Perempuan Nikahi Perempuan di Tobasa

Kedua mempelai Davit Sirait alias Mardiyanti br Hutahaean dan Rosdiana boru Sagala.

Ternyata Pasangan Itu Lesbian
Tobasa – Mempelai ‘pria’ pasangan sejenis yang menikah di Dolok Nauli, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Tobasa, Davit Sirait alias Mardiyanti br Hutahaean (36) menegaskan pernikahannya dengan Rosdiana boru Sagala (35) atas dasar suka sama suka. Atau dengan kata lain, keduanya menganut cinta sesama perempuan (lesbian)

Mardiyanti menceritakan kisahnya kepada wartawan dari balik jeruji Polres Tobasa, Selasa (15/11). Menurut bungsu dari dua bersaudara ini, ia dengan Rosdiana saling kenal sejak satu setengah tahun lalu. Selama itu pula, keduanya pacaran jarak jauh. “Saya berada di Kalimantan, sedang dia (Rosdiana) di Jakarta. Selama kami berhubungan baru dua kali tatap muka,” ujar Mardiayanti.
Perkenalan dengan Rosdiana, sambung Mardiayanti, berawal lewat handphone (HP). Saat ia di Kalimantan, seorang temannya memberikan nomor HP Rosdiana. Selanjutnya, ia menghubungi nomor tersebut.
Gayung bersambut. Perkenalan itu direspon Rosdiana. Mereka sepakat menjalin hubungan via udara. Tak puas berhubungan lewat HP tanpa menatap, keduanya pun bikin janji bertemu di Jakarta.
Mardiyanti rela terbang ke Jakarta untuk menemui Rosdiana. Dan, pada pertemuan pertama itu, ia sudah menjelaskan identitasnya kepada Rosdiana. Ia telah mengaku dirinya perempuan. Namun, Rosdiana tetap menerimanya sebagai kekasih. Setelah pertemuan pertama, dilanjut ke pertemuan kedua yang juga berlangsung di Jakarta. Dan, pada pertemuan ketiga, muncul komitmen untuk menikah.
“Kami bertemu di Medan saat itu (pertemuan ketiga, red). Lalu, pergi ke Porsea dan ketemu Op Maruhup (Pak Lehu) Sirait. Op Maruhup lah sebagai wali yang menikahkan kami,” ujar Mardyanti.
Sebelumnya, lanjut Mardyanti, ia sudah lama kenal dengan Op Maruhup. Saat di Jakarta pun mereka sudah kenal.
“Sejak enam tahun lalu kami sudah kenal dengan keluarga Op Maruhup, begitu juga dengan anak-anaknya,” katanya.
Terpisah, Op Fitri br Hutagaol (60) dan Op Marini br Simbolon, warga Dolok Nauli, keduanya merupakan tetangga Op Maruhup, tempat diadakannya pesta, mengaku tidak mengenal kedua mempelai sebelumnya.
“Kami selama ini tidak mengenal kedua mempelai, namun Op Maruhup mengatakan kepada kami, Mardiyanti Hutahaean (yang menyamar sebagai laki-laki, red) itu adalah familinya (cucunya, red),” ujar Op Fitri diamini Op Marini.
Sebelumnya warga tidak merasa curiga dengan perkawinan sejenis itu, karena dari fisik mereka lihat Mardiyanti adalah laki-laki. Rambutnya pendek dan perawakannya seperti laki-laki.
“Memang suara pengantin laki-lakinya (Mardiyanti, red) seperti suara perempuan, justru penganti perempuan (Rosdiana, red) yang seperti laki-laki. Jadi lucu memang,” ujar warga.
Baru kemarin, Senin (14/11) sekira pukul 10.00 WIB warga mengetahui, ternyata yang menikah (mamasu-masu), Sabtu (12/11) di rumah Op Maruhup kedua mempelainya perempuan.
Dikatakan warga, awal terbongkarnya perkawinan sesame jenis tersebut karena kedua mempelai tidak mau membayar pengeluaran pesta yang jumlahnya berkisar Rp5 juta lebih.
“Karena tidak membayar utang, si pengantin pria sempat kabur ke Porsea. Kemudian ditangkap warga di lapangan di Porsea dan dibawa kembali ke ke Dolok Nauli. Di desa itu Mardyanti diikat di salah satu tiang teras rumah tempat ia menginap. Warga pun membuka bajunya. Saat itulah warga terkejut, ternyata dia perempuan,” ujar warga sembari menunjukkan tempatnya diikat.
Kemudian, ujar warga, sebelum keduanya menikah, seorang warga bermarga Gurning warga Lumban Gurning berkunjung ke Dolok Nauli. Gurning melihat Mardyanti. Dia mengatakan, seperti mengenal Mardyanti.
Ketika itu, Gurning menemuinya di rumah Op Maruhup, dan menanyakan alamat Mardyanti. Saat ditanya, dia menjawab asal orang tuanya dari Parmaksian. Sementara, Gurning tinggalnya di Parmaksian dan tidak mengenal orangtua Mardyanti.
“Saat itulah Gurning langsung mengatakan Mardiyanti penipu,” ujar Op Fitri.
Sebelumnya telah diberitakan, keduanya menikah di Gereja HKI Parmaksian, Sabtu (12/11).
Camat Parmaksian Alfret Manurung SH membenarkan pernikahan sesama jenis di wilayah kerjanya. Namun, ia menegaskan, pasangan tersebut bukan warganya, melainkan warga Sidikalang (Dairi) dan Tebing Tinggi. Mereka menikah di Gereja HKI Parmaksian di Desa Dolok Nauli.
“Sebelumnya, Mardiyanti br Hutahaean warga Tebing Tinggi mengaku kepada warga bermarga Sirait. Tujuannya, agar marga Sirait di kampung itu mau menjadi wali pernikahannya,” kata Alfret.
Akhirnya, kedua pasangan itu diberkati Sabtu (12/11) di Gereja HKI Parmaksian. Kepada marga Sirait, Mardiyanti br Hutahaean mengaku sudah tidak memiliki orangtua, dan memohon kepada marga Sirait agar sudi menjadi walinya.
Dengan alasan itu, Mardiyanti br Hutahaean rela hanya diberkati (tarpasupasu) di gereja. Pernikahan keduanya tidak dirangkai acara adat Batak. Usai pemberkatan, warga mulai mengkalkulasikan biaya. Dan, biaya pernikahan mencapai Rp5 juta.
