Hutan Kecil dan Kicau Burung Gereja

oleh Frans Sartono

Ada ”hutan kecil” di samping rumah keluarga Jana dan Erwin Parengkuan. Dari rerimbun daun pohon beringin, puluhan burung gereja berkicau setiap pagi dan sore mengiringi kehidupan pasangan yang hidup rukun itu.

Kita punya hutan kecil lho…,” kata Erwin Parengkuan (40) sambil mengajak kami naik ke teras kecil pula di lantai dua rumahnya di bilangan Taman Pegangsaan, Jakarta Timur.

Yang disebut hutan kecil itu adalah halaman kecil seukuran lapangan bulu tangkis dengan rimbun pepohonan seperti bambu, beringin, dan angsana. Suasana teras itu memang sangat teduh dan segar oleh hijau dedaunan. Pada rindang dedaunan itu puluhan burung gereja bersarang.

”Mereka ramai sekali berkicau sejak pukul lima pagi. Sampai pukul sepuluh mereka masih riuh berkicau. Habis itu mereka cari makan. Sekitar jam lima mereka coming back home dan kembali ramai banget,” kata Erwin bercerita tentang burung gereja yang telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian.

Seturut terbangnya burung gereja, yang empunya rumah pun meninggalkan rumah untuk bekerja. Ada setumpuk agenda setiap hari dari Erwin yang berprofesi sebagai pemandu acara, presenter televisi, dan pengelola Talk-Inc: ini semacam lembaga pendidikan yang antara lain menyiapkan tenaga presenter televisi sampai pemandu acara.

Erwin dan istrinya, Jana Parengkuan (34), paling suka duduk-duduk di teras yang menghadap hutan kecil tadi. Mereka sering mengundang kawan-kawannya untuk datang menikmati sore atau malam di teras sambil menikmati masakan yang disiapkan Erwin atau kue-kue yang dibuat Jana. ”Hutan kecil ini memang menjadi teman untuk makan sore. Kami juga suka bercengkerama di sini pada sore hari,” katanya.

Dari teras kecil di hutan kecil dengan kicau burung gereja itu Erwin dan Jana sering mendapat inspirasi tentang hidup sehari-hari. Misalnya pernah tercetus untuk membuat usaha penjualan kue lewat internet di http://www.partyathome.co.id .

Sekadar catatan, halaman yang menjadi area hutan kecil itu merupakan lebihan tanah di sudut blok—kebetulan rumah Erwin terletak di ujung blok. Lebihan tanah itu memang bukan milik Erwin, namun ia ikut merawatnya dan menjadi area teduh di lingkungan sekitar permukiman.

Seni dan dapur
Dari lantai dua, Erwin mengajak kami naik ke lantai tiga. ”Ini namanya art area,” kata Jana menjelaskan fungsi ruang di lantai tiga yang penuh dengan kanvas lukisan itu.

Ada sebuah lukisan lanskap pedesaan di Eropa. Itu lukisan Jana, perempuan berdarah Indonesia-Cekoslowakia yang lahir di Praha. Jana memang suka melukis.

Hari itu, kami disertai empat anak mereka, yaitu Giulio (11), Marcio (8), Abielo (4), dan si bungsu Matacha yang baru berumur setahun. Matacha adalah satu-satunya anak perempuan dari Erwin-Jana. Anak-anaknya juga mulai menyukai corat-coret dan itu semua diberi ruang dalam arti sebenarnya dalam keluarga pasangan Erwin-Jana.

Di lantai itu juga ada sebuah piano yang tampaknya sudah lama tidak di-stem atau dilaras. Giulio memainkan tuts dan terdengar sepotong riff dari ”Smoke on the Water” milik Deep Purple.

Rumah memang juga cerminan hobi penghuni. Erwin dan Jana yang sama-sama suka memasak menjadikan dapur sebagai tempat yang paling menyenangkan. Dari ruang tamu, kita bisa cukup leluasa memandang dapur yang cukup luas dan bersih, menyatu dengan ruang makan.

