S e l i n g k u h

Cerpen Nurul Fitri Lubis

“Aku harus pergi. Misiku telah berakhir.” Kata-kata itu bagaikan petir di siang hari. Menghantam  ke dalam dada. Kutatap wajah tak berdosa di depanku. Berusaha mencerna kata – kata yang baru saja diucapkannya. Menunggu beberapa saat, sambil berharap dia akan menarik kata – katanya kembali. Menggantinya dengan kata – kata indah nan menenangkan untukku.

“Kamu yakin, Ivan?” tanyaku masih tak percaya.
“Seratus persen. Komandanku baru saja memastikan, bahwa aku akan segera pergi. 30 hari dari sekarang,” jawab Ivan pasti.
“Aku akan merindukanmu,” kataku pelan.
“Aku juga, Ira. Tapi kita berdua sama – sama tahu. Perpisahan ini akan segera terjadi. Cepat atau lambat.”

Siang itu panas terik. Sinar mentari seperti bisa mengoyak-ngoyak kulit kepala. Jika bisa memilih, aku lebih suka menghabiskan siang di kantor daripada menikmati teriknya matahari Africa di bulan Juni. Namun apa daya. Bukannya menikmati sejuknya AC di dalam ruangan, aku malah meluncur menantang panas menuju airport. Email terakhir yang kuterima dari chiefku, memintaku untuk segera melakukan inspeksi mendadak ke airport, sebuah proyek konstruksi yang sedang kutangani.

Aku tengah mengamati wilayah sub urban yang kami lalui dengan pemandangan yang menunjukkan para wanita dan anak – anak sedang membawa ember yang diletakkan di atas kepala untuk mengangkut air sambil  mendengarkan alunan lembut Kenny G melalui Ipod. Tiba-tiba Mutabi, driver yang tengah membawaku, mengerem mobil secara mendadak dan membanting setir ke kanan dengan tiba – tiba. Masih dalam hitungan detik, dia memutar balik mobil secara paksa.

“Mutabi, apa-apaan kamu?” teriakku kaget. Pengereman yang dilakukan secara tiba – tiba, menyebabkan benturan di bahu kananku.
“Menunduk Madam. Rebel (pemberontak) di belakang kita.”

Aku tak sempat menjawab. Mutabi menundukkan kepalaku secara paksa. Dentuman peluru mulai terdengar bersahutan. Jantungku memburu. Aku tak dapat melihat apa yang terjadi. Yang kutahu Mutabi mengemudikan mobil secara cepat, ke kiri dan ke kanan, berusaha menghindari peluru – peluru yang mengejar kami.

“Sial,” kudengar Mutabi mengumpat. “Buka seat belt Madam. Mereka di depan kita. Kita harus berlari.”
Mutabi menghentikan mobil, membuka pintu dan menarikku keluar. Kami meninggalkan mobil begitu saja. Berlari menuju hutan dan semak belukar.

Aku berlari terengah-engah. Keringat bercucuran di seluruh tubuhku. Duri dan semak belukar melukai kulit tanganku. Sial, rutukku. Mengapa aku memilih memakai baju berlengan pendek hari ini? Aku masih mendengar dentuman senapan di belakangku. Tak terhingga sudah berapa jauh aku dan Mutabi melarikan diri, sebelum akhirnya Mutabi menarikku masuk ke sebuah gua kecil, mirip dengan lubang kelinci, tempat aku menghabiskan waktu semalaman.

Pagi hari. Aku meringkuk kedinginan di sudut gua. Sudah sehari semalam kami bersembunyi di gua. Beruntung, tidak ada tikus-tikus melintas. Kalaupun ada, mereka luput dari pandanganku. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Sinar matahari mulai menyeruak masuk melalui mulut gua. Aku meraih phonsel dari dalam celana jeans ku. Tidak ada sinyal sama sekali dan aku meninggalkan radio di dalam mobil. Lengkap sudah, aku tak bisa menghubungi siapapun.

Mutabi bangkit dari duduknya. Keluar dan menyusuri gua, mencoba mereka – reka arah kemana kami akan pergi. Baru lima menit berlalu, dia melesak masuk serta meletakkan telunjuknya di bibir untuk menyuruhku diam. Terdengar suara orang bercakap-cakap. Aku tak mengerti bahasa mereka, namun kukenali sebagai bahasa Lingala, salah satu bahasa tradisional Congo. Aku mengurungkan niat bertanya pada Mutabi saat langkah kaki itu semakin dekat. Bayangan mereka mulai tampak di mulut gua. Aku menahan nafas. Habislah kami. Para rebel telah menemukan tempat persembunyian kami.

