Martubung, Rabu (8/2) sore. Sepanjang penguburan, istri dan keluarga serta kerabat terus menangis. Bahkan, kedua bayi korban turut menangis seolah tahu ayahnya sudah tak ada lagi. Istri almarhum tampak tak kuasa melepaskan jenazah suaminya menuju liang lahat.
Parahnya, pemakaman itu tanpa dihadiri seorang pun personel atau pejabat  dari Polres Humbahas
Pasca pemakaman, sejumlah warga mengaku heran. Karena sepanjang acara pemakaman tidak ada dilakukan upacara militer. “Kami heran mengapa tidak ada upacara militer, padahal dia kan polisi,” kata pria bermarga Silalahi saat ditemui di rumah duka, Komplek Yuka, Martubung, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan.
Sayang, ketika wartawan media ini hendak mencari tahu persoalan dibalik tewasnya Brigadir Hendri, tidak berhasil. Karena keluarga korban menolak untuk diwawancara dengan alasan masih berduka. “Buat apa ditanya lagi. Kami sedang berduka,” ketus seorang pria paruh baya dengan nada suara sedikit tinggi.
Tak sampai disitu, kru koran ini mencoba menanyakan kepada orang-orang yang berada di rumah duka, lagi-lagi mereka tertutup. “Besok-besok saja kau datang. Orang ini lagi sedih. Sudah jangan kau tanya lagi, pulang saja,” ucap yang lainnya.
Mengingat suasana duka dan pihak keluarga tak ingin diwawancarai, akhirnya kru koran ini memilih untuk pulang meninggalkan suasana duka yang menyelimuti rumah duka tanpa dihadiri personil atau pejabat tinggi dari Polres Humbasah. (ril/des)
Anak dan Istri Tak dapat Pensiun
Aksi Brigadir Henry Jon Maibang Sinaga yang nekad gantung diri di ayunan anaknya, Selasa (7/2) pukul 10.47 WIB di rumahnya Kampung Baru, Desa Pasaribu, Doloksanggul, Humbahas, mengakibatkan anak dan istrinya Saptriana br Situngkir tidak mendapat pensiun.
Hal ini disampaikan Kapolres Humbahas AKBP Verdy Kalele melalui Kasbubbag Humas Iptu Suharmono SH, Rabu (8/2) di Doloksanggul. ”Kematian almarhum (Brigadir Henry Jon Maibang Sinaga, red) murni karena bunuh diri. Maka, sesuai aturan Polri, keluarga yang bersangkutan tidak diberi gaji pensiun,” ujar Iptu Suharmono SH.
Ia menjelaskan, ketentuan yang ditetapkan sesuai dengan aturan kepolisian tersebut, juga hampir sesuai dengan ketentuan agama. ”Setiap agama melarang perbuatan bunuh diri. Dan itu jua dilarang dalam aturan kepolisian. Jadi, sanksinya ahli waris almarhum tak mendapat gaji pensiun,” paparnya.
Terpisah, polemik rumahtangga yang diduga memicu korban gantung diri menjadi pembahasan bagi tetangga korban. Warga menduga, aksi itu dilakukan karena antara korban dan istrinya, Saptriana br Situngkir pernah berselisih soal anak.
Sejumlah sumber kepada METRO, Rabu (8/2) di Doloksanggul yang meminta namanya dirahasiakan menyebutkan, awal pertikaian antara korban dengan istrinya diduga sejak istri korban tengah hamil 1 bulan. Dimana, istri korban saat itu meminta kepada korban agar menggugurkan kandungannya.
“Korban pernah cerita kepada saya kalau dia stres melihat istrinya yang meminta menggugurkan kandungannya. Saat itu usia kandungan istri korban satu bulan lebih. Katanya, istrinya tak tahan hamil karena sering mual dan muntah-muntah, dan tidak tahan naik mobil dari Doloksanggul untuk bertugas di Desa Simataniari, Parlilitan,” ungkap sumber yang mengaku dekat dengan almarhum Brigadir Henry.
Saat itu, korban menolak permintaan sang istri. ”Katanya samaku, dia menolak permintaan istrinya. Itu saja keluhan yang pernah diceritakan almarhum samaku semasa hidupnya,” sambung pria lajang itu.
Terakhir, tambahnya, Desember 2011, Saptriana br Situngkir melahirkan anak kedua mereka. ”Tapi anaknya lahir tidak normal. Mungkin, itulah penyebab mereka ribut. Karena, setelah melahirkan, istrinya langsung berangkat ke rumah orangtuanya di Medan dan tak pulang-pulang,” ungkapnya.
Namun, sejumlah tetangga korban lainnya di Kampung Baru, Desa Pasaribu, Doloksanggul mengatakan, mereka jarang mendengar korban dan istrinya cek cok di rumah tersebut.
”Kalau saya tak pernah mendengar sekali pun mereka ribut. Karena memang korban sendiri pendiam. Kalau kita sapa, jawabannya selalu singkat saja,” sebut seorang ibu paruh baya di kampung itu.
Ia menyebut, korban sering dipanggil warga dengan sapaan Pak Colas. ”Karena anaknya yang paling besar namanya Nicolas. Jadi, kami sering panggil Pak Colas dan Mak Colas sama alrmarhum dan istrinya,” pungkasnya. (Metro/hsl/des)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s