Siswi Kelas 2 SMAN 1 Lintongnihuta, Tewas Gantung Diri

“Aku Ingin Mengakhiri Penderitaan Ini”
Lintongnihuta – Novianti br Sinaga (16), siswi kelas 2 di SMA Negeri 1 Lintongnihuta, warga Desa Pargaulan, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbahas, tewas gantung diri di kamar tidurnya, Senin (16/1) sekira pukul 08.00 WIB. Dugaan sementara, korban nekad bunuh diri karena stress menghadapi persoalan di keluarganya.

Novianti sendiri, diketahui tewas setelah ibunya Manita br Sigalingging masuk ke kamar tidur putrinya itu. Saat itu, Manita spontan langsung menangis histeris melihat putri sulungnya dari 10 bersaudara itu sudah tewas tergantung dengan seutas tali tas sekolah milik putrinya.
“Mendengar jeritan itu, warga sekitar berdatangan ingin mengetahui apa yang terjadi. Begitu melihat korban tergantung, warga langsung menghubungi polisi. Tidak berapa lama petugas dari Polsek Lintongnihuta datang. Kami tidak berani melakukan apa-apa. Yang menurunkan mayatnya dari tali gantungan adalah polisi,” sebut sejumlah warga di desa itu yang enggan identitasnya dipublikasikan, Senin (16/1).
Sedangkan ibu korban sendiri, Manita br Sigalingging hingga saat akan penguburan putrinya, Senin (16/1) sore, masih belum bersedia untuk diwawancara terkait kematian putri sulungnya itu.
Manita tampak terus menangisi jasad putrinya sembari berkata “Ise ma donganku manaon sude on Novi…(siapalah temanku menanggung semua ini Novi …)” isaknya berurai air mata.
Wakapolres Humbahas Kompol Mukhsin S kepada wartawan, Senin (16/1) usai menghadiri proses visum di Puskesmas Sigompul dan meninjau lokasi bunuh diri korban mengatakan, sejauh ini. pihaknya belum mengindikasikan kejadian tersebut apakah perbuatan criminal atau tidak.
“Dari hasil pemeriksaan dokter selaku ahli yang kita terima, tidak ada indikasi tanda-tanda kekerasan di dalam tubuh korban. Jadi, dugaan sementara ini murni bunuh diri,” ungkap Kompol Mukhsin S.
Ia menjelaskan, dari ciri-ciri korban saat di lokasi kejadian, ditemukan hanya luka jerat lebam di bagian leher. ”Jadi tanda-tanda murni bunuh diri itu ada. Seperti air seni di kaki dan lebam mayat di leher tadi. Jadi, itu tanda-tanda murni bunuh diri,” paparnya.
Senada dikatakan Kapolsek Lintongnihuta AKP Antonius Pangaribuan. Ia mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, pihaknya menemukan tulisan tangan korban dalam selembar kertas yang topiknya mengenai penyesalan hidup dan rasa kekesalan dirinya terhadap ayahnya.
”Tulisan tangan korban itu ada dalam selembar kertas yang isinya mengenai penyesalan hidupnya. Jadi, dugaan kita, korban bunuh diri karena stres masalah keluarga,” ujar AKP Antonius.
Berikut curahan hati Novianti dalam selembar kertas yang ditinggalkannya:
“Dulu aku begitu bahagia, aku merasa tak ada kekurangan apa-apa. Kehidupan cukup sempurna, aku memiliki segala-galanya. Tetapi kini aku terpuruk, aku terpuruk dalam perihnya tragedi kehidupan. Aku kehilangan semuanya dan segala-galanya. Bahkan aku kehilangan kasih sayang orangtuaku sendiri. Kini aku bertekad untuk berhenti s’bagai salah satu tokoh dalam tragei dunia ini. Aku ingin menyelesaikan penderitaan ini”. (hsl/des)
Pendiam & Pintar Melukis
Dibalik kisah bunuh diri Novianti, ternyata gadis berparas ayu dan berkulit sawo matang itu, memiliki bakat melukis. Almarhum yang akrab disapa Novi ini, juga memiliki cita-cita sebagai seorang Polwan (polisi wanita).
Penelusuran wartawan, Senin (16/1) dari sejumlah sumber dan buku hariannya, Novi adalah seorang gadis yang pendiam, pekerja keras dan pintar melukis.
”Dia (Novi-red) itu pendiam orangnya. Tapi dia pekerja keras. Setiap pulang sekolah, Novi bekerja ke ladang orang. Walau pun setengah hari, dia tetap giat cari uang. Dari situ dia akan diberi upah oleh si pemilik lahan. Pekerjaan itu dilakukannya untuk membantu perekonomian ibunya,” ungkap seorang gadis di Desa Pargaulan yang enggan disebutkan identitasnya.
Selanjutnya, disebutkan, setelah ayah korban Tomu Sinaga meninggalkan ibunya sekitar setahun lalu, Novi mulai ikut bekerja keras membantu sang ibu untuk mencari nafkah dan merawat adik-adiknya.
”Pokoknya setelah bapaknya itu pergi, Novi jadi ikut menjadi tulang punggung keluarga. Termasuk merawat adik-adiknya,” sebutnya.
Sedangkan dalam buku harian Novi , terdapat sejumlah catatan-catatan puisi tentang curahan hatinya dan sejumlah lukisan yang bagus. Dalam satu lembar kertas buku hariannya, Novi menuliskan “Jika Kasih, damai dan suka cita itu benar-benar ada, mengapa aku tak merasakannya pada keluargaku..???”guratnya.
Pada lembaran buku harian selanjutnya, Novi secara terang-terangan menggambarkan dalam sebuah tulisan tentang tragedi kedua orangtuanya. Pada alinea terakhir tulisan itu, Novi menyebut “Aku terpuruk dalam perihnya kehidupan, aku kehilangan kasih sayang orangtuaku sendiri, aku ingin berhenti menyelesaikan penderitaan ini” tulisnya.
Berikut salah satu kutipan puisi Novi dalam buku hariannya:
Di Tapal Batas
Dunia dalam bayang-bayang keedanan..
Manusia terbuai dalam lembah nista.
Hati keras, membantu menebar kedengkian terhadap sesama..
Tak ada lagi kasih yang tersapa…
Hilang dihempas ganasnya keangkuhan jiwa,
Yang ada hanyalah kedengkian, keserakahan dan kesombongan.
Yang terdengar, hanyalah jeritan kematian,
Hidup hampa tak bermakna.
Sejenak tertegun dalam kehampaan,
Seakan berbisik ditengah keheningan,
Sejumlah Tanya mengundang sejumlah makna.
Masih adakah waktu untuk mengubah segalanya..?
Mungkinkah damai itu di dapat kembali..?
Akankah kasih itu dapat terjalin lagi..?
Tuhan kami datang dengan sadar, Amin.
Dari sejumlah tulisan buku harian Novi tersebut, sejumlah sahabat Novi di SMA Negeri 1 Lintongnihuta mengatakan, bahwa Novi adalah seorang pelajar yang pintar. Namun, sebut sahabat sekaligus teman satu sekolah Novi yang enggan disebutkan identitasnya itu, Novi sering termenung sendiri saat belajar di kelas.
“Dia (Novi-red) orangnya pintar di sekolah. Tapi akhir-akhir ini, dia sering tampak murung dan termenung saat guru mengajar. Kita tidak pernah tahu apa masalahnya selama ini. Karena memang Novi agak pendiam,” ungkap pelajar itu.
Untuk diketahui, ayah Novianti yakni Tomu Sinaga, hingga kini tidak diketahui alamatnya.
Sebelum meninggalkan istri dan 10 anaknya sekitar setahun lalu, Tomu Sinaga diketahui bekerja sebagai supir truk. (Metro/hsl/des)