Karena tidak ada uang, Minggu (13/11), Rosdiana br Sagala minta izin pulang ke Sidikalang untuk meminta uang dari keluarganya. Sementara Mardiyanti br Hutahaean yang menyamar sebagai pengantin pria tinggal di rumah marga Sirait, yang menjadi wali pernikahan mereka. Namun ditunggu-tunggu hingga Senin (14/11), pengantin perempuan tidak kunjung kembali ke Parmaksian. Lalu kepala desa mengambil tindakan dengan melaporkan kejadian itu ke Polmas. Dan Polmas melaporkannya ke Polsek Porsea.
Sementara Kepala Desa Dolok Nauli P Sirait menerangkan, awal peristiwa ini terungkap, ketika biaya pernikahan sebesar Rp5 juta yang dipinjam kedua mempelai dari keluarga marga Sirait tidak kunjung dibayar.
Padahal, marga Sirait sudah berbaik hati mau menjadi wali dari pihak laki-laki pada pernikahan tersebut. Sebelumnya pasangan ini sudah berjanji akan melunaskannya.
Dipaparkannya, saat itu, marga Sirait memberi waktu agar keduanya melunasi utang. Bahkan, kalung kedua pasangan ini sempat ditahan. Setelah diperiksa, ternyata kalung itu bukan emas, melainkan imitasi. (mag-03)
Pendeta HKI Mengaku Kecolongan
Pendeta HKI Parmaksian J Naibaho ketika dikonfirmasi di kediamannya terkait per kawinan sejenis tersebut, mengatakan awalnya dia tidak tahu.
“Saya sebelumnya tidak tahu, karena kapasitas saya dalam hal ini hanya sebagai memberkati pengantin saja. Soal urusan adminstrasi itu urusan voorhanger (guru Huria) atau pangula huria,” katanya.
Pendeta mengakui pihaknya dalam hal ini sudah kecolongan, namun sebelumnya pihak gereja sudah meminta segala adminsitrasi yang berhubungan dengan pernikahan itu. “Kalau administrasi Rosdiana boru Sagala itu memang ada, tapi administrasi dari pengantin laki-laki (Mardiyanti br Hutahean, red) itu gak ada,” terang Naibaho.
Namun, lanjut pendeta, karena pengantin laki-lakinya dijamini Op Maruhup (Pak Lehu, red) sehingga pengurus gereja ketika itu menerimanya untuk dinikahkan.
Dikatakan pendeta, persoalan ini akan mereka selesaikan bersama-sama dengan pihak kepolisian. “Jika ada niat kepolisian untuk menyelesaikan persoalan ini, kami sambut dengan baik,” ujarnya.
Seperti Dihipnotis
Sementara Pengurus Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Pusat, Praeses, dan pendeta mengaku terkecoh ketika mengetahui ada pernikahan sejenis yang diberkati di HKI. Karenanya, pendeta HKI Parmaksian, Tobasa, diperintahkan membuat pengaduan ke Polres Tobasa.
Demikian diungkapkan Praeses Daerah III HKI Tobasa, Pdt Togar Aruan STh, Selasa (15/11). Ia mengatakan, telah mengadukan peristiwa tersebut ke Polres Tobasa supaya diproses sesuai hukum berlaku. Selain gereja, katanya, marga Sirait yang menjadi wali pernikahan juga tertipu, termasuk pendeta yang memberkati pernikahan. Togar mengaku, pengurus gereja merasa dikibuli. Pihak gereja pun, sambungnya, telah mencabut akta pernikahan yang sudah sempat dikeluarkan.
Kata Togar, sejak awal proses pernikahan, masyarakat dan wali pernikahan serta pengurus gereja seperti terhipnotis.
“Seyogianya, proses administrasi pernikahan di HKI harus melengkapi surat baptis, surat sidi, dan surat keterangan dari gereja asal. Dari ketiga syarat itu, mereka tidak melengkapinya. Namun proses pernikahan tetap berlangsung. Kami seperti orang yang terhipnotis,” bebernya.
Sambung Togar, selain melengkapi ketiga surat tersebut, biasanya dilakukan pewartaan di gereja dalam dua minggu. Tujuannya, apakah ada pihak yang keberatan atas pernikahan tersebut.
“Sudah dua kali kami wartakan pernikahan itu di gereja. Namun, tidak ada yang keberatan. Artinya, tak satu pun yang mengetahui mereka itu sejenis, yakni sama-sama perempuan,” ucapnya.
Katanya, kejadian yang pertama kali terjadi di Gereja HKI ini, adalah penipuan gaya baru. Perlu diwaspadai, dan harus menjadi pembelajaran.
“Bagi kami ini pembelajaran. Ke depan kami bisa lebih berhati-hati supaya kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya
Sementara Bishop HKI Pdt.DR Langsung Sitorus MTh melalui Kabiro Hukum St Raja PS Janter Aruan SH sangat menyesalkan kejadian tersebut. Diharapkan, ke depannya pengurus HKI lebih waspada dan bekerja profesional.
Pihak gereja atau pengurus HKI pusat, kata Janter, tidak memberikan saksi kepada pendeta atau praeses. Sebab kejadian itu peristiwa kecelakaan. Pihak gereja hanya memberikan pembinaan kepada pengurus dan pendeta di HKI Parmaksian. “Kalau dilihat dari perwajahan Boru Hutahaean yang mengaku marga Sirait, tidak beda dengan laki-laki biasanya. Orangnya macho. Sedangkan dadanya tidak menunjukkan dada perempuan. Karena dipress sehingga tidak nampak. Selain gereja yang tertipu, wali pernikahannya yang sudah berusia 90-an tahun juga ikut tertipu,” tukas Janter. (mag-03/osi/awa)
Dijerat Kasus Penipuan
Kapolres Tobasa AKBP Budi Suherman ketika dikonfirmasi mengatakan, perkawinan sejenis ini terbongkar awalnya dari laporan warga yang mengadukan tersangka karena tidak mau membayar segala pengeluaran pesta perkawinannya.
Saat itulah timbul kecurigaan, ternyata status tersangka adalah perempuan. Jadi pihaknya sejak kemarin sudah menahan tersangka (Mardiyanti br Hutahean, red), sedangkan mempelai wanitanya ( boru Sagala) sedang buron. “Kita saat ini sedang mengejar tersangka yang satu lagi ke daerah Sidikalang,” sebut Budi Seherman. Akibat perbuatan tersangka, kata Kapolres, mereka dijerat Pasal 378 tentang Penipuan dengan hukuman maksimal 4 tahun penjara. (Metro/mag-3)