Masih ada lagi dapur bersih atau pantry yang berada di samping ruang tamu, menghadap ke hutan kecil. Dengan ruang tamu, pantry cukup dipisahkan dengan pintu ayun (swinging door) kecil. Erwin menyempatkan diri memasak setiap akhir pekan atau setiap kali ada waktu.

”Saya dibesarkan oleh ibu yang punya usaha resto, jadi sejak kecil saya terekspose oleh makanan sehat. Di rumah enggak ada makanan gorengan, minuman bersoda, MSG (monosodium glutamate). Kami anak-anaknya jadi ketularan. Tradisi itu kami bawa ke rumah ini,” kata Erwin yang terampil memasak masakan Barat ataupun Indonesia.

”Itu mengapa dapur menjadi istimewa di rumah ini,” kata Erwin yang menempatkan dapur sebagai tempat berkumpul keluarga dan handai tolan. Mereka bisa betah berlama-lama di sekitar dapur dan meja makan.

Dapur, ruang seni, dan hutan kecil plus kicau burung gereja tadi menjadi kehidupan keluarga Erwin penuh warna.

Maunya dekat sampai tua
Erwin Parengkuan lebih dari 20 tahun aktif di dunia komunikasi. Itu termasuk sebagai penyiar radio Prambors serta ikut membidani lahirnya beberapa stasiun radio. Ia juga menjadi presenter televisi sampai pemandu berbagai acara dari ulang tahun perkawinan konglomerat sampai pekan olahraga nasional.

Komunikasi rupanya berawal sejak di rumahnya. Rumah berlantai tiga itu dirancang agar penghuninya bisa berkomunikasi dengan baik dari satu lantai ke lantai lain.

”Dari lantai satu, dua, dan tiga, orang mau omong apa saja juga kedengaran suaranya. Maka rumah harus terbuka supaya kegiatan anak-anak bisa terpantau,” kata Jana Parengkuan sambil menggendong si bungsu Matacha.

Tangga di setiap lantai berada di sudut kiri ruang. Akses dari satu lantai ke lantai cukup lega dan memungkinkan komunikasi yang leluasa dari satu lantai ke lantai lain. Bagi keluarga Erwin, rumah adalah tempat berkumpul keluarga dalam suasana rileks. Apalah arti sebuah rumah yang penghuninya terpisah-pisah meski bernaung di bawah atap yang sama.

”Kami ingin rumah yang hangat, enggak dingin tanpa nyawa, enggak ada spirit,” kata Erwin.

”Rumah jangan kayak galeri yang serba teratur tapi berjarak,” kata Jana menimpali sambil menghidangkan lemon poppy seed, kue bikinannya yang terasa manis-manis lemon.

Kehangatan itu diwujudkan dengan menempatkan kamar-kamar tidur di satu lantai, yaitu di lantai dua. Terpisah tapi berdekatan, bukan berdekatan tapi terpisah.

”Kalau akhir pekan kami semua bahkan tidur bersama-sama sekeluarga. Buat saya itu sebuah kemewahan,” kata Erwin.

Kedekatan keluarga pasangan Erwin-Jana juga terlihat dari puluhan foto yang dipajang sepanjang dinding menuju lantai dua. Sambil menaiki tangga, kita bisa melihat foto keluarga yang terkesan kompak, hangat, penuh kasih. Setidaknya itu narasi yang terbaca dari deretan foto keluarga.

Ekspresi anak-anak pasangan Erwin-Jana tidak bisa menyembunyikan kedekatan keluarga tersebut. Mereka adalah anak-anak yang berani, bebas, menunjukkan sikap, mengekspresikan diri, dan akrab dengan orangtua serta tamu.

”Kami maunya dekat. Bahkan, kalau bisa sampai tua nanti kami selalu begitu,” kata Erwin. (Kompas)

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s