Keteguhan Hati Sadrakh, Mesakh dan Abednego

Oleh : Jekson Pardomuan
Ketika pencobaan datang beruntun dalam kehidupan Anda, apa yang akan Anda lakukan – Apakah Anda akan memilih lari dari permasalahan atau memghadapi permasalahan dan pencobaan dengan sekuat tenaga. Kalau kita memiliki iman dan kepercayaan bahwa pencobaan apa pun dalam hidup kita pasti ada jalan keluarnya. Saudara kita yang beragama Islam menjalankan ibadah puasa adalah salah satu bentuk kepercayaan dan keimanan dalam menguji keteguhan hati menghadapi segala bentuk pencobaan, mulai dari menahan haus dan lapar sampai kepada keteguhan hati menghadapi ragam permasalahan.
Dalam Daniel 3 : 1 – 30 dengan perikop “Perapian yang menyala-nyala” diceritakan Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.

Raja Nebukadnezar mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu. Berserulah seorang bentara dengan suara nyaring : “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu, siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke ke dalam perapian yang menyala-nyala!”

Akan tetapi, ada tiga orang Yahudi yakni, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah raja Nebukadnezar. Lalu mereka diperhadapkan dengan raja, dan Nebukadnezar bertanya “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak tidak memuja dewaku dan menyembah patung emas yang kudirikan ?”

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Raja Nebukadnezar meluapkan kegeramannya dan menyuruh beberapa orang yang sangat kuat mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego serta melemparkan mereka ke perapian yang menyala-nyala. Betapa terkejutnya raja ketika melihat perapian. “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu – Tetapi, ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yanh keempat itu rupanya seperti anak dewa!”

Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia; “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah kemari!” Tubuh Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak mempan oleh api, bahkan rambut di kepala mereka tidak hangus dan jubah mereka tidak berubah apa-apa. Berkatalah Nebukadnezar : “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.

Nebukadnezar mengeluarkan perintah bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.”

Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel. Ini semua adalah buah dari keteguhan hati Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk tidak berpaling dari Allah yang maha kuasa yang bisa menyelamatkan mereka dari perapian yang sangat panas.

Sama halnya dengan kehidupan kita sehari-hari, ada banyak tawaran yang sangat menggiurkan dari dunia yang sementara ini. Ada tawaran untuk melakukan korupsi, tawaran untuk selingkuh, promosi jabatan empuk dan tawaran lainnya. Semua tawaran ini sangat menggiurkan dan menjanjikan secara duniawi. Syaratnya hanya satu, berpaling dari TUHAN yang maha kuasa atau sebaliknya menolak tawaran itu dengan tetap berpegang teguh pada janji TUHAN.

Seperti kata firman Tuhan dalam I Korintus 10 : 13 dikatakan “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Amin.(Analisa)

Satu pemikiran pada “Keteguhan Hati Sadrakh, Mesakh dan Abednego

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s