About these ads

1 Komentar (+add yours?)

  1. Hendra Napitupulu
    Nov 16, 2011 @ 06:20:40

    Aneh…ada2 az…..

Berikan Saran atau Informasi anda pada Situs Nababan ini ....terimakasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Julienaba2n's Blog

Just another WordPress.com weblog

Patar Nababan

Jadikan Hidup Anda Berarti

Generasi Nababan

Berbagi Tips, Motivasi, Info dan Adat Istiadat Nababan, Berita dan Bisnis Online

veronik4nababan

The greatest WordPress.com site in all the land!

Matt on Not-WordPress

Stuff and things.

SMK NEGERI 1 MUARA TAPANULI UTARA

*** Visi : " Mencerdaskan anak bangsa secara utuh berdasarkan tujuan pendidikan nasional". *** *** Misi : " Menciptakan lulusan yang unggul, berbudaya, produktif, profesional, siap kerja dan berjiwa enterpreneurship". ***

SMK 1 HKBP SIPOHOLON TAPANULI UTARA

" Mencerdaskan anak bangsa secara utuh berdasarkan kasih Kristus (Indonesia)"

nickoai

Photography and Articles

BORSAK MANGATASI NABABAN

"HORAS MARTONGGO TOE OPPOENG MOELADJADI NABOLON, ASA DONGANI AHOE DIDJOLO, DONGANI AHOE DI POEDI ASA TALOE AHOE MARALOHON DONGAN, MONANG MARALOHON MOESOE, ASA TABOE-TABOE SITARAPOELLANG SIANI DALANNA RO TOESI DALAN NASOEMOEANG", Alamat Redaksi : PH3 (Par-Huta Huta Hian) Paranjoan, Lumbantongatonga, Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40.620 pengikut lainnya.