Iklan

13 pemikiran pada “Siswi Kelas 2 SMAN 1 Lintongnihuta, Tewas Gantung Diri

  1. Jhon

    Alkitab memandang kasus bunuh diri sama bobotnya dengan pembunuhan, karena itulah kenyataannya – pembunuhan diri.

    Suka

  2. Jhon_anes

    Bunuh diri tentunya berdampak buruk bagi mereka yang ditinggalkan. Bekas luka batin yang disebabkan seseorang yang bunuh diri biasa lama sekali pulihnya,,
    #salam_bonapasogit

    Suka

  3. Saunur

    Jangan kita kalah dengan penderitaan saat ini, sebab penderitaan adalah awal kebahagiaan. Sabar dan selalu bersyukur dengan keadaan kita sekarang. Tuhan akan memperhitungkan segalanya termasuk kesabaran kita. Kita harus hadapi segala persoalan hidup kita, bukan menyelesaikan dengan cara menghindarinya apalagi dengan tindakan bunuh diri. Sebab itu serahkan segalanya penderitaanmu kepada Tuhan, maka yakinlah Ia akan bertindak. Kebahagiaan di bumi bukanlah tujuan akhir hidup kita, tapi Sorgalah tempat yang tidak ada gertak gigi dan ratap tangis. Dan kita harus sadari memang dunia ini adalah “RURA PARTANGISAN”.

    Suka

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s