Warga Desa Siboro Ritual Mengusir Begu Ganjang

Masih banyak warga etnis Batak menyakini kematian seseorang dengan tiba-tiba mungkin merupakan tumbal dari begu ganjang ataupun akibat guna-guna. Begu ganjang atau disebut hantu panjang (besar) bagi orang Batak sangat ditakuti. Begu ganjang ini menurut legenda, sebuah ilmu setan yang dulunya dimiliki orang-orang kampung di tanah Tapanuli, Sumatera Utara dan akan membunuh seseorang jika disuruh majikannya. Dulu, begu ganjang dimiliki warga untuk menjaga ladang pertanian mereka yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk. Namun sekarang diduga masyarakat memelihara begu ganjang untuk kesejahteraan hidup ataupun membalaskan dendam kepada orang lain. 66 KK warga 3 dusun (Dusun Huta Galung, Parmonangan, Sihirit) Desa Siboro Kecamatan Sianjur Mula-mula mengadakan ritual pembersihan diri (pembersihan kampung) dari hal-hal jahat di halaman Dusun Huta Galung, Rabu (14/4). Ritual yang telah direncanakan warga sejak Januari yang lalu terlaksana atas kesepakatan semua warga dan mengirimkan surat ke pemerintah setempat dan pihak berwajib. Dan dana untuk segala keperluan ritual termasuk upah sang dukun (10 juta rupiah) dikumpulkan dari 66 KK serta bantuan dari anak rantau. Aparat kepolisian dari Polres Samosir yang menerima tembusan surat ritual tersebut menurunkan anggotanya untuk pengamanan di lokasi dari awal kegiatan sampai akhir. Camat Sianjur Mula-mula Jaingot Banjarnahor, SP menjelaskan bahwa surat dari warga dusun tersebut telah diterima. Namun sebelumnya selaku pemerintah setempat, dianya telah mengusulkan kepada masyarakat untuk musyawarah mencari solusi terbaik dalam menyikapi masalah yang ada. Adapun niat warga untuk melakukan ritual pembersihan diri (pembersihan kampung) tersebut berawal dari sakit tiba tiba (tidak bisa berbicara) yang diderita Op. Jeti boru Simbolon (65) pada 4 Desember 2009 yang lalu dan pada 18 Januari 2010 akhirnya meninggal dunia. Op. Jeti Siboro juga menjelaskan bahwa ada tindak tanduk warga yang mencurigakan, namun dianya tidak berani menuduh secara langsung. Akibat penasaran akan penyakit istrinya dan sampai meninggal dunia, Op Jeti Siboro atas saran panuturi (dukun, red) Roslina Simarmata yang berasal dari Raya, Simalungun, mengadakan ritual pembersihan. Setelah mengadakan ritual, diharapkan warga masyarkat yang ada menguna-gunai (menyantet, red) ataupun memelihara begu ganjang agar mengaku dan menyadari kesalahannya. Ritual berlangsung sejak pagi hari dengan pembacaan doa-doa dan sebagai korban sembelihan adalah kambing putih. Kepala kambing, darah, kaki serta kulit kambing dengan Ulos Ragi Hotang (kain khas Batak, red) serta benang 3 warna (hitam, merah, putih) dikuburkan dan hati kambing di tusukkan di satu tiang yang berada di tengah lokasi ritual. Setelah melalui beberapa proses dan makan dari atas sehelai daun nangka, sampai jam 11 malam tidak ada warga yang mengaku. Sang dukunpun memutuskan memberi hati kambing untuk dimakan oleh seluruh warga 3 dusun tersebut dengan syarat bahwa siapapun yang memelihara begu ganjang, namun tidak mengaku setelah memakan hati kambing akan mati (meninggal, red) dalam waktu 10 hari.

LIPUTAN KHUSUS TETTY NAIBAHO – Wartawati Harian Global di Samosir

11 pemikiran pada “Warga Desa Siboro Ritual Mengusir Begu Ganjang

  1. Sinta

    Pak, saya bisa minta sarannya?
    Menurut saya, di kampung saya banyak pemelihara begu gajjang, bahkan banyak masyarakat kampung saya mati tiba2, termasuk keluarga saya. Bagaimana ya caranya supaya Pemelihara Itu ketangkap, atau supaya begu gajjangnya tidak berhasil lagi.

    Suka

Berikan Saran dan Informasi anda di Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s