Aku hanya ternganga ketika seorang kulit hitam masuk melalui mulut gua dan menodongkan senjata laras panjang ke arahku. Kututup mataku hingga kudengar satu suara, “Jangan tembak mereka. Mereka yang kita cari.” Sesaat aku membuka mata. Seorang lelaki kulit putih berseragam tentara mengulurkan tangannya ke arahku.
“Senang melihat Anda tidak apa-apa, Madam. Kami melihat mobil Anda di jalan dan telah melakukan pencarian sepanjang malam. Kenalkan, saya Mayor Ivan Karkanov.”
Di sanalah segala sesuatunya bermula.

Hampir dua tahun aku berdiam di Kinshasa, ibukota Democratic Republic of Congo, sebuah Negara di Africa Tengah. Negara yang dikenal dengan perang sipil nya dengan  sebutan Perang Dunia Africa, telah meluluhlantakkan seluruh negeri. Menyisakan kemiskinan, kekerasan seksual serta tindak criminal. Aku bekerja di sebuah organisasi kemanusiaan untuk misi perdamaian di DR Congo, yang tidak hanya melibatkan orang sipil seperti aku, tetapi juga tentara perdamaian yang datang dari berbagai negeri. Bukan tempat yang menyenangkan, tentu saja. Anak jalanan yang meminta uang secara terang – terangan bukan hal yang tak lazim. Pencurian adalah sesuatu yang biasa, serta serangan mendadak para rebel pun bukan lagi hal baru.

Tak banyak yang dapat dilakukan di Kinshasa. Apalagi bagi penikmat kehidupan malam. Apa yang bisa diharapkan dari ibukota sebuah negara yang baru saja dilanda perang saudara. Dan jangan harap bisa menjelajah ke pelosok negeri, berharap menemukan sesuatu yang eksotis, jika bekerja di sebuah organisasi besar. Terlalu banyak peraturan yang harus diikuti. Zona sekuriti, jam malam dan masih banyak lagi sehingga membuatku banyak menghabiskan waktu hanya di dua tempat. Kantor dan rumah.

Namun semua berubah sejak aku bertemu Ivan, tentara perdamaian dari Rusia yang telah menemukanku di mulut gua. Pertemuan tak sengaja di mulut gua membawa satu kedekatan di antara kami. Bermula dari saling mengucapkan salam, bercanda ringan, menikmati coffee break di kafeteria, hingga berlanjut ke kunjungan singkat ke apartemenku. Fakta bahwa kami tinggal di gedung yang sama tidak membatasi waktu kebersamaan kami dikarenakan adanya jam malam. Pembicaraan kami pun tak sulit – sulit. Membahas hal – hal kecil di pekerjaan, orang – orang menyebalkan di seputaran kantor, anak – anak jalanan yang semakin agresif. Atau mencoba membayangkan kehidupan tetangga sebelah yang mempraktekkan poliandri. Dimana seorang wanita hidup dengan dua orang suami dan dua belas anak, di dalam satu apartemen sempit. Jika sudah tak ada lagi yang dibicarakan, kami akan menghabiskan waktu menonton koleksi film – film lawas milikku. Semakin lama, hubungan kami lebih dari hubungan pertemanan.

“Aku menyukaimu Ira,” pengakuan Ivan di suatu malam. “Tapi aku sudah menikah,”
“Dan aku pun telah bertunangan,” jawabku. “Aku juga menyukaimu”. Malam itu hubungan pertemanan itu berakhir.

Aku mencintai Ivan. Namun aku tak ingin kehilangan Randy, tunanganku yang telah lebih dulu mencintaiku. Begitu juga Ivan. Mencintaiku, namun tak rela melepas Tanya, istri Rusianya yang juga sangat disayanginya. Hubungan yang tidak sehat, begitu kata orang – orang. Namun jika kau berada di suatu tempat asing, jauh dari siapapun, sendirian, dengan berbagai keterbatasan dan tekanan, ketika seseorang menawarkan cinta, hubungan tak sehat pun bisa menjadi sehat. One night stand bukan hal baru.

Tak jarang, saat aku dan Ivan berkencan, aku menjawab telepon dari Randy, sementara Ivan tengah membelai lembut rambutku. Ketika Tanya sedang menceritakan kemajuan anak kembar mereka, Ivan malah bergelayut manja di lenganku. Semua menjadi lebih indah. Sejak bertemu Ivan, hidupku terasa lebih berwarna. Aku merasa baru. Kinshasa mulai terlihat seperti Paris. Bahkan apartemen sempitku pun mulai terasa seperti istana negeri dongeng. Jika hari cerah, kami akan berjalan menyusuri sungai Congo sambil sambil memandang nelayan tradisional menangkap ikan dan anak – anak kecil mengambil air. Hatiku melambung tinggi saat Ivan menyusupkan cincin di jari manisku dengan hiasan inisial namanya, saat kami tengah memandang mentari terbenam di pinggir sungai Congo.

Dua minggu berlalu sejak Ivan menyatakan kepergiannya. Kami tak pernah bertemu. Sebenarnya masih, namun hanya seputaran kantor. Itupun hanya saling mengucapkan halo. Tak ada lagi telepon – telepon singkat di antara jam kerja. Tak ada lagi sms – sms manis, apalagi kunjungan di malam hari. Aku tak mengerti mengapa Ivan berubah. Mengapa dia malah menghindariku di saat – saat akhir kebersamaan kami.

“Maaf Ira, aku sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang harus di handover’,” begitu selalu jawabnya. Oke. Sibuk. Tapi sampai sesibuk apa hingga tak punya waktu sama sekali, walaupun hanya sekedar makan siang.

“Ivan, aku perlu bicara denganmu,” todongku di suatu malam. Aku menunggu seharian di depan apartemennya, mengharapnya memberikan jawaban yang memuaskan. “Apa salahku hingga kau menghindariku seperti ini?”
“Kamu tidak salah apa – apa Ira. Aku hanya berusaha membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah,” jawabnya datar.
“Maksudmu dengan menghindariku akan membuat segala sesuatunya lebih mudah?” teriakku kesal. Air mata mulai mengumpul di pelupuk mataku. “Apa kau sudah tak mencintaiku Ivan?”
“Ira. Aku masih mencintaimu. Dan kau pun begitu. Tapi, kita berdua tahu kita tidak akan bisa saling memiliki,”
“Tak bisakah kita masih saling memiliki untuk dua minggu ini saja?” tangisku mulai pecah. Selanjutnya yang kutahu, aku sudah berada di dalam pelukannya.

Hari berikutnya hubungan kami kembali normal, seolah sikap diam selama dua minggu tak pernah terjadi. Ivan kembali mengirim sms – sms indah. Makan siang di kafetaria menjadi ritual serta kunjungan – kunjungan malam menjadi keharusan. Terkadang, sepanjang sore, kami hanya berjalan menyusuri sungai Congo, bergandengan tangan, menyaksikan sang surya tenggelam di ufuk barat. Rasanya sakit mengetahui cinta ini akan segera berakhir. Jika rasa itu mulai datang, aku hanya menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang, membiarkannya membelaiku dalam diam.

Minggu pagi itu terasa berbeda. Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Ivan akan pergi hari ini. Namun, aku tidak akan mengantarnya ke airport. Aku tidak mau ada air mata. Tapi kami berjanji untuk bertemu di tepi sungai Congo sebelum dia pergi. Aku datang terlalu pagi. Ivan belum ada disana. Beberapa nelayan tradsional mulai bermunculan, mendayung sampan tradisional untuk menangkap ikan. Beberapa diantaranya menawarkan ikan segar kepadaku yang kujawab dengan gelengan kepala. Angin bertiup agak kencang. Hawa dingin yang ditimbulkannya begitu terasa, menusuk hingga ke bawah kulit.

“Ira,” suara yang kunantikan menyapaku.
“Kamu sudah datang Ivan? Kukira kamu sudah melupakanku.”
“Mana mungkin aku lupa,” jawabnya sambil menarik tanganku dan menggenggamnya erat. Kami berdiri dalam diam.
“Ira, aku harus pergi. Pesawatku ke Moskow akan berangkat dua jam dari sekarang.”

Aku berbalik untuk memandangnya. Menyentuh wajahnya dan mendekap erat di dadanya untuk terakhir kalinya. Dengan berat hati kulepaskan pelukanku dan memandang kepergiannya.

Tidak ada air mata. Yang ada hanya kesepian dan kehampaan. Kulepas cincin berinisial namanya dari jariku dan melemparnya ke sungai yang keruh. Cincin itu tenggelam di sana bersama cintaku yang juga telah hilang. (Kompas)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s